Tabaro Dange
Tabaro Dange (atau cukup disebut Dange) adalah panganan kudapan tradisional khas masyarakat Kaili di Palu, Sulawesi Tengah. Kudapan ini berbahan dasar utama sagu yang dicampur dengan parutan kelapa dan dimasak menggunakan teknik pemanggangan unik di atas tungku tanah liat. Dange merupakan salah satu bentuk pemanfaatan sagu sebagai sumber karbohidrat alternatif di wilayah Sulawesi Tengah.
Nilai Budaya dan Keunikan Teknik
Tabaro Dange mencerminkan kearifan lokal dalam teknik memasak tanpa menggunakan minyak goreng. Nama "Tabaro" dalam bahasa Kaili berarti sagu. Proses pembuatannya menggunakan dua buah cetakan dari tanah liat berbentuk piringan kecil yang dijepit atau ditumpuk di atas bara api.
Secara tradisional, Dange bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan camilan sosial yang sering dinikmati bersama-sama saat masih hangat. Di masa lalu, Dange menjadi alternatif makanan pokok ketika beras sulit didapat, namun kini telah berkembang menjadi jajanan khas yang sangat dicari oleh wisatawan maupun warga lokal di sepanjang jalan Trans Sulawesi, terutama di kawasan teluk Palu.
Kandungan Gizi
Dange menawarkan kombinasi nutrisi yang berasal dari bahan-bahan nabati alami:
- Energi (Karbohidrat): Sagu menyediakan energi yang cukup untuk aktivitas sehari-hari dan bersifat bebas gluten.
- Lemak Nabati dan Serat: Berasal dari parutan kelapa segar yang memberikan rasa gurih alami sekaligus serat yang baik untuk pencernaan.
- Tanpa Bahan Pengawet: Karena proses masaknya dibakar, kudapan ini cenderung lebih sehat dan bebas dari kolesterol minyak goreng.
Bahan dan Cara Pengolahan
Bahan Utama
- Sagu mentah (sagu rumbia atau sagu pohon).
- Kelapa parut (gunakan kelapa yang tidak terlalu tua agar teksturnya tidak keras).
- Sedikit garam.
- Isian (Opsional): Gula merah (untuk varian manis) atau ikan teri/ikan asap (untuk varian asin/gurih).
Peralatan Khusus
- Tungku api (menggunakan kayu bakar atau arang).
- Cetakan Dange (dua piringan yang terbuat dari tanah liat).
Langkah-langkah Pembuatan
- Persiapan Adonan: Campurkan sagu mentah dengan kelapa parut dan sedikit garam. Aduk secara manual hingga campuran menjadi butiran-butiran kasar (tidak sampai menjadi adonan basah).
- Pemanasan Cetakan: Panaskan cetakan tanah liat di atas bara api hingga benar-benar panas merata.
- Proses Pemanggangan: Letakkan campuran sagu dan kelapa di atas salah satu piringan tanah liat, ratakan hingga tipis. Jika ingin menggunakan isian, letakkan irisan gula merah atau ikan di tengahnya.
- Penjepitan: Tutup dengan piringan tanah liat satunya lagi, sehingga adonan terjepit di antara dua piringan panas. Bakar selama beberapa menit di atas bara api.
- Penyelesaian: Setelah matang (teksturnya mengeras dan aromanya harum), angkat dange dari cetakan. Dange yang sempurna memiliki tekstur yang garing di luar namun tetap empuk di dalam.
Referensi
- Dokumentasi Pangan Lokal berbasis Sagu, Sulawesi Tengah.
- Studi Etnobotani Pangan Suku Kaili di Lembah Palu.
- Ragam Jajanan Tradisional Nusantara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
