Jipang

Dari WikiPangan

Jipang (atau sering dilafalkan sebagai Bipang dan Gipang) lebih dari sekadar kudapan manis; ia adalah monumen kecil dari pertemuan budaya dan kearifan lokal dalam mengawetkan pangan. Berbasis pada bulir beras atau beras ketan (Oryza sativa glutinosa) yang dimekarkan (puffing), Jipang hadir sebagai bentuk transformasi sederhana dari bahan pokok menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Di Sulawesi Selatan, khususnya di sepanjang poros jalan Trans-Sulawesi wilayah Kabupaten Jeneponto, Jipang telah menjadi identitas geografis—sebuah "teman perjalanan" yang wajib dibeli oleh para pelintas.

Jejak Sejarah dan Simbolisme Budaya

Kehadiran Jipang di Nusantara adalah bukti nyata dari akulturasi kuliner yang cair. Secara etimologis, nama ini diyakini menyerap bahasa Hokkien, "Bi-Pang", di mana Bi berarti beras dan Pang merujuk pada aroma wangi atau proses pemanggangan. Awalnya dibawa oleh perantau Tiongkok sebagai bekal makanan yang tahan lama, Jipang kemudian mengalami indigenisasi (pribumisasi) total oleh masyarakat lokal.

Dalam lanskap sosial masyarakat Bugis-Makassar, Jipang melampaui fungsi kenyangnya. Teksturnya yang padat dan saling merekat karena balutan gula merah dimaknai sebagai simbol kohesi sosial—sebuah harapan agar persaudaraan dan hubungan kekerabatan senantiasa lengket dan tak terpisahkan. Rasa manis legit yang mendominasi kudapan ini juga kerap diasosiasikan dengan doa akan kesejahteraan dan manisnya kehidupan, menjadikannya sajian yang pantas dan terhormat untuk tamu di hari raya.

Profil Sensoris

Menikmati Jipang adalah sebuah pengalaman tekstural yang kontras. Pada gigitan pertama, ia menawarkan kerenyahan (crunchy) dari butiran beras yang mekar, namun sensasi itu segera disusul oleh tekstur lengket (chewy) saat gula karamel mulai lumer di mulut. Aroma yang menguar adalah perpaduan kompleks antara wangi smoky dari gula yang terkaramelisasi dan aroma tanah (earthy) dari beras sangrai, menciptakan nostalgia rasa yang khas pedesaan.

Proses Pembuatan: Dari Jemuran ke Wajan

Pembuatan Jipang adalah seni manajemen waktu dan suhu. Prosesnya dimulai jauh sebelum api dinyalakan, yakni di bawah terik matahari.

Bahan utamanya sederhana: 1 kg Beras Ketan berkualitas, 500 gram Gula Merah (atau Gula Aren), Minyak Goreng, dan sedikit garam. Namun, kuncinya terletak pada kesabaran. Beras ketan yang telah dikukus matang harus dijemur hingga mencapai titik kering paripurna (seperti nasi aking). Tahap ini krusial; jika masih ada sisa kelembapan, ketan akan gagal mekar dan berakhir keras atau "bantat".

Transformasi magis terjadi di dua wajan berbeda. Di wajan pertama, ketan kering digoreng singkat dalam minyak panas hingga mekar seketika, lalu ditiriskan. Di wajan kedua, gula merah dilelehkan bersama sedikit air dan garam hingga berbuih kental membentuk karamel "rambut nenek".

Momen paling kritis adalah penyatuan dua elemen ini. Ketan goreng dimasukkan ke dalam larutan karamel panas dan harus diaduk dengan kecepatan tinggi. Keterlambatan sekian detik akan membuat gula mengeras tidak merata. Adonan yang masih panas dan lengket itu kemudian dituang ke cetakan, dipadatkan sekuat tenaga, dan dipotong-potong sebelum dingin sepenuhnya. Begitu suhu turun, Jipang akan mengunci bentuknya, siap untuk disimpan atau dijajakan.

Referensi

  • RRI. (2024). Gipang, Jajanan Legendaris Kaya Makna.
  • Chanel Sulsel. (2024). Jipang: Kudapan Manis Legendaris dari Makassar. Pikiran Rakyat.
  • Pemerintah Desa Pao. (2026). Jipang: Oleh-Oleh Khas Jeneponto. Website Resmi Desa Pao.