Telor Asin

Dari WikiPangan
Revisi sejak 8 April 2026 16.42 oleh Irma.Riswanti (bicara | kontrib) (Artikel baru Irma Riswanti)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Telor asin Brebes; di dokumentasi oleh Irma Riswanti

Telur asin bisa dibilang salah satu “trik cerdas” orang-orang dulu dalam menyiasati makanan agar lebih awet. Bayangin, sebelum ada kulkas dan freezer, masyarakat sudah paham bahwa garam itu bukan cuma bumbu, tapi juga pengawet makanan.[1]

Telur asin Brebes merupakan hasil perpaduan kondisi alam Brebes yang kaya garam, tradisi peternakan bebek pelari yang kuat, serta kecerdasan masyarakat dalam mengolah hasil bumi agar lebih awet dan bernilai. Berawal dari usaha kecil pasangan In Tjiauw Seng dan Tan Polan Nio pada tahun 1959 di kampung Pecinan, telur asin Brebes tumbuh menjadi produk yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi identitas daerah dan sumber penghidupan masyarakat pesisir Brebes hingga sekarang.[2]

Garam Melimpah

Di pesisir Brebes, tambak garam menjadi pemandangan yang biasa. Saat musim kemarau, produksi garam bisa meningkat tajam. Tumpukan garam putih di pinggir tambak atau gudang penyimpanan seolah jadi tanda bahwa Brebes punya kekayaan alam yang melimpah. Garam bukan hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengolah pangan, karena garam adalah bahan utama yang sangat efektif sebagai pengawet tradisional.

Bebek Pelari dan Telur Biru

Selain tambak garam, Brebes juga dikenal sebagai wilayah dengan banyak peternak dan pengangon bebek. Salah satu yang terkenal adalah bebek pelari (Anas platyrhynchos domesticus) yang produksi telurnya tinggi dan cukup melimpah. Telur bebek pelari ini memiliki ciri khas cangkang berwarna biru kehijauan, sehingga menjadi salah satu alasan mengapa telur asin Brebes juga identik dengan warna kebiruan.

Pengolahn Telor Asin

Pembuatan telur asin terbagi menjadi dua teknik utama, yaitu metode balur menggunakan lumpur abu gosok dan metode perendaman air garam. Kedua teknik ini masih banyak digunakan oleh masyarakat karena sama-sama mudah dilakukan, hanya berbeda dari segi waktu dan cara penerapannya.

Metode pertama adalah teknik membalut telur dengan lumpur abu gosok. Bahan yang digunakan meliputi telur yang sudah dicuci bersih, abu gosok atau bata merah yang ditumbuk halus, garam beryodium, air secukupnya, serta wadah seperti ember atau keranjang. Cara pembuatannya dimulai dengan mencampur abu gosok atau tanah merah bersama garam hingga rata sampai membentuk tekstur pasta atau lumpur. Setelah itu, telur dibalut dengan adonan tersebut hingga seluruh permukaannya tertutup seperti bola, lalu disimpan dalam wadah. Telur kemudian didiamkan sekitar 14 hari, setelah itu dibersihkan dan direbus dengan api kecil selama kurang lebih 30 menit sampai 1 jam. Setelah matang, telur asin siap dijual atau dikonsumsi.[3]

Metode kedua adalah teknik perendaman menggunakan air garam, yang sering digunakan karena lebih praktis. Bahan yang diperlukan biasanya cukup sederhana, seperti telur bebek, garam dapur beryodium, air, dan ember sekitar 5 liter. Prosesnya dimulai dengan merebus air, mencampurkan garam hingga larut, lalu mendinginkannya. Setelah air garam dingin, larutan tersebut dituangkan ke dalam ember yang sudah berisi telur yang ditata rapi. Ember kemudian ditutup dan disimpan selama kurang lebih 5 hari. Setelah proses perendaman selesai, telur direbus dengan api kecil selama sekitar 30 menit, kemudian dapat dikemas ataupun langsung dikonsumsi.

Memilih Telur Asin yang Berkualitas

Telur asin yang baik memiliki ciri kulit berwarna biru muda kehijauan, tidak kusam, serta tidak retak. Telur asin yang sudah siap dikonsumsi juga biasanya terasa lebih berat saat dipegang. Selain itu, telur asin berkualitas memiliki kuning telur yang berada di tengah, berwarna jingga terang, tidak pucat, dan terdapat tekstur khas seperti memasir pada bagian kuningnya.[4]

Kandungan Zat Gizi

Kandunngan zat gizi telor asin tiap 100 gram, dengan berat yang dapat dimakan 83%. [5]

Komponen Kandungan
Air (Water) 66.5 g
Energi (Energy) 179 Kal
Protein (Protein) 13.6 g
Lemak (Fat) 13.3 g
Karbohidrat (CHO) 4.4 g
Serat (Fibre) 0.0 g
Abu (ASH) 2.2 g
Kalsium (Ca) 120 mg
Fosfor (P) 157 mg
Besi (Fe) 1.8 mg
Natrium (Na) 483 mg
Kalium (K) 140.1 mg
Retinol (Vit. A) 253 mcg
Beta-Karoten (Carotenes) 13 mcg
Thiamin (Vit. B1) 0.28 mg
Riboflavin (Vit. B2) 0.98 mg
Niasin (Niacin) 0.6 mg
Vitamin C (Vit. C) 0 mg

Referensi

  1. Assadad, L., & Utomo, B. S. B. (2011). Pemanfaatan garam dalam industri pengolahan produk perikanan. Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, 6(2), 26-37.
  2. https://arahpantura.id/asal-usul-telur-asin
  3. Cnnindonesia. 2 Cara Membuat Telur Asin Yang Enak Dan Masir. Hämtat Från Https://Www.Cnnindonesia.Com: Https://Www.Cnnindonesia.Com/Gaya-Hidup/20221005160358-267-856753/2-Cara-Membuat-Telur-Asin-Yang-Enak-Dan-Masir
  4. Lyliana, L. 3 Cara Pilih Telur Asin Yang Bagus Dan Masir. Hämtat Från Kompas.Com: https://www.kompas.com/food/3-cara-pilih-telur-asin-yang-bagus-dan-masir
  5. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi Masyarakat. Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2018. https://panganku.org/id-ID/view.