Baruasa: Perbedaan antara revisi
(tambah informasi) |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (Satu revisi perantara oleh satu pengguna lainnya tidak ditampilkan) | |||
| Baris 4: | Baris 4: | ||
Baruasa yang berasal dari daerah Luwu, merupakan jenis kue yang pada budaya Bugis wajib disajikan pada upacara pernikahan. Hal ini erat kaitannya dengan keyakinan bahwa sebagaimana Baruasa yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama tanpa tambahan pengawet, begitu pula diharapkan agar kedua mempelai juga menjalani kehidupan pernikahan yang bertahan lama. | Baruasa yang berasal dari daerah Luwu, merupakan jenis kue yang pada budaya Bugis wajib disajikan pada upacara pernikahan. Hal ini erat kaitannya dengan keyakinan bahwa sebagaimana Baruasa yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama tanpa tambahan pengawet, begitu pula diharapkan agar kedua mempelai juga menjalani kehidupan pernikahan yang bertahan lama. | ||
Baruasa menggunakan tepung [[beras]], gula putih maupun gula [[aren]] yang telah dicampur dengan [[kelapa]] parut sangrai, sebagai bahan utama. Selain pada saat perayaan pernikahan, Baruasa juga merupakan kue yang sering ditemui dalam keseharian dan di beberapa wilayah seperti Kota Palopo, telah menjadi oleh-oleh khas daerah. Baruasa juga dihadirkan pada saat perayaan lebaran maupun momen-momen perayaan tertentu, karena sifatnya tahan lama maka ia kemudian dapat dikonsumsi pasca perayaan telah usai. | Terdiri dari dua pilihan rasa yaitu rasa gula pasir dan [[Gula Aren|gula]] merah ([[Aren]]).<ref>Fattah, N., & Saleh, R. (2019). PENGEMBANGAN USAHA KUE KHAS BUGIS ‘BARUASA’DI KABUPATEN SINJAI. ''Jurnal Dinamika Pengabdian'', ''4''(2), 192-197.</ref> Baruasa menggunakan tepung [[beras]], gula putih maupun gula [[aren]] yang telah dicampur dengan [[kelapa]] parut sangrai, sebagai bahan utama. Selain pada saat perayaan pernikahan, Baruasa juga merupakan kue yang sering ditemui dalam keseharian dan di beberapa wilayah seperti Kota Palopo, telah menjadi oleh-oleh khas daerah. Baruasa juga dihadirkan pada saat perayaan lebaran maupun momen-momen perayaan tertentu, karena sifatnya tahan lama maka ia kemudian dapat dikonsumsi pasca perayaan telah usai. | ||
Dibandingkan kue kering lainnya, Baruasa bertekstur agak keras saat digigit tetapi kemudian akan dengan mudah terbongkar saat dikunyah dengan rasa gurih dan manis. Untuk mendapatkan tekstur tersebut, Baruasa tidak diperkenankan menggunakan air dalam pembuatannya karena dapat membuat Baruasa menjadi sangat keras.<ref>Ensiklopedia Pangan Olahan Sulselbar Komunitas Katakerja, 2022</ref> | Dibandingkan kue kering lainnya, Baruasa bertekstur agak keras saat digigit tetapi kemudian akan dengan mudah terbongkar saat dikunyah dengan rasa gurih dan manis. Untuk mendapatkan tekstur tersebut, Baruasa tidak diperkenankan menggunakan air dalam pembuatannya karena dapat membuat Baruasa menjadi sangat keras.<ref>Ensiklopedia Pangan Olahan Sulselbar Komunitas Katakerja, 2022</ref> | ||
| Baris 38: | Baris 38: | ||
== Daftar Pustaka == | == Daftar Pustaka == | ||
<references /> | <references /> | ||
[[Kategori:Sulawesi Selatan]] | |||
[[Kategori:Olahan Pangan]] | |||
Revisi terkini sejak 9 April 2026 13.35

Baruasa yang berasal dari daerah Luwu, merupakan jenis kue yang pada budaya Bugis wajib disajikan pada upacara pernikahan. Hal ini erat kaitannya dengan keyakinan bahwa sebagaimana Baruasa yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama tanpa tambahan pengawet, begitu pula diharapkan agar kedua mempelai juga menjalani kehidupan pernikahan yang bertahan lama.
Terdiri dari dua pilihan rasa yaitu rasa gula pasir dan gula merah (Aren).[1] Baruasa menggunakan tepung beras, gula putih maupun gula aren yang telah dicampur dengan kelapa parut sangrai, sebagai bahan utama. Selain pada saat perayaan pernikahan, Baruasa juga merupakan kue yang sering ditemui dalam keseharian dan di beberapa wilayah seperti Kota Palopo, telah menjadi oleh-oleh khas daerah. Baruasa juga dihadirkan pada saat perayaan lebaran maupun momen-momen perayaan tertentu, karena sifatnya tahan lama maka ia kemudian dapat dikonsumsi pasca perayaan telah usai.
Dibandingkan kue kering lainnya, Baruasa bertekstur agak keras saat digigit tetapi kemudian akan dengan mudah terbongkar saat dikunyah dengan rasa gurih dan manis. Untuk mendapatkan tekstur tersebut, Baruasa tidak diperkenankan menggunakan air dalam pembuatannya karena dapat membuat Baruasa menjadi sangat keras.[2]
Bahan dan Pembuatan
Bahan yang dibutuhkan :
- 250 gram Tepung beras
- 250 gram Gula pasir
- 3 butir telur
- 1⁄2 buah kelapa tua parut
- 1⁄2 sdt vanili
- 1⁄2 sdt Soda kue
Cara pembuatan:
- Ayak tepung beras terlebih dahulu kemudian sangrai pada api kecil sampai agak berubah kecoklatan.
- Parut kelapa tua lalu sangrai hingga kering dan mulai berubah warna dan mengeluarkan bau gurih kelapa.
- Telur dipindahkan pada wadah besar dan dicampurkan gula pasir kemudian dikocok hingga menyatu dan terlihat berwarna putih pucat.
- Tambahkan soda kue lalu aduk kembali selamat 3-5 menit.
- Kelapa parut yang telah disangrai kemudian dimasukkan ke dalam adonan lalu dikocok selama 5-10 menit hingga berbusa.
- Tepung beras yang telah disangrai kemudian dimasukkan ke dalam adonan secara bertahap.
- Adonan diaduk hingga lebih memadat.
- Loyang dioleskan dengan margarin.
- Setelah jadi, adonan kemudian dibentuk bulat dan ditata di atas loyang.
- Adonan akhirnya dipanggang pada suhu 200°C selama 10-15 menit.
