Lapa-lapa
Lapa-lapa adalah makanan tradisional masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara yang tidak hanya berfungsi sebagai hidangan, tetapi juga sebagai penanda praktik sosial dan budaya. Nama lapa, yang berasal dari bahasa Walio dan berarti “berlipat-lipat”, mencerminkan teknik pembuatannya yang khas. Makanan ini dibuat dari beragam bahan pokok seperti beras, ketan, jagung, dan ubi, serta kerap hadir dalam berbagai momen penting kehidupan masyarakat, mulai dari perayaan Idulfitri hingga ritual Haroa, upacara adat, pernikahan, dan penyambutan tamu. Dalam konteks Haroa, Lapa-lapa menempati posisi penting sebagai hidangan yang tidak dapat dipisahkan dari rangkaian ritual. Praktik konsumsi Lapa-lapa menunjukkan keragaman lokal yang menarik. Di Makassar, makanan ini biasa disantap bersama ikan asin dan sambal kaluku berbahan kelapa parut, sementara di Sulawesi Tenggara sering dipadukan dengan sate pokea. Ketika masyarakat Sulawesi berpindah dan menetap di berbagai wilayah lain di Indonesia, Lapa-lapa turut mengalami penyesuaian sesuai dengan kondisi setempat. Di Sumbawa Barat, misalnya, bahan dasar Lapa-lapa beralih ke jagung, dan makanan ini dikonsumsi sebagai camilan sehari-hari maupun sajian berbuka puasa.
Bahan
- 12 lonjor
- 600 ml beras ketan
- 250 ml santan kental dari 1/2 buah kelapa
- 1 ,sdt garam
- 12 lembar janur
Cara Membuat
- Kukus beras ketan 10 sampai 15 menit angkat tuangi santan+ garam yg sudah diaduk rata.
- Campur hingga santan terserap habis sambil diaduk.
- Dinginkan
- Lalu bungkus dan ikat lapa lapa.
- Presto 45 menit dari waktu presto mendesis. Dinginkan dan angkat
