Bubur manado
Bubur Manado atau Tinutuan ialah makanan khas dari Kota Manado, Sulawesi Utara. Makanan ini cukup populer dikalangan masyarakat Indonesia pada umumnya karena makanan ini sudah banyak dijadikan menu di berbagai restoran atau rumah makan di seluruh Indonesia sehingga masyarakat pada umumnya di Indonesia tidak asing dengan santapan yang berasal dari Sulawesi Utara ini. Makanan ini berbahan dasar beras, labu kuning, jagung manis, singkong atau ubi jalar, bayam, kangkung, daun gedi, daun kemangi, daun bawang dan dilengkapi dengan bumbu yang terdiri dari serai, daun kunyit, jahe, garam dan kaldu jamur sehingga memberi rasa gurih pada makanan ini. Makanan ini juga memiliki bahan pendamping seperti ikan asin, sambel, tempe atau tahu goreng dan bawang goreng sehingga memberi kenikmatan yang khas pada makanan ini. Makanan ini tidak hanya memiliki rasa yang lezat dan citi rasa yang khas, akan tetapi makanan ini kaya akan gizi seperti protein, karbohidrat, energi, kalsium, vitamin A dan kandungan gizi lainnya sehingga makanan ini tidak hanya lezat tetapi juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Makanan ini sangat cocok untuk dijadikan santapan sehari-hari, acara syukuran dan acara keluarga sehingga makanan ini jauh lebih nikmat jika dinikmati bersama-sama.

Budaya
Bubur Manado alias Tinutuan muncul pada zaman tanam paksa Belanda di awal tahun 1900-am, tepatnya di Minahasa, Sulawesi Utara. Saat itu harga beras sangat mahal, daging dan tahu susah untuk dicari, dan perang membuat orang-orang merasa takut untuk keluar mencari makan. Akhirnya, masyarakat mengandalkan sayur-sayuran dari kebun belakang rumah seperti labu kuning, jagung, bayam, kangkung, dan ubi jalar, dicampur sedikit beras agar kenyang. Dari makanan darurat yang ala kadarnya bisa menjadi makanan ikonik sampai sekarang.
Filosofi
Nama "Tinutuan" sendiri berasal dari bahasa lokal Minahasa "tu'tu" yang artinya nasi, tetapi dicampur dengan sayur segar yang mengingatkan tentang harmoni manusia dan alam yang subur. Bubur Manado atau Tinutuan mewakili harmoni alam dan kebersamaan orang Minahasa. Sayur warna-warni seperti labu kuning, jagung, serta sayur-sayuran hijau menunjukkan keberagaman suku yang di Minahasa yang hidup berdampingan, dari berbagai latar belakang budaya dan agama, tetapi tetap hidup dengan damai. Bubur ini juga menjadi simbol utama gotong royong yang menunjukkan kalau kebersamaan bisa mengalahkan krisisnya masa kelam pada zaman tanam paksa Belanda.[1]
Bahan
- Bawang Putih
- Daun salam
- Serai geprek
- Penyedap
- 200 gram beras
- 1 labu kuning potong dadu
- 1 jagung muda pipil
- Segenggam sayur bayam/kangkung/gedi
- 1 liter santan cair
- 500ml santan kental
- Pendamping (ikan asin goreng, sambal roa, atau perkedel jagung)
Cara Membuat
- Rebus beras bersama sayur keras (labu dan jagung), bumbu penyedap, dan santai cair sekitar 30-40 menit.
- Tambahkan sayur-sayuran hijau bersama santan kental, aduk pelan agar santan tidak pecah, lalu masak selama 10 menit hingga pekat.
- Sajikan saat panas dan sajikan bersama makanan pendamping.[2]
Kandungan Gizi
| Nutrisi | Jumlah | Manfaatnya Apa |
|---|---|---|
| Energi | 156 kalori | Bikin tenaga seharian |
| Protein | 2,3 gram | Bantu tumbuh kembang |
| Lemak | 0,2 gram | Ringan buat perut |
| Karbohidrat | 15,6 gram | Energi stabil lama |
| Serat | 8,2 gram | Memperlancar pencernaan |
| Vitamin C | 15 mg | Jaga imun dan kulit |
| Kalsium | 41 mg | Kuatin tulang |
| Kalium | 164 mg | Normalin tekanan darah |
| Fosfor | 20 mg | Dukung sel tubuh |
Referensi
[1] https://budaya-indonesia.org/bubur-manado
[2] https://bebeclub.co.id/artikel/resep/1-tahun/bubur-manado
