Latoh

Dari WikiPangan
Revisi sejak 15 Januari 2026 10.06 oleh Balgies.fortuna (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Latoh, foto: Kanal Pengetahuan Farmasi UGM

Latoh (Caulerpa racemosa) atau dikenal juga sebagai anggur laut di jawa atau lawi-lawi di Sulawesi Selatan[1], merupakan alga yang membentuk struktur menyerupai gelembung daripada helaian daun. Awal mula budidaya komersial latoh dilakukan di Filipina, kemudian menyebar ke Jepang, yang keduanya merupakan konsumen utama alga hijau ini. Selanjutnya, kultivasi latoh juga dilakukan di Vietnam, Taiwan, dan wilayah selatan Tiongkok.

Lawi-lawi yang dijual di pasar (foto oleh Balgies Devi Fortuna)
Lawi-lawi yang dijual di pasar (foto oleh Balgies Devi Fortuna)

Latoh memiliki rasa cruchy ”plethus-phletus” asin segar. Alga ini termasuk pangan musiman yang mudah rusak, sehingga penanganan pasca panen seperti pencucian, pengeringan ringan, dan penyimpanan dingin diperlukan untuk menjaga kualitas. Latoh tumbuh melekat di dasar perairan, termasuk jenis rumput laut yang memerlukan kondisi laut bersih untuk berkembang optimal[2].

Olahan

Lawi-lawi yang sudah diolah (foto oleh Balgies Devi Fortuna)
Lawi-lawi yang sudah diolah (foto oleh Balgies Devi Fortuna)

Tanaman laut yang kerap dijuluki "kaviar hijau" ini populer di Oseania serta Asia Timur dan Tenggara, biasa dikonsumsi segar atau dijadikan salad, seperti ensaladang lato di Filipina. alga ini memiliki rasa gurih khas yang sering disebut “rasa laut” dan kaya akan iodin. Di Indonesia, khususnya di pesisir Jawa, latoh dimanfaatkan dalam berbagai olahan pangan tradisional, antara lain:

  • Urap latoh: Masyarakat pesisir Rembang, Jawa Tengah, membersihkan latoh segar, lalu mencampurnya dengan kelapa parut dan bumbu urap, menjadi lauk pelengkap nasi.
  • Cerancam latoh: Hampir serupa dengan urap, namun dicampur dengan sayuran mentah lain, sehingga tekstur dan rasa lebih variatif.
  • Sirup latoh: Latoh direndam dalam air dengan tambahan gula dan perasan jeruk nipis, menghasilkan minuman segar bercita rasa laut yang unik.

Di Sulawesi Selatan, anggur laut ini biasanya disajikan mentah bersama dengan jeruk nipis dan garam.

Morfologi

Latoh memiliki stolon panjang 20–100 cm, ramping (1–2 mm), dengan cabang terminal 10–20 mm. Talus bercabang dan menempel pada substrat tipis, dengan daun muda mengandung mineral lebih rendah daripada daun tua. Warna hijau pada talus dihasilkan oleh klorofil, dan tanaman ini memiliki kemampuan fotosintetik yang tinggi. Kandungan caulerpin sebagai antioksidan tersebar di seluruh talus, terutama pada daun, dan tetap stabil sepanjang tahun[3].

Zat Gizi

Latoh mengandung protein 10–20%, lemak ~1%, karbohidrat rendah, serat tinggi, dan mineral penting dengan abu 15–40% berat kering. Kandungan air bervariasi antara 65–90%, rata-rata sekitar 85%, sehingga segar dan mudah dikonsumsi. Senyawa bioaktif seperti caulerpin memberikan manfaat antioksidan tambahan, yang mendukung nilai gizi dan keamanan konsumsi tanaman ini[3].

Referensi

  1. Jay Fajar. Inilah Lawi-lawi, Anggota Baru Kelompok Rumput Laut Andalan Indonesia. Mongabay [Internet]. 2017 [dikutip 15 Jan 26]. Tersedia dari: https://mongabay.co.id/2017/05/24/inilah-lawi-lawi-anggota-baru-kelompok-rumput-laut-andalan-indonesia/.
  2. Indonesian Gastronomy Foundation. 2025. Pusaka Rasa Nusantara: Keanekaragaman Bahan Pangan Indonesia.
  3. 3,0 3,1 Ariyanti. Latoh Tanaman Tambak Laut Jepara Yang Kaya akan Manfaat, Kanal Pengetahuan Farmasi Universitas Gadjah Mada [Internet]. 2026 [dikutip[p 15 Jan 26]. Tersedia dari: https://kanalpengetahuan.farmasi.ugm.ac.id/2024/02/05/latoh-tanaman-tambak-laut-jepara-yang-kaya-akan-manfaat/