Bawang Merah

Dari WikiPangan
Revisi sejak 8 Januari 2026 10.32 oleh Irma.Riswanti (bicara | kontrib) (Artikel Baru)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Bawang merah, foto: iStock

Siapa yang tidak mengenal bawang merah? Komoditas hortikultura yang satu ini hampir selalu hadir dalam setiap masakan nusantara. Bumbu dapur berkulit merah keunguan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan “nyawa” dari banyak hidangan khas Indonesia.

Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) adalah tanaman semusim yang tumbuh subur di berbagai daerah Indonesia. Namun jika bicara bawang merah, Kabupaten Brebes hampir selalu menjadi rujukan. Daerah ini dikenal sebagai sentra produksi bawang merah nasional, dengan produksi sepanjang tahun 2024 mencapai lebih dari 4 juta kuintal[1].

Di Brebes, bawang merah bukan hanya bahan masakan, tetapi juga bahan pangan sumber penghidupan. Ribuan petani menggantungkan pendapatannya dari komoditas ini. Ketika panen melimpah, ekonomi lokal ikut bergerak. Sebaliknya, gangguan produksi akibat cuaca atau hama bisa berdampak luas hingga ke harga bawang merah[2].

Morfologi

Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) termasuk ke dalam famili Amaryllidaceae, yang dikenal sebagai kelompok tumbuhan berumbi dengan kandungan senyawa sulfur yang khas. Secara morfologi, bawang merah merupakan tanaman semusim yang terdiri atas beberapa organ utama: sistem akar serabut yang dangkal, batang semu yang berupa kelopak daun menebal, daun hijau silindris panjang, dan umbi lapis sebagai organ penyimpan cadangan makanan. Umbi ini terbentuk dari pelepah daun yang membengkak dan tersusun berlapis-lapis, memberikan bentuk umbi khas bawang merah yang familiar di dapur. Selain itu, tanaman juga dapat menghasilkan bunga majemuk (umbel) yang merupakan fase generatif dari siklus hidup bawang merah[3]. Secara taksonomi, bawang merah diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Liliopsida

Ordo: Asparagales

Famili: Amaryllidaceae

Genus: Allium

Spesies: Allium cepa

Varietas: ascalonicum

Kandungan Zat Gizi

Kandungan zat gizi tiap 100 gram bawang merah segar, dengan berat yang dapat dimakan 90%[4]

Komponen Gizi Jumlah
Air (Water) 88.0 g
Energi (Energy) 46 kkal
Protein (Protein) 1.5 g
Lemak (Fat) 0.3 g
Karbohidrat (CHO) 9.2 g
Serat (Fibre) 1.7 g
Abu (Ash) 1.0 g
Kalsium (Ca) 36 mg
Fosfor (P) 40 mg
Besi (Fe) 0.8 mg
Natrium (Na) 7 mg
Kalium (K) 178.6 mg
Tembaga (Cu) 0.06 mg
Seng (Zn) 0.2 mg
Beta-karoten (Carotenes) 2 µg
Tiamin (Vitamin B1) 0.03 mg
Riboflavin (Vitamin B2) 0.04 mg
Niasin (Niacin) 0.2 mg
Vitamin C (Vitamin C) 2 mg

Referensi

  1. [BPS] Badan Pusat Statisti Indonesia. Kabupaten Brebes dalam Angka 2025.
  2. Astuti LTW, Daryanto A, Syaukat Y, Daryanto HK. 2019. Analisis resiko produksi usahatani bawang merah pada musim kering dan musim hujan di Kabupaten Brebes. Jurnal Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis. 3(4):840-852.
  3. Sari V, Miftahudin, Sobirin. 2017. Keanekaragaman genetik bawang merah (Allium cepa L.) berdasarkan marka morfologi dan ISSR. Jurnal Agronomi Indonesia. 42(2): 175-181. https://doi.org/10.24831/jai.v45i2.11665.
  4. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi Masyarakat. Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2018. https://panganku.org/id-ID/view.