Bautapa tuing-tuing
Panganan lokal yang Anda maksud adalah Bau Tapa Tuing-Tuing. Dalam bahasa Makassar/Bugis, Bau berarti "Ikan", Tapa berarti "Asap/Bakar", dan Tuing-Tuing adalah sebutan lokal untuk Ikan Terbang (Exocoetidae).
Deskripsi
Asal-usul Bau Tapa Tuing-Tuing berkaitan erat dengan tradisi pelaut Mandar dan Makassar yang berlayar jauh mengikuti musim ikan terbang. Ikan ini bermigrasi di Selat Makassar pada bulan Mei hingga September. Sejarah mencatat bahwa ikan tuing-tuing pertama kali ditemukan oleh pasukan pemberani (Tubaraniyya) dari Kerajaan Galesong saat mereka berlayar pulang setelah membantu Raden Trunojoyo melawan Belanda di Tuban, Jawa Timur, sekitar tahun 1674–1679. Kata "Patorani" berasal dari To Barani (pemberani). Ritual Patorani dilakukan oleh nelayan di Takalar sebelum berangkat melaut untuk mencari ikan terbang dan telurnya. Pengasapan (Tapa) menjadi metode pengawetan utama bagi para nelayan yang menghabiskan waktu berbulan-bulan di laut lepas. [1]
Dahulu, nelayan yang berada di tengah laut dalam waktu lama membutuhkan cara agar hasil tangkapan tidak rusak. Metode Tapa (pengasapan) dipilih karena dapat mengurangi kadar air dalam ikan sehingga lebih tahan lama untuk dibawa pulang atau dijual ke daratan. [2]
Di daerah Galesong (Takalar), olahan ini menjadi sumber ekonomi utama. Tuing-tuing dianggap istimewa karena tekstur dagingnya yang padat dan gurih dibandingkan ikan laut lainnya.
Kuliner ini merupakan salah satu warisan pesisir paling ikonik dari Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Kabupaten Takalar.
Bahan
- Ikan Tuing-Tuing (Ikan Terbang) yang masih segar.
- Sabut kelapa dan tempurung kelapa (digunakan untuk menghasilkan asap yang harum dan panas yang stabil).
- Garam (terkadang digunakan untuk merendam ikan sebelum diasap agar lebih gurih).
Cara Pembuatan
- Ikan dibersihkan sisiknya (terkadang dibiarkan utuh tergantung selera pembeli), lalu dibelah bagian perutnya atau dibiarkan bulat.
- Ikan ditusuk menggunakan lidi bambu panjang. Satu tusuk biasanya berisi 3 hingga 5 ekor ikan yang dijepit rapi.
- Ikan diletakkan di atas panggangan kayu yang apinya berasal dari sabut kelapa yang membara (tidak boleh ada api besar, hanya asap dan panas bara).
- Ikan dibolak-balik hingga warnanya berubah menjadi cokelat keemasan atau kehitaman (kering). Proses ini membuat aroma asap meresap hingga ke tulang.Bau Tapa biasanya disajikan dengan Raca' Mangga (sambal mangga muda) dan Cobe-Cobe (sambal terasi jeruk nipis) serta nasi hangat. [3]
