Kue tutu
Sejarah
Sejarah Kue Tetu adalah makanan pangan olahan berupa kue tradisional yang berasal dari daerah Sulawesi, khususnya suku Mandar dan Mamuju di Sulawesi Barat, yang kemudian menyebar ke wilayah Sulawesi lain seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Nama “Tetu” berasal dari bahasa lokal dengan makna sederhana, dan kue ini sudah dikenal sebagai warisan kuliner turun‑temurun sejak masa lalu, sering disajikan sebagai camilan atau takjil khususnya saat Ramadan. Kue Tetu memiliki bentuk unik karena biasanya dituang dalam wadah alami yang berbentuk seperti perahu, dibuat dari daun pandan atau daun pisang yang dijalin, sehingga memberikan kesan khas dan estetika tersendiri sebagai simbol kearifan lokal masyarakat Sulawesi.
Deskripsi
Deskripsi Kue Tetu dikenal karena rasa manis dan gurih yang seimbang, dengan tekstur yang lembut dan lembap di mulut. Kue ini terbuat dari campuran tepung terigu atau tepung ketan, santan kental, serta gula merah yang memberikan rasa manis khas dan aroma alami. Gula merah biasanya diletakkan di dasar wadah terlebih dahulu, lalu adonan cair dari tepung dan santan dituangkan di atasnya, sehingga ketika kue dimakan, rasa manis gula merah dapat dirasakan paling kuat di bagian bawah sambil tetap ada kesan gurih santan di bagian atas. Kue Tetu juga dikenal karena aroma wanginya yang khas, terutama saat menggunakan wadah daun pandan yang memberikan kesan segar dan alami.
Secara umum, cara mengolah Kue Tetu dimulai dari pembuatan wadah perahu dari daun pandan atau daun pisang, yang dibentuk dan dijalin rapi agar tidak bocor saat adonan dituang. Setelah wadah siap, gula merah (atau campuran gula merah dan gula pasir) diletakkan di dasar wadah sebagai lapisan pertama. Selanjutnya, adonan dibuat dari campuran tepung terigu atau tepung ketan, santan kental, sedikit garam, dan air hingga rata dan teksturnya encer seperti pancake. Adonan cair ini kemudian dituang perlahan ke dalam wadah yang sudah berisi gula merah, lalu dikukus menggunakan api sedang selama 30–45 menit hingga adonan mengental dan matang sempurna. Setelah dingin, Kue Tetu siap disajikan sebagai camilan pendamping kopi atau teh, atau sebagai menu takjil berbuka puasa bersama keluarga.
Kandungan Nutrisi
Dari sisi kandungan nutrisi, Kue Tetu tergolong makanan tinggi karbohidrat dan energi karena berbahan utama tepung dan gula merah, sehingga cocok sebagai sumber energi cepat untuk makanan camilan atau takjil. Analisis terhadap varian Kue Tetu menunjukkan kandungan karbohidrat sekitar 56 persen per 100 gram, lemak sekitar 6 persen, serat sekitar 4 persen, serta kadar air yang cukup tinggi, menjadikan kue ini lembut dan mudah dikunyah. Selain karbohidrat, kue ini juga mengandung protein dan mineral seperti fosfor dalam jumlah sedang, terutama jika dibuat dengan tepung ketan dan santan, sehingga dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang bila dikonsumsi dalam porsi wajar dan tidak berlebihan.
Sumber Referensi
Link sumber referensi - Artikel “Kue Tetu, Jajanan Tradisional Manis Khas Sulawesi” – Indonesia Travel: [1](https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/gastronomy/kue-tetu/) [indonesia](https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/gastronomy/kue-tetu/) - Artikel “Kue Tetu, Menu Berbuka Puasa Favorit dari Sulawesi Tengah” – IDN Times: [2](https://sulsel.idntimes.com/food/dining-guide/kue-tetu-menu-berbuka-puasa-favorit-dari-sulawesi-tengah-00-ytb65-k6dwlw) [sulsel.idntimes](https://sulsel.idntimes.com/food/dining-guide/kue-tetu-menu-berbuka-puasa-favorit-dari-sulawesi-tengah-00-ytb65-k6dwlw) - Artikel “Buka Puasa dengan Kue Tetu” – Unsulbar News (kandungan gizi): [3](https://www.unsulbarnews.com/buka-puasa-dengan-kue-tetu-selain-lezat-juga-kaya-nutrisi) [unsulbarnews](https://www.unsulbarnews.com/buka-puasa-dengan-kue-tetu-selain-lezat-juga-kaya-nutrisi)
