Bubur Merah Putih

Dari WikiPangan
Bubur Merah Putih (sumber: ResepKoki)

Bubur merah putih adalah sajian bubur beras tradisional Indonesia yang terdiri atas dua bagian berbeda warna, yaitu bubur berwarna cokelat kemerahan yang dimaniskan dengan gula kelapa dan bubur berwarna putih yang dimasak bersama santan dan garam. Hidangan ini paling lekat dengan kebudayaan Jawa, tempat ia dikenal sebagai jenang abang putih, dan lazim hadir sebagai ubarampe (kelengkapan) dalam upacara slametan daur hidup, mulai dari selamatan kehamilan tujuh bulan hingga peringatan hari kelahiran. Meski disebut "merah", warna bubur ini sebenarnya cokelat kemerahan yang berasal dari gula jawa, bukan merah menyala.[1]

  • Nama lain: jenang abang putih, jenang sengkolo (sengkala), bubur sengkolo, bubur abang putih, pethak lan abrit
  • Daerah asal: Jawa (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur)
  • Jenis: bubur; hidangan upacara
  • Bahan utama: beras atau beras ketan, santan, gula kelapa (gula jawa), garam, dan daun pandan
  • Rasa: manis legit pada bagian merah; gurih asin pada bagian putih

Etimologi dan nama lain

Dalam bahasa Jawa, jenang berarti bubur, abang berarti merah, dan putih atau pethak berarti putih. Karena itu hidangan ini disebut jenang abang putih. Di banyak daerah bubur ini juga dikenal sebagai jenang sengkolo atau bubur sengkolo. Istilah sengkala atau sengkolo merujuk pada kemalangan atau bencana, sehingga penyajiannya dimaknai sebagai laku tolak bala, yakni upaya menolak kesialan.

Di kalangan penutur Jawa yang lebih formal (krama), bubur ini kadang disebut pethak lan abrit, yang secara harfiah berarti "putih dan merah"[2]

Sejarah

Tidak terdapat catatan tertulis yang memastikan kapan bubur merah putih pertama kali dibuat. Sebagian sumber populer mengaitkan tradisi ini dengan masa Majapahit dan menghubungkannya dengan panji merah putih kerajaan tersebut, namun klaim ini bersifat tradisi lisan dan belum dibuktikan secara historiografis.

Yang lebih dapat ditelusuri adalah kedudukan bubur ini dalam sistem slametan masyarakat Jawa, yakni perjamuan kecil yang menyertai setiap peralihan penting dalam hidup manusia, sebagaimana didokumentasikan dalam kajian klasik Geertz (1960) tentang religi Jawa. Dalam sistem tersebut, berbagai jenis jenang tidak dipilih secara acak, melainkan memiliki makna semiotik yang baku dan diwariskan lintas generasi[3][4]

Seiring masuknya Islam, bubur merah putih juga berbaur dengan tradisi keislaman Nusantara, khususnya dalam peringatan bulan Sura atau Muharam. Tradisi jenang Suro di berbagai daerah memperlihatkan bagaimana sajian bubur menjadi sarana pengikat solidaritas sosial antarwarga[5] [6]

Bahan dan cara pembuatan

Bahan dasar bubur merah putih relatif sederhana:

  • beras (di sebagian daerah digunakan beras ketan atau tepung ketan)
  • santan kelapa
  • gula kelapa atau gula jawa, disisir halus
  • garam
  • daun pandan sebagai pewangi

Proses pembuatannya umumnya sebagai berikut. Beras dimasak bersama santan, garam, dan daun pandan hingga menjadi bubur yang lembut. Setelah matang, bubur dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian dibiarkan tetap putih dan bercita rasa gurih. Bagian lain dicampur gula jawa hingga berubah menjadi cokelat kemerahan dan bercita rasa manis legit.

Dalam penyajian tradisional, bubur ditempatkan pada takir, yakni wadah kecil berbentuk kotak yang dibuat dari daun pisang. Susunannya mengikuti aturan tertentu: umumnya jenang abang diletakkan di bagian bawah dan diberi sedikit jenang putih di atasnya.

Ragam penyajian

Dalam tradisi Jawa yang Persebaran dan variasi daerah, bubur merah putih memiliki beberapa bentuk penyajian yang masing-masing memiliki nama dan makna sendiri:

  • Jenang abang: bubur yang dipadukan dengan gula merah sehingga berwarna cokelat kemerahan.
  • Jenang putih (disebut pula jenang setha): bubur yang dipadukan dengan santan kelapa dan bercita rasa gurih.
  • Jenang plirit: separuh jenang merah dan separuh jenang putih ditempatkan berdampingan dalam satu takir.
  • Jenang pupuk: lingkaran jenang putih di bagian dalam yang dikelilingi jenang merah.
  • Jenang pager ayu: kebalikan dari jenang pupuk, dengan lingkaran merah di bagian dalam dan putih di bagian luar.
  • Jenang palang: jenang abang yang di atasnya ditumpangi jenang putih dalam posisi menyilang.
  • Jenang baro-baro: jenang putih yang ditaburi irisan gula merah dan parutan kelapa.

Penyajian selengkap ini kini semakin jarang ditemui, dan pada praktik sehari-hari banyak keluarga hanya menyediakan bubur merah dan bubur putih dalam bentuk sederhana.

Makna simbolik

Bubur merah putih dipahami masyarakat Jawa bukan sekadar sebagai makanan, melainkan sebagai simbol asal mula kehidupan manusia. Warna merah umumnya dimaknai sebagai benih atau darah dari pihak ibu, sedangkan warna putih dimaknai sebagai benih dari pihak ayah. Penyajian keduanya dalam satu wadah melambangkan bersatunya kedua unsur tersebut hingga lahir kehidupan baru.[4][2]

Dari pemaknaan itu lahir sejumlah makna turunan yang saling melengkapi:

  • Penghormatan kepada orang tua. Kehadiran manusia di dunia tidak lepas dari peran ayah dan ibu sebagai perantara.
  • Tolak bala. Sebagai jenang sengkolo, bubur ini dihadirkan dengan harapan pemiliknya dijauhkan dari kesialan dan marabahaya.
  • Penyerahan diri kepada Tuhan. Bubur menjadi wujud materiil dari doa; bagi masyarakat Jawa, doa tidak cukup diucapkan, tetapi juga diwujudkan dalam laku dan sajian.
  • Rasa syukur atas alam. Bahan pembuatnya, yaitu beras, kelapa, dan gula, merupakan hasil bumi yang mengingatkan manusia pada ketergantungannya kepada alam.

Dalam upacara pemberian nama bayi, dikenal permainan kata dari jenang menjadi jeneng (nama): setelah buburnya habis dimakan, yang tersisa dan melekat adalah nama sang bayi.

Konteks penyajian

Bubur merah putih tergolong jenang yang paling sering muncul dalam berbagai upacara masyarakat Jawa, antara lain:

  • Mitoni atau tingkeban: selamatan tujuh bulan usia kehamilan anak pertama[7][8]
  • Brokohan dan wilujengan lairan: syukuran atas kelahiran bayi.
  • Sepasaran dan selapanan: selamatan hari kelima dan hari ke-35 setelah kelahiran, sering bersamaan dengan pemberian nama dan cukur rambut.
  • Wetonan: peringatan hari lahir menurut kalender Jawa yang jatuh setiap 35 hari; bubur biasanya dibagikan kepada tetangga.
  • Peringatan Tahun Baru Jawa dan Islam pada bulan Sura: hadir dalam bentuk tradisi jenang Suro.
  • Bersih desa, selamatan tanam dan panen, serta pendirian rumah.
  • Selamatan tolak bala: misalnya setelah terhindar dari kecelakaan.

Persebaran dan variasi daerah

Meski berakar di Jawa, tradisi bubur merah putih menyebar mengikuti persebaran masyarakat Jawa dan berinteraksi dengan tradisi setempat. Di kalangan etnis Madura, misalnya, sajian merah putih dikenal dalam peringatan bulan Safar. Di Jepara, jenang abang putih hadir dalam tradisi sedekah laut sebagai penghormatan kepada cikal bakal desa. Di permukiman masyarakat Jawa di Sumatera Utara, bubur merah putih menjadi bagian dari upacara Suro dengan pemaknaan yang menekankan semangat dan kesucian hati sebagai perekat kebersamaan warga.

Aspek gizi

Sebagai hidangan berbasis beras, bubur merah putih didominasi karbohidrat. Gula kelapa pada bagian merah menyumbang gula sederhana, sedangkan santan pada bagian putih menyumbang lemak yang sebagian besar berupa lemak jenuh. Kandungan proteinnya rendah dan hampir tidak mengandung serat pangan yang berarti. Teksturnya yang lembut membuatnya mudah dicerna, sehingga sering diberikan kepada anak-anak dan orang lanjut usia. Karena kepadatan energi dan kandungan gulanya cukup tinggi, porsi yang wajar dan penyajian bersama lauk berprotein akan membuat hidangan ini lebih seimbang.

Pelestarian

Modernisasi dan perubahan gaya hidup membuat sebagian keluarga muda meninggalkan penyajian jenang yang lengkap, atau menggantinya dengan hidangan lain. Di sisi lain, tradisi membagikan bubur merah putih kepada tetangga saat wetonan masih bertahan di banyak wilayah pedesaan Jawa dan berfungsi sebagai sarana silaturahmi. Dokumentasi kuliner, kajian akademik, serta pemuatan bubur merah putih dalam kegiatan pariwisata dan festival budaya menjadi upaya yang menopang kelestariannya.

Referensi

  1. Good News From Indonesia. (2024, 20 Agustus). Bubur merah putih sebagai warisan budaya Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/08/20/bubur-merah-putih-sebagai-warisan-budaya-indonesia
  2. 2,0 2,1 Auliyah, D., & Sudrajat, A. (2022). Bubur merah putih sebagai simbol pemberian nama anak dalam perspektif sosiologi budaya Jurgen Habermas. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(1), 54–63. https://doi.org/10.30738/sosio.v8i1.11599
  3. Geertz, C. (1960). The religion of Java. The Free Press.
  4. 4,0 4,1 Baehaqie, I. (2014). Jenang mancawarna sebagai simbol multikulturalisme masyarakat Jawa. Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture, 6(1), 180–188. https://doi.org/10.15294/komunitas.v6i1.2953
  5. Julaeha, N., Saripudin, D., Supriatna, N., & Yulifar, L. (2019). Kearifan ekologi dalam tradisi bubur Suro di Rancakalong Kabupaten Sumedang. Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 11(3), 499–514. https://doi.org/10.30959/patanjala.v11i3.538
  6. Efendi, F. (2021). Tradisi jenang Suro sebagai pengikat solidaritas sosial. POROS ONIM: Jurnal Sosial Keagamaan, 2(1), 37–48. https://doi.org/10.53491/porosonim.v2i1.38
  7. Herawati, I. (2007). Makna simbolik sajen slametan tingkeban. Jurnal Sejarah dan Budaya, 2(3), 145–151.
  8. Boanergis, Y., Engel, J. D., & Samiyono, D. (2019). Tradisi mitoni sebagai perekat sosial budaya masyarakat Jawa. Jurnal Ilmu Budaya, 16(1), 49–62