Parahulu: Perbedaan antara revisi
(Artikel baru) |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 6: | Baris 6: | ||
* '''Hanggasa, Hangasa, Ranggasa''' (Sunda) | * '''Hanggasa, Hangasa, Ranggasa''' (Sunda) | ||
* '''Langkasa''' (Kangean)<ref>https://www.socfindoconservation.co.id/</ref> | * '''Langkasa''' (Kangean)<ref>https://www.socfindoconservation.co.id/</ref> | ||
== Klasifikasi == | == Klasifikasi == | ||
Revisi terkini sejak 6 April 2026 12.03

Parahulu (Amomum dealbatum) sekilas mirip rambutan, tak heran jika orang menyebutnya "rambutan tanah". Tumbuhan tropis ini termasuk dalam famili Zingiberaceae (suku temu-temuan) dengan persebaran yang luas. Parahulu menyebar mulai dari India di sebelah barat, Nepal, Bangladesh, Yunnan, Thailand, hingga Indonesia. Persebaran yang luas ini membuat parahulu dikenal dengan banyak sebutan berbeda di berbagai daerah. Beberapa nama lokal parahulu antara lain:
- Wresah, Wersah, atau Resah (Jawa)
- Resak (Melayu)
- Hanggasa, Hangasa, Ranggasa (Sunda)
- Langkasa (Kangean)[1]
Klasifikasi
Kingdom: Plantae

Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Subkelas: Commelinidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Amomum
Habitus dan Habitat
Parahulu merupakan tumbuhan herba tahunan yang bisa tumbuh cukup tinggi, bahkan mencapai sekitar tiga meter. Batangnya tampak sederhana, tetapi di dalam tanah ia menyimpan rimpang yang tebal dan merayap, kuat menopang pertumbuhannya dari musim ke musim.
Untuk tumbuh dengan baik, parahulu membutuhkan lingkungan yang teduh dan lembap. Kondisi seperti ini membuatnya nyaman berkembang tanpa paparan matahari berlebihan.
Secara umum, parahulu hidup di kawasan hutan tropis. Namun, di Citorek Barat tanaman ini tidak hanya ditemukan di hutan. Parahulu juga tumbuh liar di sekitar kebun dan pinggir sawah yang tanahnya lembap, sehingga keberadaannya cukup mudah dijumpai oleh masyarakat setempat.
Pemanfaatan
Bagian yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat buahnya, terutama bagian salut biji yang mengandung banyak sari buah dengan rasa manis dan kadang-kadang muncul rasa masam. Selain buah matang, masyarakat juga memanfaatkan umbut dan pucuk muda, perbungaan muda, serta buah muda. Bagian-bagian ini umumnya direbus, lalu dimakan sebagai sayur.
