<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Tenri.Waru</id>
	<title>WikiPangan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Tenri.Waru"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Tenri.Waru"/>
	<updated>2026-04-17T11:24:27Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.1</generator>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Buah_lindur&amp;diff=4439</id>
		<title>Buah lindur</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Buah_lindur&amp;diff=4439"/>
		<updated>2026-04-17T09:13:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Tenri.Waru: artikel baru&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== Deskripsi ===&lt;br /&gt;
Buah lindur merupakan bagian dari tanaman mangrove &#039;&#039;Bruguiera gymnorrhiza&#039;&#039; yang termasuk dalam famili Rhizophoraceae. Tanaman ini tumbuh di kawasan pesisir tropis, khususnya pada daerah pasang surut dengan substrat berlumpur dan kadar salinitas tinggi. Secara geografis, lindur tersebar luas di wilayah Indo-Pasifik, termasuk Indonesia yang memiliki ekosistem mangrove yang cukup luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanaman lindur memiliki peran ekologis penting, seperti menahan abrasi pantai, menjaga kestabilan sedimen, serta menjadi habitat bagi berbagai organisme perairan. Selain fungsi ekologis tersebut, lindur juga menghasilkan buah yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif. Namun, pemanfaatan buah lindur sebagai sumber pangan masih tergolong rendah dan belum berkembang secara luas dalam sistem pangan modern, sehingga dikategorikan sebagai bahan [[Pangan Lokal|pangan lokal]] yang kurang dimanfaatkan (&#039;&#039;underutilized food resource&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Buah lindur.webp|jmpl|&#039;&#039;&#039;Buah Lindur Bruguiera gymnorrhiza&#039;&#039;&#039;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Karakteristik dan Sifat Bahan Mentah ===&lt;br /&gt;
Buah lindur berbentuk silindris atau lonjong memanjang dengan ukuran yang relatif besar dibandingkan buah mangrove lainnya, dengan panjang dapat mencapai 20–30 cm. Kulit buah berwarna coklat kehijauan dengan tekstur cukup keras, sedangkan bagian dalamnya berwarna putih kekuningan dan memiliki tekstur padat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kondisi mentah, buah lindur memiliki rasa pahit dan sepat yang cukup kuat. Hal ini disebabkan oleh kandungan senyawa fenolik, terutama tanin, yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami tanaman terhadap gangguan eksternal seperti herbivora. Selain itu, beberapa penelitian juga melaporkan adanya kandungan senyawa antinutrisi lain dalam jumlah tertentu, yang dapat mempengaruhi keamanan konsumsi jika tidak melalui pengolahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat-sifat tersebut menyebabkan buah lindur tidak dapat dikonsumsi secara langsung, sehingga memerlukan perlakuan awal seperti perendaman dan pemanasan untuk menurunkan kadar senyawa yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kandungan Gizi ===&lt;br /&gt;
Secara umum, buah lindur memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dan berpotensi sebagai sumber energi alternatif. Penelitian menunjukkan bahwa tepung lindur mengandung sekitar ±89% karbohidrat, yang menjadikannya sebanding dengan beberapa sumber karbohidrat konvensional. Selain itu, buah lindur juga mengandung serat pangan yang berperan dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sisi senyawa bioaktif, lindur mengandung flavonoid dan fenol yang memiliki aktivitas antioksidan, sehingga berpotensi sebagai bahan pangan fungsional. Kandungan mineral seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), zat besi (Fe), dan seng (Zn) juga ditemukan dalam buah ini, yang berkontribusi terhadap nilai gizinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan komposisi tersebut, buah lindur tidak hanya berpotensi sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai bahan pangan yang memiliki manfaat tambahan bagi kesehatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pemanfaatan Tradisional ===&lt;br /&gt;
Pemanfaatan buah lindur sebagai bahan pangan telah dilakukan secara tradisional oleh beberapa masyarakat pesisir di Indonesia. Umumnya, buah lindur diolah melalui proses perendaman dalam air selama beberapa hari untuk mengurangi rasa pahit, kemudian direbus atau dikukus sebelum dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam praktik tradisional, buah lindur dapat diolah menjadi makanan sederhana atau dijadikan bahan campuran dalam produk pangan lain. Selain sebagai sumber pangan, beberapa bagian tanaman lindur juga digunakan dalam pengobatan tradisional karena kandungan senyawa bioaktifnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun demikian, pemanfaatan ini masih bersifat lokal dan belum terdokumentasi secara luas, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan potensi buah lindur sebagai bahan pangan yang bernilai ekonomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Referensi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/150863&lt;br /&gt;
# https://agris.fao.org/search/en/providers/122436/records/69b9643fce5e0ae4f878b57c&lt;br /&gt;
# https://en.wikipedia.org/wiki/Bruguiera_gymnorhiza&lt;br /&gt;
# https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9568852/&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Tenri.Waru</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Buah_lindur.webp&amp;diff=4438</id>
		<title>Berkas:Buah lindur.webp</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Buah_lindur.webp&amp;diff=4438"/>
		<updated>2026-04-17T09:12:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Tenri.Waru: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Buah Lindur Bruguiera gymnorrhiza&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Tenri.Waru</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pattolo_pammarassang&amp;diff=4411</id>
		<title>Pattolo pammarassang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pattolo_pammarassang&amp;diff=4411"/>
		<updated>2026-04-17T08:28:46Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Tenri.Waru: Artikel baru&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;=== Pendahuluan ===&lt;br /&gt;
Pattolo pammarassang merupakan salah satu hidangan tradisional khas Sulawesi Selatan yang berasal dari budaya Bugis-Makassar. Hidangan ini dikenal dengan kuahnya yang berwarna hitam pekat yang dihasilkan dari penggunaan bumbu pammarassang, yaitu olahan biji &#039;&#039;&#039;[[kluwek]]&#039;&#039;&#039; (&#039;&#039;Pangium edule&#039;&#039;). Pattolo pammarassang memiliki cita rasa khas yang kuat, gurih, dan kompleks, sehingga menjadi salah satu representasi penting dalam kuliner lokal daerah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Deskripsi ===&lt;br /&gt;
Pattolo pammarassang adalah hidangan berkuah yang menampilkan warna hitam pekat sebagai ciri visual utamanya. Warna ini berasal dari pammarassang yang telah melalui proses fermentasi, menghasilkan pigmen alami sekaligus cita rasa yang khas. Kuah pada hidangan ini umumnya memiliki konsistensi cair hingga sedikit kental, tergantung teknik memasak dan komposisi bahan yang digunakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma pattolo pammarassang cukup khas, yaitu perpaduan antara bau fermentasi kluwek dengan wangi rempah seperti bawang, cabai, dan serai. Dari segi rasa, hidangan ini menghadirkan kombinasi gurih, sedikit pahit, dan umami yang dalam, dengan tingkat kepedasan yang dapat disesuaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahan utama dalam pattolo pammarassang bervariasi, mulai dari ikan, daging sapi, ayam, hingga bahan nabati tertentu. Pada wilayah pesisir, penggunaan ikan lebih dominan, sedangkan di daerah daratan lebih sering menggunakan daging. Tekstur bahan utama umumnya lembut karena dimasak dalam kuah hingga bumbu meresap sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara keseluruhan, pattolo pammarassang mencerminkan kekayaan rasa yang dihasilkan dari pengolahan sederhana namun memanfaatkan bahan lokal secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Asal Usul dan Nilai Budaya ===&lt;br /&gt;
Pattolo pammarassang merupakan bagian dari tradisi kuliner masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya dalam budaya Bugis dan Makassar yang dikenal kaya akan penggunaan rempah dan teknik pengolahan berbasis bahan lokal. Hidangan ini berkembang sebagai makanan berkuah yang memanfaatkan pammarassang, yaitu olahan biji &#039;&#039;&#039;kluwek&#039;&#039;&#039;, sebagai bumbu utama yang memberikan warna dan cita rasa khas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun tidak tergolong sebagai makanan khas utama, hidangan berbasis pammarassang juga ditemukan dalam praktik kuliner masyarakat Suku Toraja, terutama pada wilayah yang memiliki interaksi budaya dengan masyarakat Bugis-Makassar. Hal ini menunjukkan adanya pertukaran pengetahuan kuliner antarwilayah di Sulawesi Selatan, di mana penggunaan bahan seperti kluwek diadopsi dan diadaptasi sesuai dengan kebiasaan lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan sosial, pattolo pammarassang umumnya disajikan sebagai makanan sehari-hari maupun dalam pertemuan keluarga. Kehadirannya mencerminkan nilai kebersamaan, pemanfaatan sumber daya alam lokal, serta kearifan masyarakat dalam mengolah bahan pangan yang kompleks menjadi hidangan bernilai tinggi. Dengan demikian, pattolo pammarassang tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang berkembang secara dinamis di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Karakteristik dan Cita Rasa ===&lt;br /&gt;
Pattolo pammarassang memiliki karakteristik sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Kuah berwarna hitam pekat alami&lt;br /&gt;
* Rasa gurih, sedikit pahit, dan kompleks&lt;br /&gt;
* Aroma khas fermentasi dan rempah&lt;br /&gt;
* Tekstur bahan utama lembut dan meresap&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Tenri.Waru</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Palekko&amp;diff=4374</id>
		<title>Palekko</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Palekko&amp;diff=4374"/>
		<updated>2026-04-17T07:55:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Tenri.Waru: penambahan deskripsi, sejarah, cara pembuatan dan artikel pendukung&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;[[Nasu Palekko|&#039;&#039;Nasu Palekko&#039;&#039;]]&#039;&#039;&#039; adalah hidangan khas dari &#039;&#039;&#039;Suku Bugis, Sulawesi Selatan&#039;&#039;&#039;,yang terkenal dengan cita rasa sangat pedas, gurih, dan beraroma rempah kuat. Secara harfiah,dalam bahasa Bugis, &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Nasu&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; berarti &#039;&#039;&#039;&amp;quot;memasak&amp;quot;&#039;&#039;&#039; dan &#039;&#039;palekko&#039;&#039; berarti &amp;quot;&#039;&#039;&#039;periuk tanah&amp;quot; atau &amp;quot;kuali tanah&amp;quot;&#039;&#039;&#039;, merujuk pada alat masak tradisional yang digunakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Sejarah ===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;[[Nasu Palekko]]&#039;&#039; berasal dari tradisi masyarakat Bugis yang memiliki kebiasaan mengolah [[bebek]] sebagai sumber protein utama. Bebek dipilih karena ketersediaannya yang melimpah di wilayah pedesaan Sulawesi Selatan. Menu ini sangat populer di daerah Sidrap (Sidenreng Rappang) dan Pinrang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara historis, makanan ini berkembang sebagai hidangan istimewa yang disajikan dalam acara penting seperti pernikahan dan syukuran. Seiring waktu, &#039;&#039;Nasu Palekko&#039;&#039; menjadi bagian dari identitas kuliner Bugis dan dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Cara Mengolah ===&lt;br /&gt;
Bahan utama dalam pembuatan &#039;&#039;Nasu Palekko&#039;&#039; meliputi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Daging bebek cincang&lt;br /&gt;
* Cabai merah&lt;br /&gt;
* Cabai rawit&lt;br /&gt;
* Bawang merah&lt;br /&gt;
* Bawang putih&lt;br /&gt;
* [[Jahe]]&lt;br /&gt;
* Serai&lt;br /&gt;
* [[Lengkuas]]&lt;br /&gt;
* Garam dan penyedap&lt;br /&gt;
* Air jeruk nipis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara Membuat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses pembuatan &#039;&#039;Nasu Palekko&#039;&#039; dilakukan melalui beberapa tahapan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Bebek dibersihkan dan dicincang kecil-kecil.&lt;br /&gt;
# Daging diberi perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis.&lt;br /&gt;
# Rempah-rempah dihaluskan dan ditumis hingga harum.&lt;br /&gt;
# Daging bebek dimasukkan dan dimasak bersama bumbu.&lt;br /&gt;
# Dimasak hingga air menyusut dan bumbu meresap sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknik memasak ini menghasilkan tekstur daging yang empuk dengan cita rasa yang meresap hingga ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Nilai Budaya dan Sosial ===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Nasu Palekko&#039;&#039; memiliki nilai budaya dan sosial yang penting dalam kehidupan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, karena tidak hanya berfungsi sebagai makanan tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, penghormatan, dan identitas budaya. Hidangan ini sering disajikan dalam acara adat dan pertemuan keluarga sebagai bentuk penghargaan kepada tamu, sekaligus mencerminkan nilai gotong royong dalam proses pengolahannya yang melibatkan banyak orang. Selain itu, penggunaan rempah-rempah tradisional menunjukkan kearifan lokal dalam pengolahan pangan, sehingga &#039;&#039;Nasu Palekko&#039;&#039; tidak hanya bernilai kuliner tetapi juga menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan dan berkembang dalam masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Perkembangan dan Inovasi ===&lt;br /&gt;
Seiring perkembangan zaman, &#039;&#039;Nasu Palekko&#039;&#039; mengalami berbagai inovasi tanpa menghilangkan cita rasa khasnya, seperti penggunaan daging ayam sebagai alternatif yang lebih terjangkau serta penyesuaian tingkat kepedasan sesuai selera konsumen. Di Sulawesi Selatan, hidangan ini juga mulai disajikan secara modern di restoran dan dikembangkan sebagai produk kuliner komersial, bahkan berpotensi menjadi usaha berbasis pangan lokal. Perkembangan ini menunjukkan bahwa &#039;&#039;Nasu Palekko&#039;&#039; tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tren pasar dan kebutuhan masyarakat masa kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Referensi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# https://food.detik.com/ayam/d-7888835/resep-ayam-palekko-khas-bugis-yang-pedas-gurihnya-menyengat-enak&lt;br /&gt;
# https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/gastronomy/nasu-palekko/&lt;br /&gt;
# https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107931&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Tenri.Waru</name></author>
	</entry>
</feed>