Tronggong

Tronggong merupakan bunga dari pohon tropis yang dikenal dengan nama turi (Sesbania grandiflora). Nama ilmiah Sesbania berasal dari kata Arab untuk salah satu spesies dalam kelompok ini, yaitu “sesban”. Sementara itu, kata grandiflora berasal dari bahasa Latin yang berarti “berbunga besar”, sesuai ciri khas tanaman ini yang memang memiliki bunga besar dan mencolok.Pohon turi punya banyak nama lokal di berbagai daerah. Nama-nama ini muncul karena tanaman ini sangat luas persebarannya. [1]
Di Jawa, Sunda, Ternate, Tidore, Halmahera, Sangihe, hingga Alor, masyarakat menyebutnya turi. Nama ini termasuk yang paling umum digunakan. Namun, di wilayah lain sebutannya bisa berbeda-beda, misalnya toroy (Medan), tuwi (Bali), ketujur (Sasak), turing atau suri (Sulawesi Utara), tuli (Talaud), palawu (Bima), gala-gala (Timor), serta ngganggala atau kalala (Rote).
Selain itu, masyarakat Madura juga mengenalnya sebagai suri, di Gorontalo disebut uliango, di Sumba disebut tanunu, sedangkan di wilayah Bare’e dan Makassar tanaman ini dikenal dengan sebutan kayu jawa. Adapun di Bugis, tronggong juga dikenal dengan nama ajatulama. Sementara itu, nama Inggrisnya, yaitu agathi, ternyata dipinjam dari bahasa Bengali, yakni agati.
Pemanfaatan
Bagian yang paling sering dimakan adalah bunganya, terutama bunga yang masih segar dan belum terlalu tua. Bunga turi biasanya direbus, dikukus, atau ditumis. Selain bunga, daun turi juga dikeringkan dan diseduh sebagai teh herbal.[2] Sementara polong muda dapat dimakan seperti buncis karena teksturnya masih renyah jika dipetik saat muda.
Referensi
- ↑ Orwa C, Mutua A, Kindt R, Jamnadass R, Simons A. 2009. Agroforestree Database: a tree reference and selection guide version 4.0. World Agroforestry Centre, Kenya. https://www.worldagroforestry.org/output/agroforestree-database accessed on 06-04-2026.
- ↑ Rizkullah ZA, Udiyani FN, Urningsih N, Antini I, Asmatullah P, Azzahra R. 2024. Pembuatan teh herbal daun turi (Sesbania grandiflora) sebagai upaya pencegahan stunting di Desa Kertasari Kecamatan Labuhan Haji. Jurnal Wicara Desa. 2(2):76-82.
