Lempok Cempedak
Lempok Cempedak adalah makanan olahan Lokal yang sekilas mirip dengan dodol, namun memiliki perbedaan mendasar pada komposisinya. Jika dodol menggunakan campuran tepung ketan yang dominan, Lempok menggunakan daging buah cempedak asli sebagai bahan utama dengan campuran gula yang minimal dan tanpa tepung (atau sangat sedikit).
Deskripsi
Lempok merupakan cara tradisional masyarakat Melayu di Riau untuk mengawetkan hasil panen buah-buahan yang melimpah, khususnya durian dan cempedak. Di Riau, pohon cempedak tumbuh subur di tanah gambut. Karena buah cempedak bersifat musiman dan mudah busuk, para leluhur mengolahnya dengan cara dimasak lama di atas api hingga menjadi lempok agar dapat disimpan berbulan-bulan. [1]
Hidangan ini sering disajikan untuk tamu kehormatan atau sebagai hantaran pada acara adat Melayu. Teksturnya legit, kenyal, dan memiliki aroma serta rasa buah cempedak yang sangat kuat dan tajam. [2]
Bahan Pembuatan
- Bahan Utama: Daging buah cempedak yang sudah sangat matang (dipisahkan dari bijinya).
- Pemanis: Gula pasir atau gula merah (secukupnya, karena buah cempedak sudah manis alami).
- Pengawet Alami: Sedikit garam untuk penyeimbang rasa.
Cara Pembuatan
- Pemisahan Daging: Buah cempedak dikupas, diambil isinya, dan dipisahkan antara daging buah dengan bijinya.
- Pemasakan Awal: Daging buah dimasukkan ke dalam kuali besar (biasanya kuali besi/tembaga) dan dicampur dengan gula.
- Pengadukan: Adonan dimasak dengan api kecil sambil terus diaduk tanpa henti. Proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama, sekitar 4 hingga 8 jam, hingga adonan mengental, berwarna cokelat tua, dan tidak lengket di tangan.
- Pendinginan: Setelah matang dan kalis, lempok diangkat dan didinginkan.
- Pengemasan: Lempok dibentuk lonjong atau persegi, kemudian dibungkus dengan plastik atau secara tradisional menggunakan upih pinang yang sudah dikeringkan untuk menambah aroma khas. [3]
Referensi
- ↑ Dinas Kebudayaan Provinsi Riau. (2020). Katalog Warisan Budaya Takbenda: Kuliner Khas Melayu Riau. Pekanbaru: Pemerintah Provinsi Riau.
- ↑ Effendy, T. (2015). Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Adicipta Karya Nusa. (Referensi mengenai nilai filosofis dalam penyajian makanan tradisional Melayu).
- ↑ Hamidah, S. (2019). Teknologi Pengolahan Pangan Lokal: Diversifikasi Buah Cempedak Menjadi Lempok. Jurnal Teknologi Pertanian Universitas Riau, 11(2), 78-85.
