Matoa
Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman buah khas yang menjadi identitas flora wilayah Papua di Indonesia. Tanaman ini termasuk dalam keluarga Sapindaceae (satu kerabat dengan Leci dan Rambutan). Pohon Matoa tumbuh menjulang tinggi sebagai tanaman hutan hujan tropis dengan karakter batang kayu keras yang kokoh.
Secara sensoris, buah Matoa menawarkan pengalaman rasa yang unik dan kompleks. Banyak orang mendeskripsikan rasanya sebagai "perkawinan" antara manisnya rambutan, legitnya lengkeng, dan sedikit aroma durian. Karena keunikannya ini, Matoa memiliki nilai ekonomi tinggi di luar Papua, namun sering kali melimpah ruah di tanah asalnya.
Taksonomi dan Varietas Lokal
Di Papua, masyarakat lokal dan peneliti pertanian membedakan Matoa menjadi dua varietas utama berdasarkan tekstur daging buahnya:
- Matoa Kelapa: Ini adalah varietas yang paling disukai dan bernilai jual tinggi. Daging buahnya kenyal, padat, dan mudah lepas dari bijinya (ngelotok), mirip tekstur Rambutan Aceh. Diameter buahnya rata-rata 2,2 – 2,9 cm.
- Matoa Papeda: Sesuai namanya yang merujuk pada bubur sagu, varietas ini memiliki daging buah yang lembek, basah, dan lengket pada bijinya. Varietas ini kurang populer untuk dikonsumsi segar karena agak sulit dimakan.
Selain tekstur, Matoa juga dibedakan berdasarkan warna kulit buahnya: ada yang berwarna hijau (Emme Anokhong), kuning (Emme Khabhelaw), dan merah kecokelatan (Emme Bhanggahe).
Ekologi dan Sebaran
Matoa adalah tanaman asli (indigenous) yang tumbuh liar di hutan-hutan Papua pada dataran rendah hingga ketinggian 1.200 mdpl. Pohon ini memiliki akar tunggang yang kuat dan toleran terhadap kondisi tanah kering, sehingga sering dijadikan tanaman konservasi atau peneduh jalan.
Meski identik dengan Papua, Matoa sebenarnya tersebar di wilayah Malesia lainnya, termasuk Maluku, Sulawesi, hingga Pasifik. Namun, varietas dengan kualitas buah terbaik secara genetik diakui berasal dari Papua.
Kandungan Gizi dan Manfaat
Daging buah Matoa kaya akan sumber energi dan vitamin.
- Vitamin C dan E: Berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan kulit.
- Glukosa Jenuh: Rasa manis Matoa memberikan energi instan. Namun, konsumsi berlebihan (terutama Matoa Papeda) sering dipercaya masyarakat lokal dapat menyebabkan rasa "mabuk" atau pusing ringan karena kandungan glukosanya yang tinggi.
- Kulit Batang: Secara tradisional, masyarakat Papua menggunakan air rebusan kulit batang Matoa untuk mandi guna mengobati luka atau masalah kulit, karena sifat antimikrobanya.
Referensi
- Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua. (2025). Info Literasi: Matoa Permata Tropis dari Papua. Kementerian Pertanian.
- Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Palangka Raya. (2021). Tanaman Matoa (Pometia pinnata): Karakteristik dan Sebaran.
- Mongabay Indonesia. (2021). Matoa, Buah Khas Papua yang Kaya Manfaat.
- Tehuayo, M. N., et al. (2023). Identifikasi Struktur Morfologi Tumbuhan Matoa (Pometia pinnata) di Lingkungan Kampus UNIMUDA Sorong. Biolearning Journal, 10(1), 25-29.
