Ruhu'-Ruhu'

Dari WikiPangan
Revisi sejak 21 Desember 2025 11.54 oleh Andi.pada (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi 'jmpl|Katakerja. (2022). Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Ruhu’-Ruhu’ merupakan salah satu makanan khas dari Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Kawasan Adat Ammatoa, Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang. Makanan ini se...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Katakerja. (2022). Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Ruhu’-Ruhu’ merupakan salah satu makanan khas dari Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Kawasan Adat Ammatoa, Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang. Makanan ini selalu hadir dalam upacara pernikahan. Ruhu’-Ruhu’ memiliki rasa yang manis dan tekstur yang garing. Kue ini digoreng dengan menggunakan Sai' yaitu alat menampung adonan yang di bawahnya sudah diberi lubang kecil. Biasanya, Ruhu’-Ruhu’ disajikan di atas daun pisang atau tempat kue yang terbuat dari anyaman daun talas yang disebut tide.

Segala hal dan tradisi di Kawasan Adat Ammatoa menyimpan nilai tersendiri. Ruhu’-Ruhu’ yang dilambangkan sebagai perempuan karena pembuatannya yang dilakukan oleh seorang gadis sambil memukul-mukul Sai yang memiliki suara yang menenangkan dan memikat. Hal tersebut dapat diartikan bahwa perempuan memiliki pesona yang agung, suci dan mulia di hadapan laki-laki. Oleh karena itu, kue ini selalu ada dalam upacara pernikahan.

Ruhu’-Ruhu’ biasanya disajikan bersama dengan Dumpi Eja. Kedua kue tersebut tidak dapat dipisahkan karena memiliki simbol. Ruhu’-Ruhu’ melambangkan perempuan, sedangkan Dumpi Eja melambangkan laki-laki.[1]

Bahan

  • 5 liter tepung beras
  • 3,5 kg gula merah

Cara Membuat

  • Tepung beras dan gula merah yang sudah dicairkan ditempatkan dalam sebuah wadah yang kemudian dicampur, adonan terus diaduk sampai mengental dan tercampur merata.
  • Sai (alat menampung adonan yang di bawahnya sudah diberi lubang kecil) digantung di kayu di atas rumah, selanjutnya minyak goreng dipanaskan di wajan, kemudian adonan Ruhu’-Ruhu’ dimasukkan dalam Sai, setelah itu sai dipukul-pukul menggunakan kayu kecil agar adonan keluar seperti tali atau rambut dan diarahkan ke minyak yang mendidih. Lalu diputar untuk membentuk kue Ruhu’-Ruhu’.
  • Dalam menggoreng adonan harus terus diperhatikan agar tidak gosong, setelah itu kue sudah dapat ditiriskan jika sudah matang dan siap disajikan.

Referensi

  1. Katakerja. (2022). Ensiklopedia Pangan Olahan SulSelBar. Makassar: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.