Utti Manurung

Dari WikiPangan

Utti Manurung atau Unti Manurung adalah kultivar pisang lokal yang secara taksonomi nasional dikenal sebagai Pisang Kepok. Utti manurung adalah salah satu kultivar pisang dari kelompok kultivar ABB. Pisang ini termasuk kelompok pisang olah karena tinggi kandungan patinya. Meskipun secara biologis sama dengan pisang kepok di Jawa, dalam kosmologi masyarakat Sulawesi Selatan, Utti Manurung memiliki stratifikasi sosial yang jauh lebih tinggi.

Pisang ini dianggap sebagai "induk" dari segala pisang di tanah Bugis. Ia tidak hanya dikonsumsi sebagai buah meja, melainkan menjadi bahan baku mutlak dan tidak tergantikan untuk berbagai hidangan adat, terutama kue Barongko yang filosofis.

Etimologi dan Mitologi

Nama Utti berarti pisang, dan Manurung berarti "yang turun" (dari langit/dunia atas). Penggunaan kata "Manurung" menghubungkan buah ini dengan konsep To Manurung—sosok manusia suci/dewa dalam mitologi Bugis yang turun ke bumi untuk menjadi pemimpin pertama.

Penamaan ini menyiratkan bahwa Utti Manurung bukan sekadar tanaman budidaya biasa, melainkan "anugerah" yang diturunkan untuk kelangsungan hidup. Karena label "Manurung" inilah, pisang jenis ini kerap dijadikan simbol doa dalam hantaran pernikahan (Erang-erang). Kehadirannya menyimbolkan harapan agar kehidupan rumah tangga pengantin memiliki derajat yang mulia dan senantiasa tumbuh (beranak-pinak) seperti tunas pisang.

Karakteristik Fisik

Utti Manurung (khususnya varian kuning) memiliki ciri fisik yang membedakannya dari pisang buah (seperti Ambon atau Cavendish):

  • Bentuk: Buah cenderung gemuk, pendek, dan bersegi (gepeng/tidak bulat sempurna).
  • Kulit: Sangat tebal dan liat. Kulit tebal ini melindunginya dari kerusakan fisik, yang secara filosofis sering dikaitkan dengan "benteng diri" atau harga diri yang kuat.
  • Daging Buah: Berwarna kuning kemerahan (krem) hingga oranye saat matang. Teksturnya padat, kenyal, dan tidak lembek/berair, sehingga sangat ideal untuk diolah melalui pemanasan (kukus atau goreng).

Peran Vital dalam Kuliner Adat

Dalam dapur tradisional Bugis-Makassar, Utti Manurung adalah raja. Hampir seluruh kue tradisional berbasis pisang mewajibkan penggunaan jenis ini.

  • Barongko: Kue bangsawan ini wajib menggunakan Utti Manurung yang sudah sangat matang. Penggunaan pisang jenis lain (seperti pisang raja atau ambon) dianggap "merusak" identitas dan rasa Barongko. Filosofi Barongko (kejujuran) diambil dari sifat Utti Manurung: dibungkus dengan daunnya sendiri, yang menandakan kesatuan antara "kulit dan isi" (apa yang tampak di luar sama dengan yang di dalam).
  • Sanggara' Peppe': Pisang goreng geprek khas Makassar ini hanya bisa dibuat menggunakan Utti Manurung muda (mengkal). Tekstur patinya yang tinggi membuat pisang ini renyah saat digoreng dan tidak hancur saat digeprek (di-peppe').
  • Pallu Butung: Hidangan pisang berkuah santan ini juga mengandalkan kelembutan tekstur Utti Manurung yang matang.

Referensi