Tiwul

Dari WikiPangan

Sejarah

Tiwul
Tiwul

Tiwul memiliki sejarah yang erat dengan masa sulit bangsa Indonesia, khususnya pada masa penjajahan Jepang pada awal 1940-an dan era 1960-an. Saat itu terjadi krisis pangan parah di mana beras menjadi barang langka dan mahal, sehingga masyarakat pedesaan di Jawa harus mencari alternatif bahan makanan. Singkong yang mudah ditanam dan tumbuh di lahan kering menjadi pilihan utama, dan dari situlah lahir tiwul sebagai makanan pengganti nasi. Makanan ini menjadi pokok utama di daerah seperti Wonogiri, Pacitan, Gunung Kidul, Wonosobo, dan Blitar. Seiring berjalannya waktu, fungsi tiwul mengalami pergeseran dari makanan pokok darurat menjadi kudapan yang digemari berbagai kalangan, bahkan kini telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bentuk perlindungan budaya.

Dikenal karena apa

Tiwul dikenal sebagai makanan tradisional khas Jawa yang terbuat dari gaplek (singkong yang dikeringkan dan ditumbuk). Ia terkenal karena teksturnya yang kenyal, cita rasa gurih yang khas, dan kemampuannya sebagai pengganti nasi yang mengenyangkan. Selain itu, tiwul juga dikenal memiliki nilai gizi yang baik, seperti indeks glikemik yang lebih rendah dibanding nasi putih, sehingga cocok untuk penderita diabetes, kolesterol tinggi, atau yang sedang diet. Di sisi budaya, tiwul sering dijadikan bagian dari sajen dalam ritual selamatan, syukuran, atau upacara pertanian, melambangkan ketulusan dan kepasrahan kepada alam.

Cara Mengolah

1. Persiapan Bahan: Pilih singkong yang berkualitas, kupas kulitnya, cuci bersih, lalu keringkan di bawah sinar matahari hingga menjadi gaplek yang keras.

2. Penggilingan: Gaplek ditumbuk atau digiling menjadi tepung kasar.

3. Pencampuran: Tepung gaplek dipercikkan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga membentuk gumpalan-gumpalan yang merata. Bisa ditambahkan sedikit gula atau garam sesuai selera.

4. Pengukusan: Adonan dimasukkan ke dalam dandang atau panci kukusan, lalu dikukus selama sekitar 20 menit hingga matang dan berubah warna menjadi kuning kecoklatan.

5. Penyajian: Tiwul siap disajikan, biasanya disantap bersama kelapa parut yang diberi sedikit garam, atau dengan lauk seperti ikan asin, sayur, sambal, atau tempe.

Kandungan Nutrisi

- Energi: 147 kkal

- Lemak: 0,26 g

- Protein: 1,25 g

- Karbohidrat: 35,08 g

- Serat: 1,7 g

- Gula: 1,57 g

- Sodium: 192 mg

- Kalium: 250 mg

- Selain itu juga mengandung vitamin C, kalsium, zat besi, fosfor, dan vitamin B kompleks.

Sumber Referensi

•https://jnewsonline.com/nasi-tiwul-dan-cara-membuatnya/

•https://rri.co.id/surabaya/daerah/1339777/contact.html

•https://jateng.suara.com/read/2025/10/15/113051/sejarah-tiwul-warisan-leluhur-pengganti-nasi-yang-kembali-dilirik?page=all

• https://id.wikipedia.org/wiki/Tiwul