Kue Poto-Poto

Dari WikiPangan

Kue poto-poto merupakan salah satu kue tradisional khas masyarakat Bugis yang berasal dari wilayah Kabupaten Sinjai. Kue ini termasuk jajanan pasar yang dahulu sangat mudah ditemukan pada acara keluarga, hajatan, maupun perayaan hari besar keagamaan. Nama “poto-poto” sendiri berasal dari bentuknya yang menyerupai simpul tali kecil, sehingga di beberapa daerah juga dikenal sebagai kue simpul.

Kue ini memiliki tekstur renyah di luar namun sedikit empuk di bagian dalam, dengan rasa manis gurih karena perpaduan santan, gula, dan tepung. Walaupun terlihat sederhana, kue poto-poto memiliki nilai budaya yang cukup kuat di masyarakat Bugis, terutama di Sinjai.

Sejarah

Tidak ada catatan tertulis pasti mengenai tahun kemunculan kue poto-poto. Namun berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat Sinjai, kue ini diperkirakan sudah ada sejak awal abad ke-20 (sekitar 1900-an).

Kue ini berkembang dari tradisi membuat kue kering berbahan tepung dan santan yang mudah didapat masyarakat pesisir Sulawesi Selatan. Dahulu kue ini dibuat sebagai bekal perjalanan jauh karena tahan lama dan tidak mudah basi.

Seiring waktu, kue poto-poto menjadi bagian dari jajanan pasar dan mulai dijual secara komersial di pasar tradisional Sinjai.

Nilai Budaya

Dalam budaya Bugis, makanan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai camilan, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap tamu. Kue poto-poto sering disajikan pada: Acara pernikahan, syukuran rumah baru, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, pertemuan keluarga besar

Kue ini biasanya dibuat secara gotong royong oleh ibu-ibu atau keluarga besar menjelang acara. Proses membuatnya yang memerlukan waktu cukup lama membuat kegiatan memasak menjadi momen berkumpul dan mempererat hubungan sosial.

Filosofi

Bentuk simpul pada kue ini memiliki makna simbolik dalam budaya Bugis:

  1. Simpul = ikatan kekeluargaanMelambangkan hubungan yang kuat antar anggota keluarga dan masyarakat.
  2. Simpul = persatuan dan kebersamaanMenggambarkan harapan agar hubungan sosial tetap erat dan tidak mudah terputus.
  3. Rasa manis = doa kebaikanMenjadi simbol harapan agar kehidupan keluarga dipenuhi kebahagiaan dan keberkahan.

Karena makna ini, kue poto-poto sering hadir dalam acara yang berkaitan dengan awal kehidupan baru, seperti pernikahan atau pindah rumah.

Bahan

  1. Tepung terigu
  2. Santan kelapa
  3. Telur
  4. Gula pasir
  5. Garam
  6. Vanili (opsional)
  7. Minyak goreng

Cara Mengolah

  1. Campurkan telur, gula, santan, garam, dan vanili lalu aduk hingga rata.
  2. Tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit hingga adonan kalis dan bisa dibentuk.
  3. Ambil sedikit adonan, gulung memanjang seperti tali kecil.
  4. Bentuk adonan menjadi simpul kecil.
  5. Panaskan minyak dengan api sedang.
  6. Goreng hingga berwarna kuning keemasan dan renyah.
  7. Angkat dan tiriskan, kemudian siap disajikan.

Kandungan Gizi

Komponen Gizi Jumlah Perkiraan
Energi 420–450 kkal
Karbohidrat 55–60 gram
Lemak 18–22 gram
Protein 6–8 gram
Gula 15–20 gram
Serat ± 1–2 gram
Natrium ± 150–200 mg

Rujukan

  1. https://ksmtour.com/informasi/tempat-wisata/sulawesi-selatan/makanan-khas-sinjai.html
  2. https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/kue-tradisional-khas-sulawesi-selatan