Koyabu

Dari WikiPangan
Revisi sejak 10 Februari 2026 00.19 oleh Abdul.rizal (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi ''''Koyabu''' adalah kue basah tradisional khas masyarakat Manado dan Minahasa di Sulawesi Utara. Identitas utama kue ini terletak pada kemasannya yang unik dibungkus dengan daun pandan besar yang dilipat menyerupai limas segitiga. Aroma pandan yang meresap kuat ke dalam adonan menjadi ciri khas yang tak tergantikan. Berbeda dengan Lemet di Jawa yang berbahan dasar singkong dan dibungkus daun pisang, Koyabu Manado umumnya menggunakan bahan das...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Koyabu adalah kue basah tradisional khas masyarakat Manado dan Minahasa di Sulawesi Utara. Identitas utama kue ini terletak pada kemasannya yang unik dibungkus dengan daun pandan besar yang dilipat menyerupai limas segitiga. Aroma pandan yang meresap kuat ke dalam adonan menjadi ciri khas yang tak tergantikan.

Berbeda dengan Lemet di Jawa yang berbahan dasar singkong dan dibungkus daun pisang, Koyabu Manado umumnya menggunakan bahan dasar Tepung Ketan putih yang dicampur dengan kelapa parut. Di dalamnya tersembunyi gula merah yang akan meleleh saat dikukus, menciptakan kejutan rasa manis di setiap gigitan. Kue ini adalah teman setia bagi warga Manado saat menikmati kopi pagi (smokol) atau teh sore.

Filosofi: Segitiga Pandan

Bentuk segitiga atau kerucut pada bungkusan Koyabu bukan sekadar estetika. Dalam budaya kuliner Nusantara, bentuk yang mengerucut ke atas (seperti tumpeng) sering dimaknai sebagai simbol hubungan vertikal dengan Tuhan (keilahian) dan harapan yang tinggi.

Namun, aspek paling pragmatis dan jenius dari Koyabu adalah penggunaan daun pandan sebagai pembungkus sekaligus pewangi alami (natural perfuming). Daun pandan menjaga kelembapan kue agar tidak kering saat dikukus, sekaligus mentransfer aroma wangi yang menenangkan. Masyarakat Minahasa percaya bahwa kue yang wangi akan mengundang selera dan kebahagiaan bagi siapa saja yang menyantapnya.

Karakteristik Rasa

  • Aroma adalah kekuatan utamanya. Wangi daun pandan yang terkena uap panas sangat dominan, menutupi aroma tepung atau amis telur.
  • Tekstur Bagian luarnya kenyal dan lengket khas ketan, namun bertekstur kasar karena campuran kelapa parut yang melimpah.
  • Rasa Gurih kelapa yang asin-sedap berpadu kontras dengan lelehan gula merah yang manis legit di bagian tengah.

Bahan dan Proses Pembuatan

Pembuatan Koyabu membutuhkan keterampilan tangan khusus dalam melipat daun pandan agar rapat dan tidak bocor saat gula mencair.

Bahan Utama

  • 250 gram Tepung Ketan Putih.
  • 200 gram Kelapa Parut (pilih yang setengah tua/mengkal, kupas kulit arinya agar putih bersih).
  • 150 gram Gula Merah / Gula Aren (sisir halus untuk isian).
  • 1/2 sdt Garam.
  • Air secukupnya (untuk membasahi adonan).
  • Daun Pandan yang lebar dan panjang (bersihkan).

Langkah Pengolahan

  1. Persiapan Daun Pilih daun pandan yang lebar. Potong bagian pangkal yang keras. Lipat bagian ujung daun membentuk corong atau limas segitiga yang rapat di bagian bawahnya. Kunci lipatan ini agar tidak lepas. Ini tahap tersulit; jika bocor, gula merah akan tumpah mengotori kukusan.
  2. Pembuatan Adonan Campurkan tepung ketan, kelapa parut, dan garam dalam wadah. Perciki dengan sedikit air. Aduk rata menggunakan tangan dengan teknik "diawur-awur" (diaduk ringan hingga berbutir lembap, jangan diuleni sampai kalis padat). Adonan harus tetap berurai namun menyatu jika dikepal.
  3. 'Pengisian
    • Masukkan sedikit adonan ketan-kelapa ke dalam corong daun pandan (sebagai dasar).
    • Beri isian gula merah sisir di tengahnya.
    • Tutup kembali dengan adonan ketan-kelapa hingga penuh.
    • Lipat sisa daun pandan ke bawah untuk menutup rapat bagian atas kue. Sematkan lidi atau tusuk gigi untuk mengunci bungkusan.
  4. Pengukusan: Panaskan dandang kukusan hingga air mendidih bergolak. Susun Koyabu di dalamnya (beri jarak agar uap merata). Kukus selama 20–30 menit hingga matang tanak.
  5. Penyajian: Angkat dan dinginkan. Koyabu lebih nikmat disantap saat hangat ketika gula merah di dalamnya masih lumer, namun tetap lezat saat dingin karena teksturnya menjadi lebih kenyal (set).

Referensi