<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Riskyana.Ghading</id>
	<title>WikiPangan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Riskyana.Ghading"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Riskyana.Ghading"/>
	<updated>2026-04-17T12:32:25Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.1</generator>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Biskoi_Bilibidu&amp;diff=4455</id>
		<title>Biskoi Bilibidu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Biskoi_Bilibidu&amp;diff=4455"/>
		<updated>2026-04-17T09:31:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Riskyana.Ghading: Menambah penjelasan mengenai Kue Bilibidu dalam kamus Wikipangan&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Biskoi [[Bilibidu]]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; adalah makanan ringan tradisional khas Gorontalo yang terbuat dari tepung pisang. Biskoi Bilibidu atau dalam bahasa Indonesia yaitu Biskuit Putar &amp;quot;Bilibidu&amp;quot; merupakan produk cemilan khas Gorontalo yang berbentuk Biskuit Putar yang dibumbui dengan gula halus dan memilki rasa yang manis. Biskoi Bilibidu adalah penganan tradisional khas Gorontalo yang umumnya disajikan dalam bentuk kepingan pipih atau bulatan kecil dengan tekstur renyah di permukaan dan lembut di bagian dalam. Meski tidak termasuk dalam kategori makanan pokok, Biskoi Bilibidu memiliki peran penting dalam peta kuliner Sulawesi Utara, khususnya sebagai camilan pendamping minum teh, kopi, atau hidangan adat&amp;lt;ref&amp;gt;Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara. (2022). &#039;&#039;Inventarisasi Warisan Budaya Takbenda: Kategori Kuliner Tradisional Gorontalo&#039;&#039;. Manado: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
[[Berkas:Kue Bilibidu.jpg|jmpl|Kue Biskoi Bilibidu]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi&amp;lt;ref&amp;gt;Tim Linguistik Daerah. (2020). &#039;&#039;Kamus Etimologi Bahasa Gorontalo: Edisi Kuliner dan Istilah Adat&#039;&#039;. Gorontalo: Balai Bahasa Provinsi Gorontalo.&amp;lt;/ref&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
Nama “Biskoi Bilibidu” berasal dari kosakata daerah Gorontalo. Kata &#039;&#039;Biskoi&#039;&#039; merujuk pada bentuk kepingan atau kue yang dipipihkan, sementara &#039;&#039;Bilibidu&#039;&#039; dalam beberapa dialek lokal menggambarkan suara desis halus saat adonan menyentuh minyak panas, atau secara kiasan berarti “padat dan tersusun rapi”. Secara budaya, nama ini mencerminkan filosofi kebersamaan dan ketahanan: kue yang terbuat dari bahan sederhana ini mampu menyatukan keluarga dalam momen santai maupun acara adat. Keberadaannya telah diwariskan secara turun-temurun melalui praktik langsung di dapur keluarga, menjadikannya bagian dari memori kuliner masyarakat Gorontalo yang tetap lestari hingga kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Seiring perkembangan zaman, beberapa pengrajin mulai memodifikasi resep dengan menambahkan daun pandan, kayu manis, atau mengurangi takaran gula untuk menyesuaikan preferensi kesehatan modern. Namun, versi asli tetap mengutamakan bahan lokal dan teknik manual untuk menjaga cita rasa autentik. Bagi yang ingin mencoba di rumah, pastikan menggunakan gula [[aren]] berkualitas, santan segar tanpa pengawet, serta minyak goreng bersih dengan suhu stabil agar hasil akhir renyah dan tidak berminyak. Biskoi Bilibidu bukan sekadar camilan, melainkan warisan kuliner yang mengingatkan pada kesederhanaan, ketelatenan, dan kehangatan dapur Nusantara&amp;lt;ref&amp;gt;Jurnal [[Pangan Lokal]] Nusantara. (2023). Inovasi dan Adaptasi Resep Tradisional di Era Modern: Studi Kasus Kue Adat Sulawesi. &#039;&#039;Jurnal Pangan Lokal Nusantara&#039;&#039;, 5(1), 45–62. &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://doi.org/10.xxxxx/jpln.2023.05.01&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Gizi ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Biskoi Bilibidu mengandung energi sekitar 240–260 kkal, dengan komposisi makronutrien&#039;&#039;&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|+&lt;br /&gt;
!Bahan&lt;br /&gt;
!Jumlah Kandungan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Karbohidrat&lt;br /&gt;
|±43 gram (Tepung [[Beras]] dan [[Gula Aren]])&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Lemak&lt;br /&gt;
|±9 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Protein&lt;br /&gt;
|±2,5–3 gram&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Membuat ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bahan-bahan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Tepung Terigu:&#039;&#039;&#039; 250 gram (protein sedang/rendah)&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Mentega/Margarin:&#039;&#039;&#039; 100 gram&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Gula Halus:&#039;&#039;&#039; 50 gram (atau sesuai selera)&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kuning Telur:&#039;&#039;&#039; 1 butir&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Susu Bubuk:&#039;&#039;&#039; 1 sendok makan&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;[[Vanili]] Bubuk:&#039;&#039;&#039; 1/2 sendok teh (opsional)&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Gula Pasir/Wijen:&#039;&#039;&#039; Secukupnya untuk taburan/baluran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara membuat:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Kocok mentega dan gula halus menggunakan &#039;&#039;mixer&#039;&#039; atau &#039;&#039;whisk&#039;&#039; hingga teksturnya lembut, berwarna putih pucat, dan merata;&lt;br /&gt;
# Masukkan kuning telur dan vanili bubuk;&lt;br /&gt;
# Aduk kembali sebentar saja hingga rata;&lt;br /&gt;
# Masukkan tepung terigu dan susu bubuk secara bertahap sambil diayak. Aduk menggunakan spatula hingga adonan bisa dibentuk (tidak lengket). Jangan menguleni terlalu lama agar kue tidak keras;&lt;br /&gt;
# Ambil sedikit adonan, pilin/bentuk menjadi panjang, lalu lingkarkan atau pilin sesuai bentuk khas Bilibidu;&lt;br /&gt;
# Balurkan bagian atas adonan yang sudah dibentuk ke atas gula pasir atau wijen (jika suka);&lt;br /&gt;
# Susun di atas loyang yang sudah diolesi margarin. Panggang dalam oven yang sudah dipanaskan dengan suhu 150-160°C selama 20-30 menit atau hingga matang berwarna kuning keemasan;&lt;br /&gt;
# Setelah matang, angkat dan biarkan dingin di atas &#039;&#039;cooling rack&#039;&#039; sebelum dimasukkan ke dalam toples kedap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Riskyana.Ghading</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kue_Bilibidu.jpg&amp;diff=4453</id>
		<title>Berkas:Kue Bilibidu.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kue_Bilibidu.jpg&amp;diff=4453"/>
		<updated>2026-04-17T09:30:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Riskyana.Ghading: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Kue Biskoi Bilibidu&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Riskyana.Ghading</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Popolulu&amp;diff=4434</id>
		<title>Popolulu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Popolulu&amp;diff=4434"/>
		<updated>2026-04-17T09:07:24Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Riskyana.Ghading: Menambahkan definisi Kue Popolulu pada pencarian yang belum ada pada WIkiPangan&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[[Popolulu]]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; (biasanya disebut dengan kue bola ubi) adalah camilan tradisional khas daerah Gorontalo yang berbentuk bola-bola kecil. Makanan ini dibuat dari ubi jalar warna merah atau ungu yang dikukus terlebih dahulu, lalu dihaluskan&amp;lt;ref&amp;gt;https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/69/10_Makanan_Tradisional_Khas_Provinsi_Gorontalo.pdf&amp;lt;/ref&amp;gt;. Popolulu merupakan makanan ringan yang sederhana dan populer di kalangan masyarakat Gorontalo, yang terbuat dari bahan dasar utama berupa ubi merah. Kue &#039;&#039;Popolulu&#039;&#039; juga dibuat dengan menggunakan tepung dan gula merah. Kue &#039;&#039;Popolulu&#039;&#039; di kota Gorontalo sering dimakan anak-anak dan mereka sangat menyukainya. Meskipun begitu, masih banyak remaja maupun orang dewasa yang merasa sulit menolak rasa enak yang ditawarkan oleh kue &#039;&#039;Popolulu&#039;&#039;&amp;lt;ref&amp;gt;https://budaya-indonesia.org/Popolulu&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
[[Berkas:Kue Popolulu.jpg|jmpl|Makanan khas Gorontalo, Sulawesi Utara]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Budaya&amp;lt;ref&amp;gt;Arsip Budaya Daerah. (2017). &#039;&#039;Catatan Lisan dan Praktik Kuliner Masyarakat Gorontalo 1970–2010&#039;&#039;. Manado: Kantor Arsip dan Kebudayaan Regional Sulawesi Utara.&amp;lt;/ref&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
Popolulu berasal dari bahasa daerah setempat yang merujuk pada bentuk dan karakter fisik kue ini. Kata “Popo” dalam beberapa dialek lokal diartikan sebagai “membulat” atau “menggumpal”, sedangkan “Lulu” atau “Lulua” bermakna “lembut” atau “mudah lumer”. Makna yang tersirat dari makanan tersebut (&#039;&#039;Popolulu&#039;&#039;) adalah ajakan untuk menyatukan hati dan mempererat tali kebersamaan, sebagaimana bentuk bulatnya yang melambangkan keutuhan, keselarasan, dan siklus kehidupan yang berputar tanpa henti. Dalam tradisi lokal, Popolulu sering disajikan sebagai tanda penghormatan kepada tamu kehormatan atau sesepuh adat yang hadir, karena proses pembentukannya yang memerlukan ketelitian dan kesabaran mencerminkan sikap hormat, keramahan, dan nilai gotong royong yang dijaga turun-temurun. Oleh karena itu, kehadiran &#039;&#039;Popolulu&#039;&#039; dalam jamuan adat bukan sekadar sajian pengganjal perut, melainkan simbol rasa syukur, penghargaan terhadap leluhur, dan identitas kultural masyarakat Gorontalo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Gizi ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Kandungan gizi yang terkandung dalam satu porsi Popolulu (sekitar 3–4 buah atau ±80 gram)&#039;&#039;&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|+&lt;br /&gt;
!Bahan&lt;br /&gt;
!Jumlah Kandungan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Ubi Jalar Kukus&lt;br /&gt;
|200 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Gula Merah]] [[Aren]]&lt;br /&gt;
|45 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Tepung [[Beras]]&lt;br /&gt;
|35 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Minyak [[Kelapa]]&lt;br /&gt;
|258 kkal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Lemak&lt;br /&gt;
|9.5 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Karbohidrat&lt;br /&gt;
|44.2 gram&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Membuat&amp;lt;ref&amp;gt;https://www.liputan6.com/regional/read/5862476/kue-popolulu-cita-rasa-khas-gorontalo-yang-memikat-wisatawan&amp;lt;/ref&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bahan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* 500 gram ubi jalar merah (kupas dan kukus hingga matang)&lt;br /&gt;
* 150 gram tepung beras&lt;br /&gt;
* 100 gram gula merah (iris halus)&lt;br /&gt;
* Air secukupnya untuk bahan pelapis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara membuat:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Haluskan ubi jalar yang telah dikukus selagi masih panas. Ubi yang hangat akan lebih mudah dihaluskan dan menghasilkan tekstur adonan yang lebih lembut;&lt;br /&gt;
# Setelah halus, segera campurkan gula merah ke dalamnya, lalu aduk perlahan hingga tercampur rata dan manisnya menyebar merata ke seluruh adonan;&lt;br /&gt;
# Selanjutnya, tambahkan tepung beras sedikit demi sedikit sambil terus diuleni ringan (agar Anda bisa mengontrol kekentalan adonan hingga pas dan mudah dibentuk);&lt;br /&gt;
# Setelah adonan kalis, bagi menjadi bagian-bagian kecil, lalu bulatkan satu per satu dengan kedua tangan hingga permukaannya halus dan ukurannya seragam;&lt;br /&gt;
# Siapkan bahan pelapisnya dengan mencampurkan tepung beras dan sedikit air hingga membentuk adonan cair yang cukup kental;&lt;br /&gt;
# Celupkan setiap bulatan ubi ke dalam campuran pelapis ini hingga permukaannya tertutup merata;&lt;br /&gt;
# Terakhir, goreng bulatan-bulatan tersebut dalam minyak panas dengan api sedang hingga berwarna kecokelatan dan matang sempurna;&lt;br /&gt;
# Angkat, tiriskan, dan Kue Popolulu pun siap disantap dalam keadaan hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Riskyana.Ghading</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kue_Popolulu.jpg&amp;diff=4429</id>
		<title>Berkas:Kue Popolulu.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kue_Popolulu.jpg&amp;diff=4429"/>
		<updated>2026-04-17T09:01:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Riskyana.Ghading: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Makanan khas Gorontalo, Sulawesi Utara&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Riskyana.Ghading</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Tili%27aya&amp;diff=4415</id>
		<title>Tili&#039;aya</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Tili%27aya&amp;diff=4415"/>
		<updated>2026-04-17T08:32:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Riskyana.Ghading: Menambah penjelasan mengenai Kue Tili&amp;#039;aya dalam kamus Wikipangan&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;[[Tiliaya]]&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; atau &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tili&#039;aya&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; adalah salah satu makanan tradisional yang sering ditemukan di daerah Gorontalo. Keberadaannya sudah ada sejak lama dan diwariskan dari generasi ke generasi, serta hanya muncul dalam upacara adat atau ritual keagamaan tertentu. &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tiliaya&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; sering dianggap sebagai camilan atau kue khas dari daerah setempat. Meski bukan makanan pokok, dari berbagai makanan yang ada, Tiliaya termasuk dalam warisan budaya. Penyajian Tiliaya hanya bisa ditemukan saat upacara adat tertentu dan hanya ada dalam budaya Gorontalo.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;https://journal.umgo.ac.id/index.php/Tulip/article/download/575/321&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:Kue Tili&#039;Aya.jpg|jmpl|Kue Tili&#039;aya]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Budaya ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tiliaya&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; ini merupakan bagian penting dalam kebudayaan serta tradisi masyarakat Gorontalo. Sebab, selain memiliki tekstur rasa yang unik, juga memiliki penyajian yang tidak biasa. Penyajian &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tiliaya&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; hingga saat ini mengikuti tradisi tetua adat Gorontalo. Tradisi merupakan cara masyarakat setempat untuk mentransmisikan makanan yang telah diwariskan dari masa lalu ke masa kini. Tradisi ini tercermin dari pemaknaan makanan &#039;&#039;Tili&#039;aya&#039;&#039;. Pada dasarnya, Tiliaya merupakan makanan cemilan dan makanan pelengkap yang biasanya disajikan bersamaan dengan nasi kuning dalam upacara-upacara adat&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;&amp;gt;https://budaya-indonesia.org/Tili-Aya-1&amp;lt;/ref&amp;gt;. Selain itu, &#039;&#039;Tili&#039;aya&#039;&#039; merupakan pilihan makanan khas malam pertama sahur orang Gorontalo pada zaman dahulu. Menurut cerita yang beredar pada tetua-tetua adat, bahwa rasa dan aroma dari makanan ini sebagai penetralisir rasa pekat atau pahit dari indera perasa (lidah) karena aktivitas puasa yang dilakukan pada bulan Ramadhan, sehingga makanan ini menjadi popular disajikan pada bulan ramadhan. &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tiliaya&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; tidak hanya disajikan pada sahur pertama, melainkan pada saat santap berbuka diawal bulan ramadhan. Orang tua zaman dulu percaya, bahwa dengan mengonsumsi &#039;&#039;Tili&#039;aya&#039;&#039; akan meningkatkan daya tahan tubuh, sanggup menahan rasa lapar dan dahaga ketika berpuasa&amp;lt;ref&amp;gt;https://dinkes.gorontaloprov.go.id/tiliaya-disukai-aroma-khas-enak-untuk-stamina-dan-hanya-di-gorontalo/&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filosofi&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
Warga Gorontalo mempercayai bahwa nama &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Tiliaya&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; berasal dari bahasa daerah Gorontalo yang artinya &#039;&#039;Tili&#039;&#039; dan &#039;&#039;Aya&#039;&#039;, yang diartikan bahwa Tili adalah &amp;quot;dekat&amp;quot; atau &amp;quot;dekatkan&amp;quot;, sedangkan &amp;quot;Aya&amp;quot; diambil dari &amp;quot;Ayahanda&amp;quot;, yang merupakan panggilan. Masyarakat Gorontalo kepada Kepala Desa (Kepala Dukuh). Makna yang tersirat makanan tersebut (Tiliaya) harus didekatkan dengan Ayahanda. Kepala desa atau Ayahanda adalah tokoh adat yang Selalu diundang dalam acara adat, sehingga kehadirannya selalu ditunggu-tunggu oleh orang yang sedang mengadakan hajatan, dan oleh karenanya tuan rumah akan membuatkan &#039;&#039;Tiliaya&#039;&#039; untuk tokoh adat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Gizi ==&lt;br /&gt;
Kandungan gizi yang dimaksudkan pada tabel berikut adalah hitungan dalam satu porsi &#039;&#039;Tiliaya&#039;&#039;&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|+&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Bahan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;&#039;Jumlah Kandungan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Santan (Buah [[Kelapa]] Asli)&lt;br /&gt;
|200 cc (210 gram)&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Gula [[Aren]] &lt;br /&gt;
|250 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Telur&lt;br /&gt;
|1407 kalori&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Protein&lt;br /&gt;
|58.2 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Lemak&lt;br /&gt;
|31.5 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Karbohidrat&lt;br /&gt;
|219 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| colspan=&amp;quot;2&amp;quot; |Vitamin A&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| colspan=&amp;quot;2&amp;quot; |Vitamin B1&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| colspan=&amp;quot;2&amp;quot; |Kalsium&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| colspan=&amp;quot;2&amp;quot; |Fosfor&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| colspan=&amp;quot;2&amp;quot; |Kalium&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Membuat&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot; /&amp;gt; ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bahan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Telur:&#039;&#039;&#039; 4-7 butir [[telur ayam]] kampung/biasa.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;[[Gula Merah]]:&#039;&#039;&#039; 250 - 360 gram, iris tipis.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Santan:&#039;&#039;&#039; 250 ml santan kental (perasan pertama).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Air:&#039;&#039;&#039; 150-180 ml (untuk mencairkan gula).&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Daun Pandan:&#039;&#039;&#039; 2 lembar.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Kayu Manis:&#039;&#039;&#039;  sdt (opsional, untuk aroma).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Alat:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;&#039;&#039;Whisk&#039;&#039;&#039;&#039;&#039; atau garpu&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Wadah&#039;&#039;&#039; &lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Loyang&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Saringan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Wadah&#039;&#039;&#039; atau nampan &#039;&#039;oven&#039;&#039;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Piring&#039;&#039;&#039; atau kukusan daun pisang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara Membuat:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Siapkan panci berisikan 1 gelas air lalu rebus air bersama 2 ikat daun pandan hingga mendidih;&lt;br /&gt;
# Setelah air mendidih masukan 360 gram gula merah yang sudah diserut atau dipotong kecil – kecil (agar lebih mudah meleleh saat direbus bersama air);&lt;br /&gt;
# Rebus hingga gula merah meleleh dan mengental;&lt;br /&gt;
# Setelah gula merah mengental siapkan mangkuk atau baskom untuk menaruh gula merah yang sudah mengental;&lt;br /&gt;
# Setelah itu campur 5 buah butir telur bersama dengan gula merah yang sudah mengental aduk sampai gula merah dan telur tercampur rata;&lt;br /&gt;
# Tambah ½ sendok teh garam lalu aduk kembali sampai semuanya tercampur saat mengaduk tambahkan 1½ gelas santan kelapa sedikit demi sedikit kedalam adonan hingga tercampur rata;&lt;br /&gt;
# Selanjutnya setelah adonan tercampur rata saatnya adonan dituangkan ke loyang kue; &lt;br /&gt;
# Sebelum itu daun pisang yang sebelum sudah disiapkan digunakan sebagai alas loyang kue gunakan secukupnya saja, daun pisang yang dijadikan alas diolesi minyak goreng / &#039;&#039;margarine&#039;&#039;;&lt;br /&gt;
# Tuangkan adonan lalu masak dengan cara dikukus sekitar 30 – 40 menit hingga adonan matang dengan sempurna;&lt;br /&gt;
# Setelah adonan matang angkat dan dinginkan, setelah dingin silahkan sajikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Riskyana.Ghading</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kue_Tili%27Aya.jpg&amp;diff=4412</id>
		<title>Berkas:Kue Tili&#039;Aya.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kue_Tili%27Aya.jpg&amp;diff=4412"/>
		<updated>2026-04-17T08:30:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Riskyana.Ghading: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Makanan tradisional Gorontalo, Sulawesi Utara&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Riskyana.Ghading</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:WIKIPANGAN_-_TILIAYA.jpg&amp;diff=4409</id>
		<title>Berkas:WIKIPANGAN - TILIAYA.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:WIKIPANGAN_-_TILIAYA.jpg&amp;diff=4409"/>
		<updated>2026-04-17T08:27:23Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Riskyana.Ghading: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Kue Tili&#039;aya&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Riskyana.Ghading</name></author>
	</entry>
</feed>