Sanggara uwai

Dari WikiPangan

Sanggara Uwai atau Sanggara Huai adalah panganan tradisional khas masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan, yang berbahan dasar utama pisang. Dalam bahasa Makassar, Sanggara berarti pisang goreng atau olahan pisang, sementara Uwai atau Huai merujuk pada air. Berbeda dengan pisang goreng pada umumnya yang menggunakan adonan tepung, Sanggara Uwai diolah dengan cara direbus atau dikukus terlebih dahulu, kemudian disajikan dengan siraman kuah santan atau saus gula merah.

Makna Budaya dan Tradisi

Sanggara Uwai mencerminkan pola konsumsi masyarakat Bugis-Makassar yang menghargai kesederhanaan bahan pangan lokal. Hidangan ini sering kali menjadi pilihan utama untuk sarapan atau camilan di sore hari sebagai teman minum kopi atau teh.

Berbeda dengan Barongko yang memiliki tekstur halus karena pisang dihaluskan, Sanggara Uwai tetap mempertahankan bentuk fisik buah pisang, menunjukkan rasa hormat terhadap keutuhan bahan alam. Kudapan ini juga sering disajikan dalam acara-acara keluarga sederhana sebagai simbol kehangatan dan keramah-tamahan tuan rumah.

Kandungan Gizi

Karena diolah tanpa proses penggorengan rendam (deep frying), Sanggara Uwai memiliki profil kesehatan yang lebih baik:

  • Energi Cepat: Pisang kaya akan glukosa dan fruktosa yang memberikan asupan energi instan bagi tubuh.
  • Serat dan Kalium: Menjaga kesehatan pencernaan serta membantu mengatur tekanan darah.
  • Rendah Lemak Trans: Karena tidak menggunakan minyak goreng panas, nutrisi alami pisang lebih terjaga dan bebas dari kolesterol jahat.

Bahan dan Cara Pengolahan

Bahan Utama

  • 1 sisir pisang kepok atau pisang raja (pilih yang sudah matang sempurna).
  • Air untuk merebus/mengukus.

Bahan Kuah (Saus)

  • Santan kental dari kelapa segar.
  • Gula merah (gula aren) yang disisir halus.
  • Sedikit garam dan daun pandan untuk aroma.
  • Telur (opsional, dikocok lepas untuk mengentalkan kuah tradisional).

Langkah-langkah Pembuatan

  1. Persiapan Pisang: Cuci pisang beserta kulitnya. Rebus atau kukus pisang hingga matang (tandanya kulit pisang sedikit merekah). Setelah matang, angkat, dinginkan sebentar, lalu kupas kulitnya.
  2. Pembuatan Saus: Rebus santan bersama gula merah, garam, dan daun pandan. Aduk perlahan agar santan tidak pecah.
  3. Pengentalan (Opsional): Jika menyukai kuah yang lebih kaya, masukkan kocokan telur sedikit demi sedikit ke dalam kuah santan yang sedang mendidih sambil terus diaduk hingga membentuk tekstur berserat halus.
  4. Penyajian: Letakkan pisang rebus di atas piring, kemudian siram dengan kuah santan gula merah yang masih hangat. Beberapa variasi menambahkan taburan kacang tanah sangrai di atasnya untuk tekstur renyah.

Referensi


  • Dokumentasi Kuliner Tradisional masyarakat Sulawesi Selatan.
  • Ragam Olahan Pisang Lokal Nusantara, Badan Ketahanan Pangan.
  • Studi Etnografi Kuliner Bugis-Makassar.