Apang Paranggi
Dari WikiPangan
Apang Paranggi atau juga dikenal dengan nama Bolu Paranggi. Kudapan ini menjadi salah satu bukti jejak Portugis di Kota Makassar di abad ke-17. Kendati Kesultanan Gowa-Tallo hanya memiliki hubungan diplomatik selama 125 tahun, Portugis banyak memengaruhi budaya lokal. Mulai dari serapan kosakata, nama tempat, termasuk kuliner.
Kata "bolu" berasal dari bahasa Portugis "bolo", yang juga berarti kue. Adapun "paranggi", menurut Zainuddin Tika dalam buku Makassar Tempo Doeloe (Pustaka Taman Ilmu, 2019), adalah sebutan bahasa Makassar untuk Portugis.
Kategori
Kudapan
Cara Pembuatan
- Pertama-tama, siapkan 250 gram tepung beras, 250 mililiter air biasa, 100 mililiter santai plus 150 gram tapai singkong atau ragi, 150 mililiter air kelapa, 150 gram gula merah, 50 gram gula pasir dan minyak goreng secukupnya.
- Masukkan tapai singkong, gula merah dan gula pasir ke dalam wadah. Campurkan ketiga bahan baku tersebut selama kira-kira sepuluh menit hingga semuanya tercampur rata.
- Setelah ketiga bahan tadi telah tercampur merata tambahkan air kelapa dan air biasa. Campurkan kembali adonan hingga akhirnya terasa halus. Lalu saring adonan untuk membuang ampas tapai singkong.
- Selanjutnya, campur adonan dengan air tapai dan tepung beras. Ulen selama sekitar 15 menit sampai adonan terlihat mengembang.
- Masukkan santan secara perlahan-lahan lalu aduk rata.
- Setelah adonan siap diolah, panaskan dandang dengan api kecil. Olesi mangkuk cetakan dengan sedikit minyak, kemudian isi seluruh cetakan dengan adonan.
- Masukkan ke dalam dandang, lalu kukus adonan selama 15 menit. Setelah masak, sajikan Apang Paranggi selagi masih hangat.
