Bisbul

Dari WikiPangan
Revisi sejak 3 September 2026 17.30 oleh Balgies.fortuna (bicara | kontrib) (membuat artikel baru)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Bisbul dipohon (sumber: Balgies D Fortuna)
Bisbul dipohon (sumber: Balgies D Fortuna)
Buah Bisbul Matang (Sumber: Balgies D Fortuna)
Buah Bisbul Matang (Sumber: Balgies D Fortuna)

Bisbul adalah buah tropis berbulu halus seperti beludru yang selama lebih dari satu abad tumbuh di pekarangan rumah warga Bogor, namun kini semakin jarang dijumpai di pasar maupun di pekarangan generasi baru. Buah ini termasuk kelompok pangan lokal yang kurang dimanfaatkan (underutilized food), padahal menyimpan nilai gizi, nilai budaya, dan nilai ekologi yang layak diangkat kembali.

Nama dan Klasifikasi

Nama ilmiah yang diterima untuk bisbul adalah Diospyros blancoi A.DC., anggota suku Ebenaceae, kerabat dekat kesemek (Diospyros kaki) dan kayu hitam atau eboni.[1] Dalam banyak pustaka dan artikel ilmiah, jenis ini juga ditulis dengan nama sinonim Diospyros discolor Willd., serta Diospyros philippensis dan Diospyros mabolo.[1][2]

Sebutan lokal untuk bisbul mencerminkan tekstur dan aroma buahnya. Di Melayu dan sebagian Sumatera dikenal sebagai buah mentega dan buah lemak karena daging buah matangnya lembut dan berlemak di lidah. Masyarakat Jawa menyebutnya sembolo. Di Filipina, sebagai daerah asalnya, buah ini dikenal sebagai mabolo, sedangkan pohon dan kayunya disebut kamagong. Dalam bahasa Inggris, bisbul disebut velvet apple atau velvet persimmon, dan di Thailand disebut marit.[2][3]

Ciri Botani

Bisbul merupakan pohon hijau abadi yang dapat mencapai tinggi 15 hingga 32 meter, dengan batang lurus berwarna gelap dan diameter hingga 80 sentimeter. Tajuknya rapat berbentuk kerucut sehingga pohon ini juga kerap ditanam sebagai peneduh. Daunnya tunggal, tersusun berseling, berbentuk lonjong dengan permukaan bawah keperakan, dan daun mudanya berwarna merah muda kemerahan yang khas.[2][4]

Bisbul bersifat berumah dua (dioecious), artinya bunga jantan dan bunga betina berada pada individu pohon yang berbeda. Karena itu, pohon betina hanya akan berbuah baik apabila terdapat pohon jantan di sekitarnya, sebuah hal penting yang sering luput dalam penanaman skala pekarangan.[4]

Buahnya bulat hingga bulat gepeng berukuran sekitar 5 hingga 12 sentimeter kali 8 hingga 10 sentimeter, tertutup bulu halus rapat menyerupai beludru, berwarna cokelat kemerahan dan menjadi merah cerah ketika masak. Daging buahnya keputihan hingga krem, padat, agak kering, dengan rasa manis sedikit sepat. Aroma kulit buahnya tajam dan sering dibandingkan dengan keju atau durian, sehingga kulit beserta bulunya sebaiknya dikupas dan dibuang sebelum buah dikonsumsi.[2][4]

Asal-Usul dan Sebaran

Sebaran alami bisbul mencakup Taiwan bagian timur dan selatan, Filipina, hingga Kalimantan bagian timur. [1]Jenis ini kemudian disebarkan ke berbagai wilayah tropis, termasuk Jawa dan Semenanjung Malaya sekitar tahun 1881, serta ke Kebun Raya Singapura dan Kalkuta.[5]

Di Indonesia, Bogor menjadi pusat penyebaran utama. Kehadiran Kebun Raya Bogor yang didirikan pada 1817 diduga kuat menjadi pintu masuk dan sarana penyebaran bisbul ke pekarangan penduduk sekitarnya, sehingga buah ini melekat sebagai buah khas Bogor.[3][5] Selain Jawa Barat, bisbul juga ditemukan di Jawa Timur dan beberapa daerah tropis lain di Nusantara.[3]

Kandungan Gizi

Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia, kandungan gizi bisbul segar per 100 gram bagian yang dapat dimakan adalah sebagai berikut.[6]

Zat gizi Jumlah per 100 g
Energi 39 kkal
Air 89,0 g
Protein 0,70 g
Lemak 0,20 g
Karbohidrat 9,70 g
Serat 2,0 g
Kalsium 43 mg
Fosfor 17 mg
Besi 0,80 mg
Kalium 90 mg
Seng 0,10 mg
Tembaga 100 mcg
Beta-karoten 141 mcg
Tiamin (B1) 0,02 mg
Riboflavin (B2) 0,01 mg
Niasin (B3) 0,10 mg
Vitamin C 33 mg
Bagian dapat dimakan 50 persen

Angka kandungan gizi bisbul bervariasi antarsumber dan antarwilayah tumbuh. Tinjauan ilmiah internasional melaporkan rentang energi 62 hingga 88 kkal, serat pangan 3,2 hingga 4,1 gram, kalsium 38,8 hingga 46 miligram, dan vitamin C 2,2 hingga 16 miligram per 100 gram.[7] Perbedaan ini wajar karena dipengaruhi varietas, tingkat kematangan, kondisi tanah, dan metode analisis. Meskipun demikian, seluruh sumber sepakat bahwa bisbul adalah buah rendah energi, rendah lemak, dan menyumbang serat pangan serta vitamin C dalam jumlah berarti bagi menu harian.

Senyawa Bioaktif dan Pemanfaatan Tradisional

Tinjauan fitokimia mencatat kekayaan senyawa pada berbagai bagian tanaman bisbul, meliputi golongan triterpen seperti asam betulinat, lupeol, alfa-amirin, dan beta-amirin; golongan naftokuinon seperti diospirin; serta flavonoid dan turunan asam elagat. Buahnya mengandung sekitar 39 senyawa volatil, dengan ester dan alfa-farnesen sebagai komponen dominan yang membentuk aroma khasnya.[7]

Dalam pengobatan tradisional di berbagai negara, rebusan daun bisbul digunakan untuk keluhan tekanan darah tinggi, demam, dan gangguan pencernaan, sedangkan rebusan kulit batang dipakai untuk batuk dan diare.[4][7] Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa ekstrak biji dan daun bisbul mengandung flavonoid serta menunjukkan aktivitas antioksidan dan antimikroba pada pengujian laboratorium.[8]

Perlu ditegaskan bahwa hampir seluruh temuan farmakologis tersebut masih berada pada tahap uji laboratorium dan uji hewan coba, belum diuji klinis pada manusia. Karena itu, bisbul sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari pola makan beragam, bukan sebagai obat.

Pemanfaatan Pangan

Bisbul paling lazim dikonsumsi segar setelah kulit berbulunya dikupas. Buah yang baru dipetik biasanya diperam terlebih dahulu selama tiga sampai empat hari agar rasa sepatnya berkurang dan aromanya matang.[4] Sebagian masyarakat justru menyukai buah muda yang masih renyah, disantap sebagai campuran rujak atau asinan. Daging buahnya juga dapat diolah menjadi jus, es buah, selai, dan campuran salad. Sejumlah pengembangan produk telah mencoba mengolah bisbul menjadi smoothies, kue, dan penganan goreng.[7]

Di luar peran pangan, kayu bisbul yang dikenal sebagai kamagong memiliki nilai ekonomi tinggi. Kayunya berwarna cokelat kemerahan hingga hitam, bertekstur halus, sangat keras dan padat, serta dipakai untuk mebel, ukiran, alat musik, dan peralatan bela diri. Di Filipina, penebangan dan perdagangan kamagong dibatasi oleh peraturan perundangan.[2][5]

Budidaya

Bisbul tumbuh baik di dataran rendah tropis pada ketinggian 0 hingga 800 meter di atas permukaan laut, pada hampir semua jenis tanah, dan tahan terhadap terpaan angin.[4] Tanaman ini menghendaki curah hujan yang cukup merata sepanjang tahun. Di Bogor, panen raya berlangsung antara Maret hingga Mei, dengan pembuahan yang dapat berlanjut sepanjang tahun dalam jumlah lebih sedikit.[5][3]

Perbanyakan dapat dilakukan secara generatif melalui biji maupun vegetatif melalui okulasi, sambung pucuk, dan cangkok. Biji harus disemai segera setelah daging buah dibersihkan karena daging buah menghambat perkecambahan; daya kecambahnya mencapai sekitar 85 persen dalam 17 hingga 65 hari. Pohon asal biji mulai berbuah pada umur enam hingga delapan tahun, sedangkan pohon hasil perbanyakan vegetatif dapat berbuah dalam tiga hingga empat tahun.[2][4][5] Jarak tanam yang dianjurkan sekitar 7,5 hingga 9 meter.[2]

Catatan Pelestarian

Bisbul menghadapi ancaman yang khas bagi buah lokal Nusantara, yaitu berkurangnya luas pekarangan akibat alih fungsi lahan, hilangnya pengetahuan pengolahan di tingkat rumah tangga, dan lemahnya rantai pasar. Sifat berumah dua serta masa berbuah yang relatif lama juga membuat regenerasi pohon di pekarangan berjalan lambat.

Penanaman bisbul dalam sistem pekarangan dan agroforestri berpotensi menjawab beberapa persoalan sekaligus, karena pohon ini berfungsi sebagai peneduh, penyumbang keragaman pangan keluarga, sekaligus penyimpan cadangan karbon dan penyedia kayu bernilai tinggi dalam jangka panjang. Mendokumentasikan dan memopulerkan kembali bisbul adalah langkah kecil untuk menjaga agar keragaman pangan Nusantara tidak menyusut menjadi segelintir komoditas saja.


Rujukan

  1. 1,0 1,1 1,2 Plants of the World Online. Diospyros blancoi A.DC. Royal Botanic Gardens, Kew. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:322146-1
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 2,5 2,6 Wikipedia bahasa Indonesia. "Bisbul." https://id.wikipedia.org/wiki/Bisbul ; Wikipedia. "Diospyros blancoi." https://en.wikipedia.org/wiki/Diospyros_blancoi
  3. 3,0 3,1 3,2 3,3 UPT Perbenihan Tanaman Hutan, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. "Buah Mentega/Bisbul (Diospyros blancoi)." https://uptpth.dishut.jatimprov.go.id/buah-mentega-bisbul-diospyros-blancoi/
  4. 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 4,5 4,6 Useful Tropical Plants Database. Diospyros blancoi. https://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Diospyros+blancoi
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 5,4 Taman Buah Mekarsari. "Bisbul." https://mekarsari.com/web/agro/bisbul/
  6. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), Kementerian Kesehatan RI, kode ER011: Buah mentega (bisbul), segar. Disajikan ulang di https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/620/nilai-kandungan-gizi-Buah-mentega-(Bisbul),-segar
  7. 7,0 7,1 7,2 7,3 Nahar, L., Ahmed, M.N., Afroze, C.A., Sangthong, S., Guo, M., & Sarker, S.D. (2025). "Phytometabolites, Pharmacological Effects, Ethnomedicinal Properties, and Bioeconomic Potential of Velvet Apple (Diospyros discolor Willd.): A Review." Chemistry & Biodiversity. https://doi.org/10.1002/cbdv.202402168
  8. Arrisujaya, D., Susanty, D., & Kusumah, R.R. (2019). "Skrining Fitokimia dan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Aseton dan Etil Asetat Biji Buah Bisbul (Diospyros discolor) Tumbuhan Endemik Bogor." Cendekia Journal of Pharmacy, 3(2), 130–136. https://doi.org/10.31596/cjp.v3i2.46