Biji Asam: Perbedaan antara revisi
(←Membuat halaman berisi 'al=Gambar|jmpl|232x232px|Gambar '''Biji asam''' adalah salah satu dari sekian banyak pangan lokal yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dulu biji asam difungsikan sebagai makanan pokok, namun sekarang hanya dijadikan cemilan untuk anak-anak. Ada juga yang mengolah biji asam ini sebagai pakan ternak. Biji Asam terkadang masih disajikan dalam Lauk Nutu bersama lauk lainnya seperti pada saat acara tertentu seperi H...') |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (5 revisi perantara oleh 3 pengguna tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[Berkas: | {{DISPLAYTITLE:Biji Manis}} | ||
[[Berkas:WhatsApp Image 2023-12-13 at 20.08.58 9a871bcc.jpg|jmpl|267x267px|Biji asam dalam olahan Lauk Nutu. Biji asam berwarna kecoklatan dan berukuran lebih besar dari bulir jagung.]] | |||
'''Biji asam''' adalah salah satu dari sekian banyak [[Pangan Lokal|pangan lokal]] yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dulu biji asam difungsikan sebagai makanan pokok, namun sekarang hanya dijadikan cemilan untuk anak-anak. Ada juga yang mengolah biji asam ini sebagai pakan ternak. | '''Biji asam''' adalah salah satu dari sekian banyak [[Pangan Lokal|pangan lokal]] yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dulu biji asam difungsikan sebagai makanan pokok, namun sekarang hanya dijadikan cemilan untuk anak-anak. Ada juga yang mengolah biji asam ini sebagai pakan ternak. | ||
Biji Asam terkadang masih disajikan dalam Lauk Nutu bersama lauk lainnya seperti pada saat | Biji Asam terkadang masih disajikan dalam [[Lauk Nutu]] bersama lauk lainnya yang banyak disajikan pada acara-acara tertentu seperti pada saat Hari Syukur Panen. | ||
== ''' | == Morfologi == | ||
1. | Biji asam berasal dari buah tanaman asam jawa (''Tamarindus indica''), yaitu pohon berkayu besar dari famili Fabaceae yang banyak tumbuh di wilayah tropis, termasuk Nusa Tenggara Timur. ''Tamarindus indica'' adalah pohon tropis dengan ukuran sedang hingga besar yang termasuk ke dalam famili Fabaceae, memiliki tajuk yang luas dan mampu tumbuh hingga sekitar 24-30 m dengan diameter batang yang besar, dapat hidup di ketinggian 1.500 mdpl, serta ditandai oleh daun majemuk berganda yang tersusun berselang-seling dengan sekitar 10–20 pasang anak daun sempit berbentuk oval dengan panjang 12,5-25 mm<ref>Azad S. 2018. Tamarindus indica. In ''Exotic fruits'' (pp. 403-412). Academic Press.</ref>. | ||
Bunganya berwarna kekuningan atau agak kemerahan dan tersusun dalam kelompok kecil. Buahnya merupakan polong berkuit keras, indehiscent (tidak membuka sendiri saat matang), memanjang sekitar 10–18 cm dengan kulit cokelat, di dalamnya terkandung daging buah yang lengket. Biji asam yang menjadi fokus pemanfaatan pangan berbentuk bertangkai 3–10 biji per polong, berukuran sekitar 1,6 cm, dengan testa (kulit biji) yang keras, berwarna cokelat gelap, halus, licin, dan keras sehingga perlu perlakuan pengolahan sebelum dikonsumsi. | |||
== Budaya == | |||
Di desa Hoi, Timor Tengah Selatan, beberapa masyarakat mengonsumsi biji asam langsung bersama jantung pisang seperti halnya masyarakat mengonsumsi sirih pinang. Biji asam dan jantung pisang dikonsumsi sebagai cemilan agar tidak mengantuk atau biasa dikatakan oleh masyarakat “untuk kasi terang mata”. Biji asam dan jantung pisang juga dikonsumsi sebagai tolakan atau makanan tambahan kala meminum kopi. | |||
== | == Cara Mengolah == | ||
# Goreng biji asam diatas seng selama 30 menit-1 jam tanpa minyak dan diaduk terus agar tidak hangus. Hal ini bertujuan untuk memudahkan mengupas kulit biji asam. | |||
# Angkat biji asam lalu biarkan hingga dingin. | |||
# Pecahkan kulit biji asam dengan batu. | |||
# Rendam semalaman agar tidak keras saat dimasak dan dikonsumsi. | |||
# Rebus biji asam hingga matang. Dan siap disantap. | |||
Beberapa masyarakat di Timor Tengah Selatan, juga menggunakan cara lain untuk mengolah biji asam, misalnya merendam biji asam selama 2-3 hari agar biji asam mudah untuk dikelupas. | |||
== Kandungan Gizi == | |||
Hingga saat penulisan artikel ini (maret 2024), belum banyak ditemukan kandungan gizi dari biji asam. Sejumlah artikel menyebutkan bahwa biji asam mengandung karbohidrat, protein, serat, serta tanin.<ref>Pengaruh Pengukusan Terhadap Kandungan Nutrisi Biji [[Asam Jawa]] (Tamarindus indica L) Sebagai Bahan Pakan Unggas | Wahyuni | TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (ub.ac.id)</ref><ref>EVALUASI POTENSI NUTRISI BIJI ASAM (Tamarindus indica) HASIL FERMENTASI DENGAN Saccharomyces cerevisiae SEBAGAI PAKAN BABI INDUK (EVALUATION ON NUTRIENT POTENCY OF Tamarindus indica SEEDS FERMENTED WITH Saccharomyces cerevisiaeFOR SOW DIETS) | JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN (undana.ac.id)</ref> | |||
== Rujukan == | |||
<references /> | <references /> | ||
[[Kategori:Nusa Tenggara Timur]] | |||
[[Kategori:Olahan Pangan]] | |||
[[Kategori:Matang]] | |||
Revisi terkini sejak 15 Januari 2026 11.46

Biji asam adalah salah satu dari sekian banyak pangan lokal yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dulu biji asam difungsikan sebagai makanan pokok, namun sekarang hanya dijadikan cemilan untuk anak-anak. Ada juga yang mengolah biji asam ini sebagai pakan ternak.
Biji Asam terkadang masih disajikan dalam Lauk Nutu bersama lauk lainnya yang banyak disajikan pada acara-acara tertentu seperti pada saat Hari Syukur Panen.
Morfologi
Biji asam berasal dari buah tanaman asam jawa (Tamarindus indica), yaitu pohon berkayu besar dari famili Fabaceae yang banyak tumbuh di wilayah tropis, termasuk Nusa Tenggara Timur. Tamarindus indica adalah pohon tropis dengan ukuran sedang hingga besar yang termasuk ke dalam famili Fabaceae, memiliki tajuk yang luas dan mampu tumbuh hingga sekitar 24-30 m dengan diameter batang yang besar, dapat hidup di ketinggian 1.500 mdpl, serta ditandai oleh daun majemuk berganda yang tersusun berselang-seling dengan sekitar 10–20 pasang anak daun sempit berbentuk oval dengan panjang 12,5-25 mm[1].
Bunganya berwarna kekuningan atau agak kemerahan dan tersusun dalam kelompok kecil. Buahnya merupakan polong berkuit keras, indehiscent (tidak membuka sendiri saat matang), memanjang sekitar 10–18 cm dengan kulit cokelat, di dalamnya terkandung daging buah yang lengket. Biji asam yang menjadi fokus pemanfaatan pangan berbentuk bertangkai 3–10 biji per polong, berukuran sekitar 1,6 cm, dengan testa (kulit biji) yang keras, berwarna cokelat gelap, halus, licin, dan keras sehingga perlu perlakuan pengolahan sebelum dikonsumsi.
Budaya
Di desa Hoi, Timor Tengah Selatan, beberapa masyarakat mengonsumsi biji asam langsung bersama jantung pisang seperti halnya masyarakat mengonsumsi sirih pinang. Biji asam dan jantung pisang dikonsumsi sebagai cemilan agar tidak mengantuk atau biasa dikatakan oleh masyarakat “untuk kasi terang mata”. Biji asam dan jantung pisang juga dikonsumsi sebagai tolakan atau makanan tambahan kala meminum kopi.
Cara Mengolah
- Goreng biji asam diatas seng selama 30 menit-1 jam tanpa minyak dan diaduk terus agar tidak hangus. Hal ini bertujuan untuk memudahkan mengupas kulit biji asam.
- Angkat biji asam lalu biarkan hingga dingin.
- Pecahkan kulit biji asam dengan batu.
- Rendam semalaman agar tidak keras saat dimasak dan dikonsumsi.
- Rebus biji asam hingga matang. Dan siap disantap.
Beberapa masyarakat di Timor Tengah Selatan, juga menggunakan cara lain untuk mengolah biji asam, misalnya merendam biji asam selama 2-3 hari agar biji asam mudah untuk dikelupas.
Kandungan Gizi
Hingga saat penulisan artikel ini (maret 2024), belum banyak ditemukan kandungan gizi dari biji asam. Sejumlah artikel menyebutkan bahwa biji asam mengandung karbohidrat, protein, serat, serta tanin.[2][3]
Rujukan
- ↑ Azad S. 2018. Tamarindus indica. In Exotic fruits (pp. 403-412). Academic Press.
- ↑ Pengaruh Pengukusan Terhadap Kandungan Nutrisi Biji Asam Jawa (Tamarindus indica L) Sebagai Bahan Pakan Unggas | Wahyuni | TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (ub.ac.id)
- ↑ EVALUASI POTENSI NUTRISI BIJI ASAM (Tamarindus indica) HASIL FERMENTASI DENGAN Saccharomyces cerevisiae SEBAGAI PAKAN BABI INDUK (EVALUATION ON NUTRIENT POTENCY OF Tamarindus indica SEEDS FERMENTED WITH Saccharomyces cerevisiaeFOR SOW DIETS) | JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN (undana.ac.id)
