Ikan Belida: Perbedaan antara revisi

Dari WikiPangan
(Artikel baru)
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(8 revisi perantara oleh 2 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
Ikan belida (''Chitala lopis'') merupakan ikan endemik yang hidup di perairan Sungai Musi dan anak sungainya di Sumatra Selatan. Tubuhnya pipih keperakan dengan corak hitam khas, dapat mencapai panjang lebih dari satu meter dan berat hingga tujuh kilogram<ref>Pusaka Rasa Nusantara. Keanekaragaman Bahan Pangan Indonesia.</ref>. Ikan ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sungai serta menjadi indikator kualitas lingkungan perairan. Populasinya kini menurun akibat pencemaran, rusaknya habitat, dan penangkapan berlebihan. Ikan belida telah dinyatakan punah pada tahun 2019<ref>''The IUCN Red List of Threatened Species'' in 2019. Diakses pada 5 September 2025.</ref> .  
[[Berkas:Ikan belida.jpg|jmpl|Foto: BRIN]]
'''Ikan belida (''Chitala lopis'')''' merupakan ikan air tawar endemik Indonesia dari keluarga Notopteridae, dikenal sebagai ikan pisau atau ikan pipih karena bentuk tubuhnya yang memanjang. Ikan ini hidup di perairan Sungai Musi dan anak sungainya di Sumatra Selatan. Tubuhnya pipih keperakan dengan corak hitam khas, dapat mencapai panjang lebih dari 1 meter dan berat hingga 7 kilogram<ref>Indonesian Gastronomy Foundation. 2025. Pusaka Rasa Nusantara: Keanekaragaman Bahan Pangan Indonesia. </ref>. Ikan ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sungai serta menjadi indikator kualitas lingkungan perairan. Populasi belida menurun akibat pencemaran, rusaknya habitat, dan penangkapan berlebihan, hingga akhirnya dinyatakan '''punah''' pada tahun 2020<ref>''The IUCN Red List of Threatened Species'' in 2019. https://www.iucnredlist.org/en. Diakses pada 5 September 2025.</ref>. Pada tahun 2023, spesies ini ditemukan kembali (rediscovery), sehingga memicu perhatian baru terhadap konservasinya. Meskipun belum masuk daftar perlindungan CITES, tekanan terhadap populasinya tetap tinggi sehingga upaya budidaya mulai dilakukan. Di tingkat nasional, Perpres No. 34 Tahun 2022 membatasi pemanfaatan ikan belida hanya untuk kepentingan riset agar peluang pemulihan populasinya di alam dapat terjaga. Selain bernilai ekologis, ikan belida memiliki nilai ekonomi dan budaya tinggi, serta menjadi maskot fauna Provinsi Sumatra Selatan.  


Selain memiliki nilai ekologis, ikan belida juga bernilai ekonomi dan budaya tinggi. Dagingnya yang lembut menjadi bahan utama berbagai pangan khas Sumatra Selatan seperti [[pempek]], kerupuk, [[tekwan]], dan [[model]] ikan. Di samping itu, daerah ini juga dikenal memiliki beragam olahan lokal berbahan dasar ikan baung, seperti pindang baung dan pepes baung, yang sama-sama menjadi bagian penting dari kekayaan kuliner perairan Musi. Karena peran dan nilainya yang khas, ikan belida ditetapkan sebagai maskot fauna Provinsi Sumatra Selatan, melambangkan identitas daerah sekaligus pentingnya pelestarian sumber daya perairan lokal.
== Olahan ==
Daging ikan belida yang lembut dan gurih telah lama dimanfaatkan sebagai bahan utama berbagai makanan khas Sumatra Selatan, seperti '''[[pempek]] belida''', '''kerupuk ikan''', '''[[tekwan]]''', dan '''[[model]] ikan'''. Cita rasa khasnya menjadikan ikan ini bagian penting dari tradisi kuliner masyarakat di sekitar Sungai Musi. Walaupun kini keberadaannya langka, resep dan teknik pengolahannya tetap dilestarikan sebagai warisan budaya daerah.


== Olahan ==
== Kandungan Gizi ==
Ikan belida memiliki cita rasa khas sekaligus kandungan gizi yang tinggi. Berikut kandungan gizi 100 gram ikan belida (''Chitala lopis'') segar berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2018 <ref>Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi Masyarakat. Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2018. https://panganku.org/id-ID/view. </ref>.
{| class="wikitable"
!'''Komponen Gizi'''
!'''Jumlah'''
!'''Satuan'''
|-
|Air (''Water'')
|79.2
|g
|-
|Energi (''Energy'')
|80
|Kal
|-
|Protein (''Protein'')
|14.7
|g
|-
|Lemak (''Fat'')
|1.4
|g
|-
|Karbohidrat (''CHO'')
|2.2
|g
|-
|Serat (''Fibre'')
|0.0
|g
|-
|Abu (''ASH'')
|2.3
|g
|-
|Kalsium (''Ca'')
|303
|mg
|-
|Fosfor (''P'')
|315
|mg
|-
|Besi (''Fe'')
|1.3
|mg
|-
|Natrium (''Na'')
|41
|mg
|-
|Kalium (''K'')
|356.0
|mg
|-
|Tembaga (''Cu'')
|0.00
|mg
|-
|Seng (''Zn'')
|0.8
|mg
|-
|Beta-Karoten (''Carotenes'')
|0
|mcg
|-
|Thiamin (''Vit. B1'')
|1.20
|mg
|-
|Riboflavin (''Vit. B2'')
|0.14
|mg
|-
|Niasin (''Niacin'')
|1.4
|mg
|}
 
== Rujukan ==
<references />oleh: Irma R
[[Kategori:Sumatera Selatan]]
[[Kategori:Bahan Pangan]]
[[Kategori:Matang]]

Revisi terkini sejak 8 Januari 2026 10.16

Foto: BRIN

Ikan belida (Chitala lopis) merupakan ikan air tawar endemik Indonesia dari keluarga Notopteridae, dikenal sebagai ikan pisau atau ikan pipih karena bentuk tubuhnya yang memanjang. Ikan ini hidup di perairan Sungai Musi dan anak sungainya di Sumatra Selatan. Tubuhnya pipih keperakan dengan corak hitam khas, dapat mencapai panjang lebih dari 1 meter dan berat hingga 7 kilogram[1]. Ikan ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sungai serta menjadi indikator kualitas lingkungan perairan. Populasi belida menurun akibat pencemaran, rusaknya habitat, dan penangkapan berlebihan, hingga akhirnya dinyatakan punah pada tahun 2020[2]. Pada tahun 2023, spesies ini ditemukan kembali (rediscovery), sehingga memicu perhatian baru terhadap konservasinya. Meskipun belum masuk daftar perlindungan CITES, tekanan terhadap populasinya tetap tinggi sehingga upaya budidaya mulai dilakukan. Di tingkat nasional, Perpres No. 34 Tahun 2022 membatasi pemanfaatan ikan belida hanya untuk kepentingan riset agar peluang pemulihan populasinya di alam dapat terjaga. Selain bernilai ekologis, ikan belida memiliki nilai ekonomi dan budaya tinggi, serta menjadi maskot fauna Provinsi Sumatra Selatan.

Olahan

Daging ikan belida yang lembut dan gurih telah lama dimanfaatkan sebagai bahan utama berbagai makanan khas Sumatra Selatan, seperti pempek belida, kerupuk ikan, tekwan, dan model ikan. Cita rasa khasnya menjadikan ikan ini bagian penting dari tradisi kuliner masyarakat di sekitar Sungai Musi. Walaupun kini keberadaannya langka, resep dan teknik pengolahannya tetap dilestarikan sebagai warisan budaya daerah.

Kandungan Gizi

Ikan belida memiliki cita rasa khas sekaligus kandungan gizi yang tinggi. Berikut kandungan gizi 100 gram ikan belida (Chitala lopis) segar berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2018 [3].

Komponen Gizi Jumlah Satuan
Air (Water) 79.2 g
Energi (Energy) 80 Kal
Protein (Protein) 14.7 g
Lemak (Fat) 1.4 g
Karbohidrat (CHO) 2.2 g
Serat (Fibre) 0.0 g
Abu (ASH) 2.3 g
Kalsium (Ca) 303 mg
Fosfor (P) 315 mg
Besi (Fe) 1.3 mg
Natrium (Na) 41 mg
Kalium (K) 356.0 mg
Tembaga (Cu) 0.00 mg
Seng (Zn) 0.8 mg
Beta-Karoten (Carotenes) 0 mcg
Thiamin (Vit. B1) 1.20 mg
Riboflavin (Vit. B2) 0.14 mg
Niasin (Niacin) 1.4 mg

Rujukan

  1. Indonesian Gastronomy Foundation. 2025. Pusaka Rasa Nusantara: Keanekaragaman Bahan Pangan Indonesia.
  2. The IUCN Red List of Threatened Species in 2019. https://www.iucnredlist.org/en. Diakses pada 5 September 2025.
  3. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi Masyarakat. Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2018. https://panganku.org/id-ID/view.

oleh: Irma R