Bale Buta: Perbedaan antara revisi
Eko.prastio (bicara | kontrib) kTidak ada ringkasan suntingan |
Abdul.rizal (bicara | kontrib) Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Bale | [[Berkas:Bale Buta.jpg|jmpl|359x359px|Bale Buta di acara nikahan]] | ||
'''Bale Buta''' secara harfiah berarti "Ikan Buta" dalam bahasa [[Bugis]] atau sering juga dikenal dengan nama '''Tompi-tompi''', adalah kudapan lauk tradisional khas masyarakat Bugis di [[Sulawesi Selatan]]. Makanan ini sejatinya adalah olahan daging ikan yang disuwir atau ditumbuk halus, dicampur dengan [[kelapa]] sangrai dan rempah, lalu dibentuk segitiga atau jajar genjang dan digoreng. | |||
Berbeda dengan [[Otak-otak]] yang dibungkus daun, Bale Buta tampak dengan kulit luar yang garing kecokelatan. Kehadirannya sangat lekat dengan ritual daur hidup; ia adalah menu wajib dalam baki hantaran atau sering disebut ''Bosara'' pada acara [[Aqiqah]], [[Khatam Al-Qur'an]], hingga resepsi pernikahan adat Bugis. | |||
Bale | |||
== | == Filosofi dan Etimologi == | ||
Penamaan "Bale Buta" menyimpan makna metaforis yang jenaka. Dalam bahasa Bugis, ''Bale'' berarti ikan dan ''Buta'' berarti buta. Dinamakan demikian karena dalam penyajiannya, wujud asli ikan termasuk mata dan kepalanya sudah tidak terlihat lagi—telah "dibutakan" atau disembunyikan dalam bentuk adonan geometris yang rapi. | |||
Bentuknya yang sering kali segitiga atau menyerupai atap rumah (limas pipih) juga sering dimaknai sebagai simbol perlindungan dan keseimbangan dalam rumah tangga (jika disajikan saat pernikahan). | |||
== Karakteristik Rasa == | |||
Bale Buta menawarkan sensasi makan ikan tanpa "gangguan" duri: | |||
* '''Tekstur:''' Bagian luarnya renyah karena proses penggorengan ''deep fry'', sementara bagian dalamnya padat namun lembut, mirip perkedel namun lebih berserat daging. | |||
* '''Rasa:''' Dominasi rasa gurih dari ikan laut segar berpadu dengan manis-gurih dari kelapa sangrai dan aroma bawang putih yang kuat. | |||
* '''Aroma:''' Wangi rempah goreng yang menyengat, bebas dari bau amis karena penggunaan rempah peredam seperti merica dan bawang. | |||
== Bahan dan Proses Pembuatan == | |||
Kunci kenikmatan Bale Buta terletak pada rasio daging ikan dan kelapa, serta teknik pembentukan yang padat agar tidak ambyar saat digoreng. | |||
=== Bahan Utama === | |||
* 500 gram Daging Ikan (biasanya [[Ikan Cakalang]], [[Ikan Tuna]], atau [[Ikan Bandeng]] yang sudah dikukus dan dibuang durinya). | |||
* 1/2 butir Kelapa setengah tua (parut, lalu sangrai sebentar hingga wangi/kering). | |||
* 1 butir Telur Ayam (sebagai pengikat/perekat). | |||
* Minyak Goreng secukupnya. | |||
=== Bumbu Halus === | |||
* 5 siung [[Bawang Merah]]. | |||
* 3 siung Bawang Putih. | |||
* 1 sdt Merica butiran (Lada). | |||
* Garam dan Penyedap rasa secukupnya. | |||
=== Langkah Pengolahan === | |||
# '''Persiapan Ikan:''' Kukus ikan hingga matang. Pisahkan daging dari duri dan kulitnya. Tumbuk daging ikan (atau suwir sangat halus) hingga teksturnya terurai lembut. | |||
# '''Pencampuran:''' Dalam wadah besar, campurkan daging ikan tumbuk, kelapa parut sangrai, dan bumbu halus. Aduk rata. Masukkan [[telur ayam]], lalu uleni adonan hingga menyatu dan bisa dipadatkan (kalis). | |||
# '''Pembentukan:''' | |||
#* Ambil sejumput adonan (sekitar 30-40 gram). | |||
#* Padatkan di telapak tangan, lalu bentuk menjadi **segitiga pipih** atau persegi panjang sesuai selera adat setempat. Pastikan permukaannya mulus dan padat agar tidak menyerap minyak berlebih. | |||
# '''Penggorengan:''' Panaskan minyak dengan api sedang. Goreng Bale Buta hingga berubah warna menjadi cokelat keemasan (''golden brown'') dan kulit luarnya terasa keras/garing saat diketuk sodet. | |||
# '''Penyajian:''' Angkat dan tiriskan. Bale Buta bisa dimakan sebagai lauk pendamping [[Buras]] atau dimakan begitu saja sebagai camilan (kue). | |||
== Referensi == | |||
<references /> | <references /> | ||
* Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan. (2024). ''Kuliner Ritual Bugis: Simbol dan Makna''. Makassar. | |||
* Nusantara Food Biodiversity. (2026). ''[https://nusantarafoodbiodiversity.org/data/mh3pwdmqregfjj4 Bale Buta: Tempa-tempa Khas Bugis]''. | |||
[[Kategori:Makanan Tradisional]] | |||
[[Kategori:Olahan Ikan]] | |||
[[Kategori:Makanan Ritual]] | |||
[[Kategori:Bugis]] | |||
[[Kategori:Sulawesi Selatan]] | [[Kategori:Sulawesi Selatan]] | ||
[[Kategori: | [[Kategori:Lauk Pauk]] | ||
Revisi terkini sejak 7 Februari 2026 14.12

Bale Buta secara harfiah berarti "Ikan Buta" dalam bahasa Bugis atau sering juga dikenal dengan nama Tompi-tompi, adalah kudapan lauk tradisional khas masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Makanan ini sejatinya adalah olahan daging ikan yang disuwir atau ditumbuk halus, dicampur dengan kelapa sangrai dan rempah, lalu dibentuk segitiga atau jajar genjang dan digoreng.
Berbeda dengan Otak-otak yang dibungkus daun, Bale Buta tampak dengan kulit luar yang garing kecokelatan. Kehadirannya sangat lekat dengan ritual daur hidup; ia adalah menu wajib dalam baki hantaran atau sering disebut Bosara pada acara Aqiqah, Khatam Al-Qur'an, hingga resepsi pernikahan adat Bugis.
Filosofi dan Etimologi
Penamaan "Bale Buta" menyimpan makna metaforis yang jenaka. Dalam bahasa Bugis, Bale berarti ikan dan Buta berarti buta. Dinamakan demikian karena dalam penyajiannya, wujud asli ikan termasuk mata dan kepalanya sudah tidak terlihat lagi—telah "dibutakan" atau disembunyikan dalam bentuk adonan geometris yang rapi.
Bentuknya yang sering kali segitiga atau menyerupai atap rumah (limas pipih) juga sering dimaknai sebagai simbol perlindungan dan keseimbangan dalam rumah tangga (jika disajikan saat pernikahan).
Karakteristik Rasa
Bale Buta menawarkan sensasi makan ikan tanpa "gangguan" duri:
- Tekstur: Bagian luarnya renyah karena proses penggorengan deep fry, sementara bagian dalamnya padat namun lembut, mirip perkedel namun lebih berserat daging.
- Rasa: Dominasi rasa gurih dari ikan laut segar berpadu dengan manis-gurih dari kelapa sangrai dan aroma bawang putih yang kuat.
- Aroma: Wangi rempah goreng yang menyengat, bebas dari bau amis karena penggunaan rempah peredam seperti merica dan bawang.
Bahan dan Proses Pembuatan
Kunci kenikmatan Bale Buta terletak pada rasio daging ikan dan kelapa, serta teknik pembentukan yang padat agar tidak ambyar saat digoreng.
Bahan Utama
- 500 gram Daging Ikan (biasanya Ikan Cakalang, Ikan Tuna, atau Ikan Bandeng yang sudah dikukus dan dibuang durinya).
- 1/2 butir Kelapa setengah tua (parut, lalu sangrai sebentar hingga wangi/kering).
- 1 butir Telur Ayam (sebagai pengikat/perekat).
- Minyak Goreng secukupnya.
Bumbu Halus
- 5 siung Bawang Merah.
- 3 siung Bawang Putih.
- 1 sdt Merica butiran (Lada).
- Garam dan Penyedap rasa secukupnya.
Langkah Pengolahan
- Persiapan Ikan: Kukus ikan hingga matang. Pisahkan daging dari duri dan kulitnya. Tumbuk daging ikan (atau suwir sangat halus) hingga teksturnya terurai lembut.
- Pencampuran: Dalam wadah besar, campurkan daging ikan tumbuk, kelapa parut sangrai, dan bumbu halus. Aduk rata. Masukkan telur ayam, lalu uleni adonan hingga menyatu dan bisa dipadatkan (kalis).
- Pembentukan:
- Ambil sejumput adonan (sekitar 30-40 gram).
- Padatkan di telapak tangan, lalu bentuk menjadi **segitiga pipih** atau persegi panjang sesuai selera adat setempat. Pastikan permukaannya mulus dan padat agar tidak menyerap minyak berlebih.
- Penggorengan: Panaskan minyak dengan api sedang. Goreng Bale Buta hingga berubah warna menjadi cokelat keemasan (golden brown) dan kulit luarnya terasa keras/garing saat diketuk sodet.
- Penyajian: Angkat dan tiriskan. Bale Buta bisa dimakan sebagai lauk pendamping Buras atau dimakan begitu saja sebagai camilan (kue).
Referensi
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan. (2024). Kuliner Ritual Bugis: Simbol dan Makna. Makassar.
- Nusantara Food Biodiversity. (2026). Bale Buta: Tempa-tempa Khas Bugis.
