Baje Kacang

Baje' Kacang adalah kudapan tradisional khas Sulawesi Selatan yang berbahan dasar perpaduan kacang tanah, gula merah, dan beras ketan. Panganan ini sangat identik dengan wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep, di mana para pedagang sering menjajakannya di sepanjang jalan poros provinsi. Berbeda dengan baje' klasik yang didominasi rasa manis legit, Baje' Kacang menonjolkan tekstur yang renyah (crunchy) dan rasa gurih yang berasal dari kacang tanah sangrai.
Makna Budaya dan Ekonomi
Baje' Kacang memiliki peran penting dalam ekonomi kreatif masyarakat pesisir dan pedesaan di Sulawesi Selatan. Kudapan ini menjadi salah satu ikon oleh-oleh utama bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan karst Rammang-Rammang atau Taman Nasional Bantimurung.
Secara tradisi, Baje' Kacang mencerminkan kearifan lokal dalam mengawetkan hasil bumi. Kacang tanah dan gula merah yang dimasak hingga mengental menjadikannya awet secara alami tanpa bahan pengawet kimia, sehingga dahulu sering dijadikan bekal perjalanan jauh oleh masyarakat setempat.
Kandungan Gizi
Baje' Kacang merupakan camilan padat energi yang kaya akan nutrisi dari biji-bijian:
- Protein Nabati: Kandungan kacang tanah yang tinggi menjadikannya sumber protein yang baik.
- Lemak Sehat: Mengandung lemak tak jenuh dari kacang tanah yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.
- Energi: Gula merah/aren memberikan asupan energi instan (glukosa alami).
- Mineral: Mengandung fosfor, magnesium, dan zat besi yang berasal dari gula merah asli.
Bahan dan Alat
Bahan Utama
- 500 gram Kacang tanah (pilih biji kecil/lokal, sangrai, dan kupas kulit arinya).
- 250 gram Beras ketan (sangrai hingga mekar/menjadi pulu' sanggara).
- 400 gram Gula merah atau Gula aren (kualitas baik agar tidak pahit).
- 150 ml Santan kental atau air.
- Sedikit jahe emprit (parut dan ambil airnya untuk aroma hangat).
- Daun pisang kering atau plastik kemasan.
Alat
- Wajan besar atau kuali.
- Pengaduk kayu (spatula).
- Tampah (untuk memisahkan kulit kacang).
Cara Pengolahan
- Persiapan Kacang: Sangrai kacang tanah hingga matang merata, dinginkan, lalu remas-remas untuk membuang kulit arinya. Sebagian kacang bisa ditumbuk kasar agar lebih menyatu dengan adonan.
- Persiapan Ketan: Beras ketan disangrai (goreng tanpa minyak) hingga berubah warna kecokelatan dan aromanya harum, lalu sisihkan.
- Memasak Karamel: Rebus gula merah dengan air atau santan. Tambahkan air jahe dan sedikit garam. Masak hingga mendidih dan cairan mengental (berambut/berserat saat diangkat).
- Pencampuran: Masukkan kacang tanah sangrai dan ketan sangrai ke dalam rebusan gula. Aduk dengan cepat agar bumbu merata ke seluruh permukaan kacang.
- Pembentukan: Dalam keadaan panas, ambil satu sendok adonan, letakkan di atas daun pisang kering atau wadah cetak, lalu tekan-tekan hingga padat. Jika dibiarkan dingin di wajan, adonan akan mengeras dan sulit dibentuk.
- Penyimpanan: Setelah dingin dan benar-benar mengeras, simpan dalam wadah kedap udara.
Referensi
- Profil Kuliner Tradisional Kabupaten Maros dan Pangkep, Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan.
- Katalog Pangan Lokal Nusantara, Kementerian Pertanian RI.
- Studi Nutrisi Camilan Tradisional Berbasis Kacang-kacangan, Penelitian Teknologi Pangan UNHAS.
Bahan:
- Kacang Tanah yang sudah di buka kulitnya ½ kg
- Gula merah ½ kg
- Air secukupnya
Cara membuat:
- Kacang tanah digoreng tanpa minyak hingga matang. Setelah kacang matang, kulit arinya dikelupas dan ditapi hingga kacang bersih
- Gula merah dimasak dengan air secukupnya dengan menggunakan wajan atau pamuttu (Bahasa Bugis).
- Saat gula sudah masak, api dikecilkan. Kemudian kacang yang sudah bersih dimasukkan. Dijerang dengan api kecil sambil terus diaduk – aduk hingga merata dan warnanya kekuningan.
- Wadah yang datar dan lebar disiapkan. Dialasi dengan plastic yang sudah diolesi minyak (agar tidak lengket) Adonan tersebut tenteng dituang berbentuk bundar atau sesuai selera. Dan diamkan beberapa saat agar dingin[1].
