Bale ceppe

Dari WikiPangan
Revisi sejak 7 Februari 2026 19.29 oleh Fadilla.syam (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi ''''Bale Ceppe''' adalah produk olahan ikan tradisional khas masyarakat Suku Bugis, Sulawesi Selatan. Panganan ini dibuat dari ikan laut segar yang dibelah, dibersihkan, lalu dipipihkan (digencet) sebelum menjalani proses pengawetan alami melalui penggaraman dan penjemuran di bawah sinar matahari. Bale Ceppe dikenal karena teksturnya yang tipis, kering, dan rasa gurih yang sangat konsentrat, menjadikannya salah satu lauk pauk paling populer di meja makan masya...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Bale Ceppe adalah produk olahan ikan tradisional khas masyarakat Suku Bugis, Sulawesi Selatan. Panganan ini dibuat dari ikan laut segar yang dibelah, dibersihkan, lalu dipipihkan (digencet) sebelum menjalani proses pengawetan alami melalui penggaraman dan penjemuran di bawah sinar matahari. Bale Ceppe dikenal karena teksturnya yang tipis, kering, dan rasa gurih yang sangat konsentrat, menjadikannya salah satu lauk pauk paling populer di meja makan masyarakat Sulawesi Selatan.

Makna Budaya dan Ketahanan Pangan

Secara historis, pembuatan Bale Ceppe merupakan strategi kearifan lokal masyarakat nelayan Bugis dalam menghadapi hasil tangkapan yang melimpah (musim panen ikan). Agar ikan tidak cepat membusuk, masyarakat melakukan proses pengeringan yang sangat maksimal sehingga ikan dapat disimpan dalam waktu berbulan-bulan tanpa bantuan lemari pendingin.

Bale Ceppe sering dianggap sebagai "lauk darurat" yang praktis namun nikmat. Dalam budaya Bugis, Bale Ceppe sangat identik sebagai pasangan pendamping untuk hidangan berkuah seperti Uta Dada atau Sayur Bening, serta sering dibawa sebagai bekal oleh masyarakat yang melakukan perjalanan jauh atau merantau.

Kandungan Gizi

Sebagai produk protein hewani yang dikeringkan, Bale Ceppe memiliki karakteristik gizi sebagai berikut:

  • Protein Konsentrat: Karena kadar airnya sangat rendah, kandungan protein per satuan berat menjadi lebih tinggi dibandingkan ikan segar.
  • Kalsium: Karena bentuknya yang tipis dan sering digoreng hingga garing, tulang-tulang kecil ikan ceppe dapat ikut dikonsumsi, sehingga menjadi sumber kalsium yang baik.
  • Natrium: Mengandung garam sebagai pengawet alami, sehingga perlu diperhatikan bagi penderita hipertensi.

Bahan dan Alat

Bahan Utama

  • Ikan laut segar (biasanya menggunakan jenis Ikan Lajang, Ikan Tembang, atau Ikan Selar).
  • Garam laut kasar (Garam Kristal).
  • Air bersih untuk mencuci.

Alat

  • Pisau tajam (untuk membelah ikan).
  • Talenan.
  • Rak penjemuran (Para-para) yang terbuat dari bambu.
  • Alat pemipih (opsional, untuk memastikan ikan benar-benar ceppe/pipih).

Cara Pengolahan

  1. Pembersihan: Ikan segar dibuang sisiknya dan dikeluarkan isi perutnya. Kepala ikan bisa tetap diikutkan atau dibuang sesuai selera.
  2. Pembelahan: Ikan dibelah dari punggung hingga terbuka lebar namun tidak sampai putus (bentuk kupu-kupu).
  3. Pemipihan (Ceppe): Ikan diletakkan di atas bidang datar lalu ditekan atau dipukul perlahan agar dagingnya melebar dan menjadi sangat tipis (pipih).
  4. Penggaraman: Ikan dilumuri dengan garam secara merata atau direndam dalam larutan garam selama beberapa jam agar bumbu meresap.
  5. Penjemuran: Ikan disusun di atas para-para bambu dan dijemur di bawah sinar matahari terik selama 2 hingga 3 hari hingga benar-benar kering dan teksturnya menjadi kaku.

Saran Penyajian

Bale Ceppe paling nikmat disajikan dengan cara:

  1. Digoreng Garing: Digoreng dengan api kecil hingga teksturnya renyah seperti kerupuk.
  2. Sambal Tumis: Ikan yang sudah digoreng kemudian dicampur dengan tumisan sambal tomat pedas (Bale Ceppe Masak Mandura).
  3. Pendamping Kuah: Disajikan bersama nasi hangat dan sayur santan.

Referensi

  • Teknologi Pengolahan Ikan Tradisional Sulawesi Selatan, Dinas Kelautan dan Perikanan.
  • Kamus Bahasa Bugis-Indonesia, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan.
  • Dokumentasi Pangan Masyarakat Maritim Bugis, Universitas Hasanuddin.