Burgo: Perbedaan antara revisi
Eko.prastio (bicara | kontrib) kTidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (5 revisi perantara oleh satu pengguna lainnya tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[Berkas:Burgo.png|jmpl|[https://www.detiksumsel.com/kuliner-wisata/97413114450/resep-burgo-makanan-asli-palembang-bebentuk-dadar-yang-digulung Burgo] dengan kuah]] | [[Berkas:Burgo.png|jmpl|[https://www.detiksumsel.com/kuliner-wisata/97413114450/resep-burgo-makanan-asli-palembang-bebentuk-dadar-yang-digulung Burgo] dengan kuah]]Burgo merupakan salah satu makanan khas Palembang yang berbahan dasar tepung [[beras]]. Makanan ini cukup digemari oleh masyarakat setempat karena sering dijadikan menu sarapan, sekaligus hidangan pada momen tertentu seperti hari-hari besar. Burgo dibuat dari campuran tepung beras dan [[Tepung Ketan|tepung]] kanji, kemudian disajikan dengan kuah santan yang sedikit kental sehingga menghasilkan cita rasa gurih dan asin.<ref>Oktaviani, R. R., & Syarifuddin, S. (2024). Eksistensi Keberagaman Jajanan Pagi Masyarakat Palembang. ''Danadyaksa Historica'', ''4''(1), 85-92.</ref> | ||
Secara tampilan, burgo berwarna putih dengan tekstur lembut. Adonannya dibentuk menjadi lembaran tipis yang digulung memanjang, lalu dipotong-potong dan disiram kuah santan. Selain bentuk gulungan, burgo juga ada yang disajikan menyerupai lontong sayur. | |||
== asal usul dan sejarah burgo == | |||
* Awal Mula: Kuliner ini tercipta dari adaptasi budaya kuliner lokal. Sebelum beras populer, masyarakat Palembang lebih banyak mengonsumsi [[sagu]]. Masuknya beras pada abad ke-17 membuat masyarakat mulai mengolahnya menjadi berbagai penganan, salah satunya burgo. | |||
* Filosofi: Burgo mencerminkan konsistensi dan kesabaran karena proses pembuatan adonan yang digulung satu per satu serta pembuatan kuah yang memerlukan ketelitian memisahkan daging ikan dari tulangnya. | |||
* Tradisi: Umumnya disajikan sebagai sarapan, hidangan berbuka puasa, atau menu khas pada perayaan tertentu. | |||
== '''Bahan-bahan''' == | == '''Bahan-bahan''' == | ||
| Baris 5: | Baris 13: | ||
# 120 g tepung beras | # 120 g tepung beras | ||
# 200 ml air panas | # 200 ml [[Air Jagung Manis|air]] panas | ||
# 200 ml air biasa | # 200 ml air biasa | ||
# 30 g tepung tapioka | # 30 g [[Tepung Ketan|tepung]] tapioka | ||
# ½ sdt garam | # ½ sdt garam | ||
| Baris 14: | Baris 22: | ||
# 500 ml santan kental | # 500 ml santan kental | ||
# 2 sdm udang rebon yang sudah digoreng | # 2 sdm udang rebon yang sudah digoreng | ||
# 2 ruas lengkuas | # 2 ruas [[lengkuas]] | ||
# 1 batang serai | # 1 batang serai | ||
# 2 lembar daun jeruk | # 2 lembar daun jeruk | ||
| Baris 27: | Baris 35: | ||
# 5 siung bawang merah | # 5 siung bawang merah | ||
# 2 siung bawang putih | # 2 siung bawang putih | ||
# 2 butir kemiri | # 2 butir [[kemiri]] | ||
# 1 sdt merica yang sudah dihaluskan | # 1 sdt merica yang sudah dihaluskan | ||
# 1 ruas kunyit | # 1 ruas [[kunyit]] | ||
# 1 ruas jahe | # 1 ruas [[jahe]] | ||
# 1 sdt ketumbar sangrai | # 1 sdt ketumbar sangrai | ||
Revisi terkini sejak 11 April 2026 19.41

Burgo merupakan salah satu makanan khas Palembang yang berbahan dasar tepung beras. Makanan ini cukup digemari oleh masyarakat setempat karena sering dijadikan menu sarapan, sekaligus hidangan pada momen tertentu seperti hari-hari besar. Burgo dibuat dari campuran tepung beras dan tepung kanji, kemudian disajikan dengan kuah santan yang sedikit kental sehingga menghasilkan cita rasa gurih dan asin.[1]
Secara tampilan, burgo berwarna putih dengan tekstur lembut. Adonannya dibentuk menjadi lembaran tipis yang digulung memanjang, lalu dipotong-potong dan disiram kuah santan. Selain bentuk gulungan, burgo juga ada yang disajikan menyerupai lontong sayur.
asal usul dan sejarah burgo
- Awal Mula: Kuliner ini tercipta dari adaptasi budaya kuliner lokal. Sebelum beras populer, masyarakat Palembang lebih banyak mengonsumsi sagu. Masuknya beras pada abad ke-17 membuat masyarakat mulai mengolahnya menjadi berbagai penganan, salah satunya burgo.
- Filosofi: Burgo mencerminkan konsistensi dan kesabaran karena proses pembuatan adonan yang digulung satu per satu serta pembuatan kuah yang memerlukan ketelitian memisahkan daging ikan dari tulangnya.
- Tradisi: Umumnya disajikan sebagai sarapan, hidangan berbuka puasa, atau menu khas pada perayaan tertentu.
Bahan-bahan
Adonan Burgo:
Kuah:
- 500 ml santan kental
- 2 sdm udang rebon yang sudah digoreng
- 2 ruas lengkuas
- 1 batang serai
- 2 lembar daun jeruk
- 2 lembar daun salam
- Air secukupnya
- Gula
- Garam
- Kaldu bubuk
Bumbu Halus:
- 5 siung bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 2 butir kemiri
- 1 sdt merica yang sudah dihaluskan
- 1 ruas kunyit
- 1 ruas jahe
- 1 sdt ketumbar sangrai
Topping:
- Telur rebus
- Bawang goreng
- Sambal
Cara Pembuatan
Adonan Dadar Gulung:
- Campurkan tepung beras, tapioka, dan garam ke dalam wadah.
- Tuangkan air mendidih kemudian aduk rata. Tambahkan air dingin sedikit demi sedikit agar adonan tidak terlalu kental dan teksturnya tidak bergerindil.
- Siapkan loyang yang sudah diolesi minyak, kemudian tuang adonan tipis lalu ratakan. Kukus hingga matang selama 5 menit.
- Jika adonan sudah matang, angkat dan keluarkan dari loyang. Lakukan 4 poin tersebut secara berulang.
- Jika semua adonan sudah matang maka keluarkan adonan dari loyang kemudian gulung berbentuk dadar gulung dan potong-potong.
Kuah:
- Tumis bumbu halus hingga harum.
- Masukkan udang rebon, daun jeruk, daun salam, dan lengkuas. Kemudian masak hingga matang.
- Tuang santan, tambahkan juga garam, gula, dan kaldu bubuk secukupnya.
- Masak hingga matang dan tes rasa, jika rasa sudah pas, angkat dan siap disajikan.
Sajikan potongan dadar gulung di dalam mangkuk, lalu tuangkan kuah santan dan topping sesuai selera seperti telur rebus, bawang goreng, sambal (opsional). Burgo siap dinikmati. Burgo sangat cocok disajikan dalam keadaan panas dan dijadikan hidangan untuk sarapan maupun menjadi menu untuk berbuka puasa.
Reference
- sumber foto burgo : https://www.detiksumsel.com/kuliner-wisata/97413114450/resep-burgo-makanan-asli-palembang-bebentuk-dadar-yang-digulung
- ↑ Oktaviani, R. R., & Syarifuddin, S. (2024). Eksistensi Keberagaman Jajanan Pagi Masyarakat Palembang. Danadyaksa Historica, 4(1), 85-92.
