Cendolok tawaro

Dari WikiPangan

Cendolok Tawaro adalah minuman penyegar tradisional khas masyarakat Bugis dan Makassar, Sulawesi Selatan. Nama hidangan ini berasal dari perpaduan kata "Cendolok" (cendol) dan "Tawaro" yang dalam bahasa lokal berarti Sagu. Berbeda dengan cendol di wilayah Jawa yang umumnya berbahan dasar tepung beras atau hunkwe, Cendolok Tawaro menggunakan pati sagu asli yang memberikan tekstur jauh lebih kenyal dan warna yang cenderung transparan atau kecokelatan alami.

Sejarah dan Makna Budaya

Penggunaan sagu dalam Cendolok Tawaro mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan dalam memanfaatkan tanaman rumbia (metroxylon sagu) yang tumbuh subur di wilayah pesisir dan dataran rendah. Di masa lalu, sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat utama selain beras.

Minuman ini memiliki nilai sosial sebagai hidangan penyambut tamu atau sajian khusus pada acara adat dan hajatan keluarga. Selain itu, Cendolok Tawaro sering dijajakan di pasar-pasar tradisional (pasar kaget) terutama selama bulan suci Ramadan sebagai menu berbuka puasa favorit karena sifatnya yang mendinginkan suhu tubuh dan memberikan energi instan.

Kandungan Gizi

Cendolok Tawaro menawarkan manfaat nutrisi yang bersumber dari bahan-bahan alaminya:

  • Energi (Karbohidrat): Pati sagu merupakan sumber energi yang mudah dicerna dan memberikan rasa kenyang.
  • Elektrolit: Santan kelapa mengandung kalium yang baik untuk keseimbangan cairan tubuh.
  • Mineral: Gula merah (aren) asli mengandung zat besi dan kalsium yang lebih tinggi dibandingkan gula pasir putih.
  • Bebas Gluten: Sagu secara alami tidak mengandung gluten, sehingga aman bagi penderita intoleransi gluten.

Bahan dan Alat

Bahan Utama

  • 250 gram pati sagu (Tawaro) kualitas baik.
  • 700 ml air bersih.
  • Air perasan daun pandan atau daun suji (sebagai pewarna hijau alami dan aroma).
  • Air es secukupnya (untuk menampung hasil cetakan).

Bahan Kuah

  • 500 ml santan kental dari kelapa tua.
  • 200 gram gula merah (gula aren), sisir halus.
  • Sedikit garam.
  • Daun pandan (ikat simpul).

Alat

  • Tungku atau kompor.
  • Panci atau wajan besar untuk memasak adonan.
  • Cetakan cendol (bisa menggunakan saringan dengan lubang bulat atau cetakan khusus cendol).
  • Pengaduk kayu.

Cara Pengolahan

Membuat Cendol Sagu

  1. Larutkan pati sagu dengan sebagian air dan air perasan daun pandan/suji. Aduk hingga rata dan tidak ada yang menggumpal.
  2. Masak sisa air dalam panci hingga mendidih. Masukkan larutan sagu secara perlahan sambil terus diaduk dengan api kecil.
  3. Masak hingga adonan mengental, berubah menjadi bening (transparan), dan terlihat meletup-letup.
  4. Dalam keadaan panas, letakkan adonan di atas cetakan cendol. Tekan adonan hingga butiran cendol jatuh ke dalam wadah berisi air es agar bentuknya memadat dan tidak saling lengket. Sisihkan.

Membuat Kuah dan Penyajian

  1. Rebus gula merah dengan sedikit air hingga larut, kemudian saring.
  2. Masak santan bersama daun pandan dan sedikit garam di atas api sedang. Aduk terus agar santan tidak pecah hingga mendidih.
  3. Siapkan gelas saji, masukkan sirup gula merah di dasar gelas.
  4. Tambahkan butiran Cendolok Tawaro secukupnya.
  5. Tuangkan kuah santan dan tambahkan es batu sesuai selera.

Referensi

  • Inventarisasi Pangan Lokal Berbasis Sagu di Sulawesi Selatan.
  • Ragam Minuman Tradisional Nusantara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Studi Etnobotani Tanaman Rumbia pada Masyarakat Bugis-Makassar.