Kambewe
Kambewe adalah kudapan musiman berbahan dasar jagung muda (Zea mays) yang berasal dari tradisi kuliner masyarakat Buton, Muna, dan Buton Tengah di Sulawesi Tenggara. Berbeda dengan Kambuse (jagung rebus pipil) yang butirannya utuh, Kambewe diolah dengan cara diparut atau digiling hingga menjadi adonan pasta, dicampur dengan kelapa dan gula merah, lalu dikukus dalam balutan kulit jagung (klobot).
Karena bahan utamanya yang spesifik—yakni jagung yang masih muda dan berair—Kambewe tidak tersedia sepanjang tahun. Ia adalah kuliner "edisi terbatas" yang hanya muncul meriah saat musim panen jagung tiba.
Filosofis: Edisi Terbatas Musim Panen
Kehadiran Kambewe dalam siklus pertanian masyarakat Buton dan Muna memiliki makna perayaan. Ia adalah simbol transisi panen. Jika jagung tua biasanya dikeringkan untuk disimpan sebagai cadangan pangan pokok (disimpan di lumbung), maka jagung muda dinikmati segera sebagai bentuk rasa syukur instan (immediate gratification) para petani.
Secara kultural, Kambewe memiliki dua wajah:
- Sebagai Kudapan (Kue): Diolah dengan gula merah menjadi manis, disajikan sebagai teman minum teh atau suguhan tamu saat pesta panen.
- Sebagai Makanan Pokok: Dalam versi yang lebih tua (tanpa gula, hanya garam dan bawang), Kambewe gurih sering disantap sebagai pengganti nasi atau Kasuami, dimakan bersama lauk ikan kuah Parende dan sambal terasi.
Karakteristik Rasa
Kambewe menawarkan sensasi rasa yang sangat alamiah:
- Aroma: Wangi uap jagung yang bercampur dengan aroma earthy (langu yang sedap) dari kulit jagung pembungkusnya sangat dominan saat baru keluar dari kukusan.
- Tekstur: Lembut namun padat. Tidak sehalus puding, karena serat-serat jagung parut masih terasa di lidah (gritty), memberikan tekstur yang khas.
- Rasa: Manis legit yang tidak berlebihan. Rasa manis datang dari perpaduan sari pati jagung muda dan gula merah, diimbangi oleh rasa gurih (creamy) dari parutan kelapa muda.
Bahan dan Proses Pembuatan
Resep berikut adalah untuk varian Kue Kambewe Manis yang umum dijadikan oleh-oleh atau jajanan pasar.
Bahan Utama
- 10-12 buah Jagung Muda (pilih yang bijinya masih mengeluarkan susu/air bila dipencet).
- 1/2 butir Kelapa Muda (parut memanjang).
- 200 gram Gula Merah (sisir halus).
- 1 sdt Garam.
- Kulit Jagung (Klobot) utuh yang sudah dicuci bersih untuk membungkus.
Langkah Pengolahan
- Persiapan Jagung: Kupas jagung secara hati-hati agar kulitnya (klobot) tetap utuh dan lebar. Sisihkan kulitnya untuk pembungkus. Bersihkan rambut jagung hingga tuntas.
- Penghalusan (Grinding):
- Cara Tradisional: Jagung diserut lalu ditumbuk dalam lesung kayu hingga hancur namun tidak sampai menjadi bubur cair.
- Cara Modern: Jagung disisir lalu diblender kasar (pulse) atau diparut. Pastikan teksturnya masih agak kasar.
- Pencampuran (Mixing): Dalam wadah besar, campurkan jagung halus, kelapa parut, irisan gula merah, dan garam. Aduk menggunakan tangan hingga gula merah larut dan menyatu dengan adonan jagung. Koreksi rasa manisnya.
- Pembungkusan (Wrapping): Ambil 2-3 sendok makan adonan. Letakkan di tengah selembar kulit jagung. Lipat sisi kanan dan kiri ke tengah, lalu lipat bagian bawah dan atasnya hingga membentuk paket persegi panjang yang rapat (mirip membungkus Nagasari atau Lepet Jagung).
- Pengukusan: Susun Kambewe dalam dandang panas. Kukus selama 30–45 menit dengan api sedang. Tanda matangnya adalah ketika kulit jagung berubah warna menjadi layu kekuningan dan aroma manis mulai menguar kuat.
- Penyajian: Angkat dan dinginkan sejenak. Kambewe paling nikmat disantap saat hangat.
Referensi
- RRI Baubau. (2025). Kambewe, Kue Jagung Muda Khas Buton. Radio Republik Indonesia.
- Telisik.id. (2024). Kambewe Makanan Lokal Sultra, Diolah saat Panen Jagung.
- Budaya Indonesia. (2017). Kambewe: Warisan Kuliner Buton. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia.
