Pannawa: Perbedaan antara revisi
(←Membuat halaman berisi ''''Pannawa''' (atau dikenal sebagai '''''Pangiru''''' dalam adat Kaluppini) adalah makanan tradisional berbentuk bubur halus (jenang) khas Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Makanan ini berbahan dasar biji jewawut (''Setaria italica''), yang dalam bahasa lokal Enrekang disebut sebagai ''ba'tan''. == Etimologi dan Variasi == Nama makanan ini memiliki variasi penyebutan berdasarkan wilayah adat di Enrekang: * '''Pannawa:''' Istilah umum yang digunak...') |
Eko.prastio (bicara | kontrib) kTidak ada ringkasan suntingan |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Pannawa''' (atau dikenal sebagai | '''Pannawa''' (atau dikenal sebagai Pangiru dalam adat Kaluppini) adalah makanan tradisional berbentuk bubur halus (jenang) khas Kabupaten [[Enrekang]], [[Sulawesi Selatan]]. Makanan ini berbahan dasar biji [[jewawut]] (''Setaria italica''), yang dalam bahasa lokal Enrekang disebut sebagai ''ba'tan''. | ||
== Etimologi dan Variasi == | == Etimologi dan Variasi == | ||
| Baris 9: | Baris 9: | ||
Pannawa memiliki dua fungsi utama dalam kehidupan sosial masyarakat Enrekang: | Pannawa memiliki dua fungsi utama dalam kehidupan sosial masyarakat Enrekang: | ||
'''1. Makanan Ibu Melahirkan''' | |||
Secara tradisi turun-temurun, Pannawa adalah hidangan wajib bagi ibu yang baru saja melahirkan. Meskipun masyarakat awam menganggapnya sekadar tradisi tanpa alasan jelas, secara medis komposisi bahan Pannawa sangat mendukung pemulihan pasca-persalinan: | Secara tradisi turun-temurun, Pannawa adalah hidangan wajib bagi ibu yang baru saja melahirkan. Meskipun masyarakat awam menganggapnya sekadar tradisi tanpa alasan jelas, secara medis komposisi bahan Pannawa sangat mendukung pemulihan pasca-persalinan: | ||
* '''Jewawut (Ba'tan):''' Serealia yang kaya akan serat, protein, dan zat besi yang penting untuk mengembalikan stamina dan mengganti darah yang hilang saat persalinan. | * '''Jewawut (Ba'tan):''' Serealia yang kaya akan serat, protein, dan zat besi yang penting untuk mengembalikan stamina dan mengganti darah yang hilang saat persalinan. | ||
* '''[[Jahe]]:''' Berfungsi sebagai | * '''[[Jahe]]:''' Berfungsi sebagai galaktagog alami (pelancar ASI) dan memberikan efek hangat pada tubuh ibu nifas.<ref>Ariyanti, R., et al. (2023). ''Galaktogue pada Jahe dapat Meningkatkan Produksi ASI: Literatur Review''. Jurnal Ilmiah Permas: STIKES Kendal.</ref> | ||
'''2. Menu Ritual (Pangiru)''' | |||
Bagi masyarakat adat Kaluppini, Pangiru menjadi sajian wajib saat momen berbuka puasa. Keberadaannya dianggap krusial dalam melengkapi ritual ibadah masyarakat setempat.<ref>Tribun Timur. (2022). ''[https://makassar.tribunnews.com/2022/08/28/aneka-makanan-tradisional-hadir-mewarnai-festival-budaya-kaluppini-enrekang Festival Budaya Kaluppini Enrekang Hadirkan Ragam Kuliner Tradisional]''. Tribunnews.</ref> | |||
Bagi masyarakat adat Kaluppini, | |||
== Status Kelangkaan == | == Status Kelangkaan == | ||
Saat ini, keberadaan Pannawa kian sulit ditemukan. Hal ini disebabkan oleh semakin jarangnya petani di Enrekang yang membudidayakan tanaman | Saat ini, keberadaan Pannawa kian sulit ditemukan. Hal ini disebabkan oleh semakin jarangnya petani di Enrekang yang membudidayakan tanaman ba'tan (jewawut), sehingga bahan baku utamanya menjadi langka. | ||
== Bahan dan Cara Pembuatan == | == Bahan dan Cara Pembuatan == | ||
Tekstur Pannawa berbeda dengan bubur jewawut utuh, karena bijinya ditumbuk hingga menjadi tepung sebelum dimasak. | Tekstur Pannawa berbeda dengan bubur jewawut utuh, karena bijinya ditumbuk hingga menjadi tepung sebelum dimasak. | ||
'''Bahan''' | |||
* Ba'tan (Jewawut) 100 gram | * Ba'tan (Jewawut) 100 gram | ||
* Gula merah 250 gram | * Gula merah 250 gram | ||
* Jahe 1 batang (besar) | * Jahe 1 batang (besar) | ||
* Air 1 liter | * Air 1 liter | ||
'''Langkah Pengolahan''' | |||
# '''Persiapan Ba'tan:''' Rendam biji jewawut selama 1 jam agar lunak. Tiriskan, lalu tumbuk hingga halus menjadi tepung. | # '''Persiapan Ba'tan:''' Rendam biji jewawut selama 1 jam agar lunak. Tiriskan, lalu tumbuk hingga halus menjadi tepung. | ||
# '''Perebusan Gula:''' Didihkan air dalam panci, masukkan gula merah dan masak hingga larut sepenuhnya. | # '''Perebusan Gula:''' Didihkan air dalam panci, masukkan gula merah dan masak hingga larut sepenuhnya. | ||
| Baris 43: | Baris 43: | ||
[[Kategori:Olahan Serealia]] | [[Kategori:Olahan Serealia]] | ||
[[Kategori:Makanan Tradisional]] | [[Kategori:Makanan Tradisional]] | ||
[[Kategori:Olahan Pangan]] | |||
Revisi terkini sejak 28 Januari 2026 22.30
Pannawa (atau dikenal sebagai Pangiru dalam adat Kaluppini) adalah makanan tradisional berbentuk bubur halus (jenang) khas Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Makanan ini berbahan dasar biji jewawut (Setaria italica), yang dalam bahasa lokal Enrekang disebut sebagai ba'tan.
Etimologi dan Variasi
Nama makanan ini memiliki variasi penyebutan berdasarkan wilayah adat di Enrekang:
- Pannawa: Istilah umum yang digunakan oleh masyarakat Enrekang secara luas.
- Pangiru: Istilah khusus yang digunakan oleh masyarakat adat Kaluppini. Di wilayah ini, Pangiru memiliki kedudukan yang lebih sakral dan menjadi menu wajib dalam ritual keagamaan tertentu.[1]
Fungsi Budaya dan Kesehatan
Pannawa memiliki dua fungsi utama dalam kehidupan sosial masyarakat Enrekang:
1. Makanan Ibu Melahirkan
Secara tradisi turun-temurun, Pannawa adalah hidangan wajib bagi ibu yang baru saja melahirkan. Meskipun masyarakat awam menganggapnya sekadar tradisi tanpa alasan jelas, secara medis komposisi bahan Pannawa sangat mendukung pemulihan pasca-persalinan:
- Jewawut (Ba'tan): Serealia yang kaya akan serat, protein, dan zat besi yang penting untuk mengembalikan stamina dan mengganti darah yang hilang saat persalinan.
- Jahe: Berfungsi sebagai galaktagog alami (pelancar ASI) dan memberikan efek hangat pada tubuh ibu nifas.[2]
2. Menu Ritual (Pangiru)
Bagi masyarakat adat Kaluppini, Pangiru menjadi sajian wajib saat momen berbuka puasa. Keberadaannya dianggap krusial dalam melengkapi ritual ibadah masyarakat setempat.[3]
Status Kelangkaan
Saat ini, keberadaan Pannawa kian sulit ditemukan. Hal ini disebabkan oleh semakin jarangnya petani di Enrekang yang membudidayakan tanaman ba'tan (jewawut), sehingga bahan baku utamanya menjadi langka.
Bahan dan Cara Pembuatan
Tekstur Pannawa berbeda dengan bubur jewawut utuh, karena bijinya ditumbuk hingga menjadi tepung sebelum dimasak.
Bahan
- Ba'tan (Jewawut) 100 gram
- Gula merah 250 gram
- Jahe 1 batang (besar)
- Air 1 liter
Langkah Pengolahan
- Persiapan Ba'tan: Rendam biji jewawut selama 1 jam agar lunak. Tiriskan, lalu tumbuk hingga halus menjadi tepung.
- Perebusan Gula: Didihkan air dalam panci, masukkan gula merah dan masak hingga larut sepenuhnya.
- Pencampuran: Masukkan tepung jewawut sedikit demi sedikit ke dalam air gula mendidih sambil terus diaduk cepat agar tidak menggumpal.
- Pemberian Rasa: Parut jahe, peras dengan sedikit air, lalu masukkan air perasan jahe ke dalam adonan bubur.
- Penyajian: Aduk terus hingga bubur matang, mengental, dan meletup-letup. Angkat dan sajikan dalam keadaan hangat.[1]
Rujukan
- ↑ 1,0 1,1 Katakerja. (2022). Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Hal. 146-147.
- ↑ Ariyanti, R., et al. (2023). Galaktogue pada Jahe dapat Meningkatkan Produksi ASI: Literatur Review. Jurnal Ilmiah Permas: STIKES Kendal.
- ↑ Tribun Timur. (2022). Festival Budaya Kaluppini Enrekang Hadirkan Ragam Kuliner Tradisional. Tribunnews.
