<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Raihan.Mubarak</id>
	<title>WikiPangan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Raihan.Mubarak"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Raihan.Mubarak"/>
	<updated>2026-05-25T21:11:50Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.1</generator>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Kaddo_massingkulu&amp;diff=4679</id>
		<title>Kaddo massingkulu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Kaddo_massingkulu&amp;diff=4679"/>
		<updated>2026-05-20T06:28:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Raihan.Mubarak: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;jmpl  == Deskripsi == Ka’dho Massingkulu dikenal sebagai kue adat yang memiliki nilai simbolik lebih besar daripada sekadar makanan ringan.  Ia terkenal karena digunakan sebagai sesajian dalam ritual‑ritual lokal yang menggabungkan budaya lokal dengan nilai keagamaan, sehingga menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Bugis–Makassar.  Selain itu, Ka’dho Massingkulu juga dikenal dari teksturnya yang lembut dan pulen,...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Kaddo massingkulu.jpg|jmpl]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Deskripsi ==&lt;br /&gt;
Ka’dho Massingkulu dikenal sebagai kue adat yang memiliki nilai simbolik lebih besar daripada sekadar makanan ringan.  Ia terkenal karena digunakan sebagai sesajian dalam ritual‑ritual lokal yang menggabungkan budaya lokal dengan nilai keagamaan, sehingga menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Bugis–Makassar.  Selain itu, Ka’dho Massingkulu juga dikenal dari teksturnya yang lembut dan pulen, mirip kue ketan lainnya, namun punya makna khusus ketika disajikan berbarengan dengan upacara adat atau perayaan tertentu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Ka’dho Massingkulu adalah makanan tradisional khas masyarakat Bugis–Makassar yang berasal dari Sulawesi Selatan, khususnya pada tradisi adat tertentu seperti *songkabala* atau *sanrobone*.  Kata “Ka’dho” berasal dari bahasa Makassar yang berarti nasi atau kue dari [[beras]] ketan, sedangkan “Massingkulu” berarti “menyiku” atau sebagai bentuk penahan dan penolak bala.  Dalam konteks tradisi, Ka’dho Massingkulu disajikan sebagai simbol perlindungan dan pencegahan agar segala marabahaya atau bencana tidak menimpa komunitas yang sedang mengadakan acara adat atau ritual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara mengolah ==&lt;br /&gt;
Ka’dho Massingkulu biasanya diolah dari beras ketan yang direndam terlebih dahulu, lalu dikukus hingga setengah matang atau matang.  Setelah itu, beras ketan dicampur dengan santan, garam, dan sedikit pewarna alami (misalnya [[kunyit]]) agar tampak kuning keemasan, kemudian dikukus kembali hingga pulen dan mengeras.  Setelah tekstur kue mengental, adonan dibentuk menyerupai kue atau bulatan, biasanya dibungkus dengan daun pisang agar menjadi lebih harum dan mudah disajikan.  Ka’dho Massingkulu kemudian disajikan dalam ritual adat, dibagikan kepada peserta upacara, atau sebagai simbol kebersamaan dan penolak bala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan nutrisi ==&lt;br /&gt;
Secara umum, bahan utama Ka’dho Massingkulu (beras ketan) mengandung karbohidrat kompleks yang menjadi sumber energi utama bagi tubuh.  Kombinasi beras ketan dan santan menambah asupan kalori, lemak jenuh, serta sedikit protein dan mineral, sehingga kue ini cukup mengenyangkan tetapi sebaiknya dikonsumsi dalam porsi terbatas bagi orang yang memantau berat badan atau kondisi jantung.  Karena dibuat dengan bahan sederhana dan tanpa banyak pengawet, Ka’dho Massingkulu juga memiliki keunggulan sebagai makanan tradisional yang minim bahan tambahan buatan, sehingga secara umum masih termasuk dalam kategori pangan olahan alami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Link sumber referensi ==&lt;br /&gt;
- Jurnal UIN Alauddin – Tradisi Songkabala dan Ka’dho Massingkulu: &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/download/1346/1299/2719&amp;lt;/nowiki&amp;gt; [journal.uin-alauddin.ac](&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/download/1346/1299/2719&amp;lt;/nowiki&amp;gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Artikel tentang Kaddo Minyak dan Kaddo Boddong sebagai contoh makanan kue ketan Makassar: &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://wikipangan.id/wiki/Kaddo&#039;_boddong&amp;lt;/nowiki&amp;gt; [wikipangan](&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://wikipangan.id/wiki/Kaddo&#039;_boddong&amp;lt;/nowiki&amp;gt;)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Raihan.Mubarak</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kaddo_massingkulu.jpg&amp;diff=4678</id>
		<title>Berkas:Kaddo massingkulu.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Kaddo_massingkulu.jpg&amp;diff=4678"/>
		<updated>2026-05-20T06:27:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Raihan.Mubarak: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;kaddo massingkulu&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Raihan.Mubarak</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_sappe&amp;diff=4659</id>
		<title>Sayur sappe</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sayur_sappe&amp;diff=4659"/>
		<updated>2026-05-20T06:21:22Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Raihan.Mubarak: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;== Deskripsi == jmpl Sayur Sappe dikenal karena cita rasanya yang segar, ringan, dan tidak terlalu berat, sehingga cocok dikonsumsi sebagai pengganti lauk berlemak berat.  Keunikan hidangan ini terletak pada kombinasi sayuran lokal yang masih alami dan cara memasaknya yang sederhana, yaitu direbus atau ditumis ringan dengan bumbu dasar seperti bawang, garam, dan sedikit rempah, tanpa banyak bahan tambahan kimia.  Masyarakat setempat j...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;== Deskripsi ==&lt;br /&gt;
[[Berkas:Sayur sappe.jpg|jmpl]]&lt;br /&gt;
Sayur Sappe dikenal karena cita rasanya yang segar, ringan, dan tidak terlalu berat, sehingga cocok dikonsumsi sebagai pengganti lauk berlemak berat.  Keunikan hidangan ini terletak pada kombinasi sayuran lokal yang masih alami dan cara memasaknya yang sederhana, yaitu direbus atau ditumis ringan dengan bumbu dasar seperti bawang, garam, dan sedikit rempah, tanpa banyak bahan tambahan kimia.  Masyarakat setempat juga mengenal Sayur Sappe sebagai makanan sehat yang murah, mudah ditemukan, dan sering menjadi pelengkap nasi hangat atau lalapan, sehingga menjadikannya salah satu sayur tradisional yang masih lestari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Sayur Sappe adalah makanan khas yang berkembang di daerah pegunungan atau pedesaan, terutama di kawasan Sulawesi Selatan dan sekitarnya, di mana sebutan “sappe” sering merujuk pada lembaga adat atau komunitas setempat.  Makanan ini pada awalnya tumbuh sebagai makanan rumahan sederhana yang memanfaatkan bahan sayuran segar dari kebun sendiri, seperti sayur hijau lokal, kacang‑kacangan, dan bumbu rempah sederhana yang mudah didapat.  Seiring waktu, Sayur Sappe menjadi bagian dari tradisi menjamu tamu dan digunakan dalam ritual adat maupun acara kumpul keluarga, sehingga ia bertahan sebagai simbol makanan rakyat yang dekat dengan kehidupan sehari‑hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara mengolah ==&lt;br /&gt;
Proses pengolahan Sayur Sappe dimulai dari pemilihan sayuran segar, biasanya jenis sayur hijau seperti sayur garu, [[kangkung]], [[bayam]], atau sayuran lain yang biasa tumbuh di pekarangan rumah.  Sayuran dicuci bersih, lalu dipotong kecil atau memanjang sesuai selera, sementara bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan garam dihaluskan atau ditumis sebentar.  Setelah itu, air direbus hingga mendidih, lalu bumbu ditambahkan; sayuran dimasukkan secara bertahap sesuai lama pemasakan yang dibutuhkan agar tidak terlalu lembek.  Sayur kemudian diaduk‑aduk sebentar, dibumbui secukupnya, dan dimatikan apinya ketika sayuran sudah matang tetapi masih renyah, sehingga tekstur alaminya tetap terasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan nutrisi ==&lt;br /&gt;
Sayuran‑sayuran yang menjadi bahan utama Sayur Sappe umumnya kaya serat, vitamin, dan mineral penting bagi tubuh.  Kandungan serat tinggi membantu menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah sembelit, sementara vitamin seperti vitamin A dan C mendukung sistem imun dan kesehatan mata serta kulit.  Sayur‑sayuran ini juga memiliki kandungan air yang tinggi, energi rendah, serta sedikit lemak, sehingga Sayur Sappe menjadi pilihan yang baik bagi pola makan sehat dan rendah kalori jika tidak diolah dengan minyak atau santan berlebihan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Link sumber referensi ==&lt;br /&gt;
- HDmall.id – Sayur garu (contoh sayur lokal yang sering diolah menjadi sayur tradisional): &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://hdmall.id/pusat-nutrisi/items/sayur-garu&amp;lt;/nowiki&amp;gt; [hdmall](&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://hdmall.id/pusat-nutrisi/items/sayur-garu&amp;lt;/nowiki&amp;gt;)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Raihan.Mubarak</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sayur_sappe.jpg&amp;diff=4656</id>
		<title>Berkas:Sayur sappe.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sayur_sappe.jpg&amp;diff=4656"/>
		<updated>2026-05-20T06:19:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Raihan.Mubarak: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;sayur sappe&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Raihan.Mubarak</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Ikan_pamarassan&amp;diff=4644</id>
		<title>Ikan pamarassan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Ikan_pamarassan&amp;diff=4644"/>
		<updated>2026-05-20T06:14:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Raihan.Mubarak: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;jmpl  == Deskripsi == Pamarrasan Ikan dikenal karena citarasa bumbu hitamnya yang khas: gurih, sedikit pekat, dan aromatik dengan lapisan rasa yang hangat namun tidak terlalu berat.  Ia sering menjadi hidangan tumpuan dalam acara adat, sehingga masyarakat Toraja mengenalnya bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai identitas budaya kuliner Tanah Toraja.  Selain itu, Pamarrasan juga dikenal karena bahan bakunya yang sederhan...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Ikan pamarassan.jpg|jmpl]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Deskripsi ==&lt;br /&gt;
Pamarrasan Ikan dikenal karena citarasa bumbu hitamnya yang khas: gurih, sedikit pekat, dan aromatik dengan lapisan rasa yang hangat namun tidak terlalu berat.  Ia sering menjadi hidangan tumpuan dalam acara adat, sehingga masyarakat Toraja mengenalnya bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai identitas budaya kuliner Tanah Toraja.  Selain itu, Pamarrasan juga dikenal karena bahan bakunya yang sederhana dan mudah ditemukan, seperti ikan mas, ikan gabus, belut, atau ikan tongkol, sehingga bisa diolah dengan variasi bahan namun tetap mempertahankan teknik bumbu pamarrasan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Pamarrasan Ikan, atau dikenal sebagai *Pantollo Pamarrasan*, adalah hidangan tradisional masyarakat suku Toraja di Sulawesi Selatan.  Hidangan ini sudah lama menjadi bagian dari sajian adat, biasanya disajikan dalam acara pemakaman, upacara syukuran, maupun pernikahan, sehingga kuat kaitannya dengan kehidupan sosial dan ritual Toraja.  Nama “pamarrasan” mengacu pada teknik memasak dengan bumbu hitam khas Toraja yang dibuat dari buah *[[pangi]]* (setara dengan [[kluwek]] di Jawa), yang memberikan warna, aroma, dan rasa unik pada masakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara mengolah ==&lt;br /&gt;
Pengolahan Pamarrasan Ikan biasanya dimulai dari pemilihan ikan segar, seperti ikan mas atau ikan gabus, yang dicuci bersih, diberi perasan jeruk nipis, dan sedikit garam, lalu digoreng setengah matang atau dipanggang terlebih dahulu.  Bumbu halus terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai, [[jahe]], [[lengkuas]], diolah bersama kerokan buah pangi (keluak) yang telah direndam hingga lembut.  Bumbu ini ditumis hingga matang dan berwarna hitam pekat, lalu ikan dimasukkan dan diaduk, kemudian ditambahkan air secukupnya dan direbus hingga bumbu meresap.  Sebelum diangkat, biasanya ditambahkan daun bawang atau kucai dan daun aromatik seperti daun jeruk agar aroma menjadi lebih segar dan harum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Nutrisi ==&lt;br /&gt;
Secara umum, ikan yang menjadi bahan utama Pamarrasan Ikan merupakan sumber protein berkualitas tinggi dengan kandungan lemak yang relatif seimbang, terutama jika ikan yang digunakan adalah ikan air tawar seperti ikan mas atau gabus.  Ikan juga mengandung vitamin A, D, dan berbagai mineral seperti kalium, zat besi, dan magnesium yang baik untuk kesehatan mata, tulang, dan fungsi saraf.  Bumbu pamarrasan yang berbasis rempah‑rempah dan lada memberikan nilai tambah berupa antioksidan dan senyawa bioaktif, meskipun penggunaan santan atau minyak bisa menambah kalori dan lemak, sehingga sebaiknya dikonsumsi dalam porsi moderat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sumber Referensi ==&lt;br /&gt;
- Wikipangan – Ikan Emas Pamarrasan (Pantollo Pamarrasan): &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://wikipangan.id/wiki/Ikan_emas_pamarrasan&amp;lt;/nowiki&amp;gt; [wikipangan](&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://wikipangan.id/wiki/Ikan_emas_pamarrasan&amp;lt;/nowiki&amp;gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Wikipedia bahasa Indonesia – Pantollo Pamarrasan: &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://id.wikipedia.org/wiki/Pantollo_pamarrasan&amp;lt;/nowiki&amp;gt; [id.wikipedia](&amp;lt;nowiki&amp;gt;https://id.wikipedia.org/wiki/Pantollo_pamarrasan&amp;lt;/nowiki&amp;gt;)&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Raihan.Mubarak</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Ikan_pamarassan.jpg&amp;diff=4640</id>
		<title>Berkas:Ikan pamarassan.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Ikan_pamarassan.jpg&amp;diff=4640"/>
		<updated>2026-05-20T06:13:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Raihan.Mubarak: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Ikan Pamarassan&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Raihan.Mubarak</name></author>
	</entry>
</feed>