Trubuk

Pernah dengar tentang trubuk? Nama ini mungkin terdengar asing di telinga banyak orang, tapi di beberapa daerah Indonesia sayuran ini sudah lama dikenal sebagai bagian dari kuliner lokal salah satunya di Desa Citorek Barat Banten. Trubuk itu bukan telur ayam atau ikan, melainkan bagian dari tanaman tebu yang spesial!
Trubuk merupakan salah satu tanaman asli dataran tinggi Indonesia yang termasuk ke dalam jenis bunga, namun berbentuk seperti tebu dengan batang beruas ruas, memiliki warna khas yaitu hijau kemerahan.[1]
Secara ilmiah, trubuk berasal dari tanaman yang disebut Saccharum edule dan termasuk satu spesies yang berkerabat dengan tebu (Saccharum officinarum). Bedanya, yang dimanfaatkan bukan batangnya yang manis, tetapi bagian bunga atau pucuk tebu yang membengkak ketika sudah dewasa. Saat dibuka, bagian dalamnya terlihat seperti sekumpulan putih kekuningan yang mirip telur ikan, sehingga orang juga menyebutnya tebu telur.
Karena bentuknya yang khas, masyarakat setempat memberi berbagai sebutan sesuai budaya masing-masing. Di Simalungun dikenal sebagai tobu bunga, di Manado disebut sayur lilin, di Maluku sayur trubu, di Ambon dikenal sebagai tebu telur atau tubu telor ikan, sementara di Lampung disebut bunga tobu. Di Jawa disebut tebu endog, di Talaud dan Sangihe disebut bambiada atau bembiade, di Minahasa dinamai pola pera, dan di Ternate dikenal dengan sebutan idawaho. [2]

Klasifikasi
- Kingdom – Plantae
- Sub Kingdom – Tracheobionta
- Divisi – Magnoliophyta
- Super Divisi – Spermatophyta
- Kelas – Liliopsida
- Ordo – Poales
- Famili – Poaceae
- Genus – Saccharum
Olahan
Beberapa cara populer mengolahnya antara lain:
- Sayur berkuah seperti sayur lodeh, sayur asem, atau kari.
- Ditumis atau dikukus.
- Dihidangkan mentah sebagai lalapan.
- Dijadikan tepung untuk membuat kerupuk dan brownies.[3]
Kandungan Zat Gizi
Komposisi zat gizi trubuk dihitung per 100 g, dengan berat yang dapat dimakan 20 %. [4]
| Komponen | Kandungan |
|---|---|
| Air (Water) | 91.0 g |
| Energi (Energy) | 30 Kal |
| Protein (Protein) | 4.6 g |
| Lemak (Fat) | 0.4 g |
| Karbohidrat (CHO) | 3.0 g |
| Serat (Fibre) | 0.8 g |
| Abu (ASH) | 1.0 g |
| Kalsium (Ca) | 40 mg |
| Fosfor (P) | 80 mg |
| Besi (Fe) | 2.0 mg |
| Natrium (Na) | 699 mg |
| Tembaga (Cu) | 0.20 mg |
| Seng (Zn) | 1.1 mg |
| Beta-Karoten (Carotenes) | 12 mcg |
| Karoten Total (Re) | 0 mcg |
| Thiamin (Vit. B1) | 0.08 mg |
| Riboflavin (Vit. B2) | 0.20 mg |
| Niasin (Niacin) | 1.2 mg |
| Vitamin C (Vit. C) | 50 mg |
Referensi
- ↑ Effendi, S., Maryam, S., & Azura, D. N. (2024). ANALISIS KANDUNGAN FLAVONOID DAN FENOLIK TOTAL DARI ESKTRAK DAN FRAKSI TANAMAN BATANG TEBU TELUR (Saccharum Edule Hasskarl). Journal of Pharmacopolium, 7(3), 58-70.
- ↑ https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-tebu-telur
- ↑ Sari, Y. S., Radiansah, D., Mustangin, A., Hendro, M., Sari, S. V., Beni, Y., & Yudistina, V. (2024). PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN BUNUT KABUPATEN SANGGAU MELALUI PELATIHAN TEPUNG TEBU TELUR MENJADI OLAHAN PANGAN. Jurnal Abditani, 7(2), 155-158.
- ↑ Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi Masyarakat. Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2018. https://panganku.org/id-ID/view.
