Settung

Dari WikiPangan
Buah Settung (foto: Katakerja)

Settung (dalam bahasa Bugis) atau dikenal secara nasional sebagai Kecapi atau Sentul (Sandoricum koetjape), adalah jenis tanaman buah tropis tahunan yang tumbuh di wilayah Asia Tenggara, termasuk di Sulawesi Selatan. Buah ini memiliki karakteristik kulit yang tebal, keras, dan berbulu halus seperti beludru, dengan daging buah berwarna putih yang menyerupai kapas.

Di Sulawesi Selatan, Settung bukan sekadar tanaman pekarangan, melainkan bahan pangan musiman yang memiliki nilai nostalgia kuat. Ia kerap diolah menjadi berbagai hidangan tradisional, mulai dari manisan hingga pelengkap sambal (Sambala' Settung). Namun, seiring dengan alih fungsi lahan dan masuknya buah-buahan impor, keberadaan pohon Settung di pemukiman warga kini semakin langka dan termasuk kategori underutilized fruit atau buah yang mulai terlupakan.

Karakteristik Botani dan Fisik

Settung adalah pohon rimbun yang dapat tumbuh hingga ketinggian 30 meter, menjadikannya pohon peneduh yang ideal di halaman rumah tradisional Bugis-Makassar di masa lampau.

  • Buah: Berbentuk bulat pipih dengan diameter 5–7 cm. Saat matang, kulitnya berwarna kuning kecokelatan atau emas pudar.
  • Kulit (Pericarp): Sangat tebal, liat, dan mengandung getah putih (lateks) saat masih muda. Bagian dalam kulit yang tebal ini sebenarnya bisa dimakan (edible) jika diolah dengan benar, memiliki tekstur renyah dan rasa sepat-asam.
  • Daging Buah (Aril): Menempel erat pada biji (sulit dilepas), berwarna putih, bertekstur lunak seperti busa/kapas, dengan rasa yang bervariasi dari masam hingga manis segar.

Akar Sosial dan Memori Kolektif

Dalam antropologi kuliner masyarakat Sulawesi, Settung memiliki tempat unik karena "tingkat kesulitan" untuk menikmatinya.

Tradisi "Jepit Pintu"

Salah satu memori kolektif yang paling melekat pada generasi tua di Sulawesi Selatan adalah cara membuka buah Settung. Karena kulitnya yang sangat keras dan liat (sulit dikupas dengan tangan kosong atau pisau tumpul), buah ini sering kali dibuka dengan cara **dijepitkan pada engsel pintu**. Tekanan dari pintu akan meretakkan kulit buah tanpa menghancurkan daging di dalamnya. Praktik ini melahirkan ungkapan lokal tentang "usaha keras" untuk mendapatkan hasil yang manis.

Pemanfaatan Lokal

Masyarakat Bugis dan Makassar mempraktikkan konsep zero waste (tanpa limbah) pada buah ini jauh sebelum istilah tersebut populer:

  • Sebagai Buah Meja: Daging bijinya diemut/dihisap untuk rasa manis-asam.
  • Sebagai Sayur/Lauk:' Kulit bagian dalamnya yang tebal tidak dibuang, melainkan dicacah, direndam air garam untuk menghilangkan getah, lalu dijadikan bahan utama sambal (Pecce atau Sambala) atau ditumis. Rasa sepat kulit Settung dipercaya ampuh menetralkan rasa amis ikan dan lemak daging.
  • Kayu: Batang pohon Settung yang tua dan keras juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau perabotan rumah tangga di pedesaan.

Referensi

  • Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. (2018). Karakteristik Morfologi dan Potensi Kecapi (Sandoricum koetjape). Kementerian Pertanian.
  • Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan. (2024). Pangan Lokal yang Terlupakan: Potensi Gizi Buah Settung.
  • Jurnal Etnobotani Indonesia. (2020). Pemanfaatan Tumbuhan Pekarangan oleh Masyarakat Bugis di Kabupaten Bone.