<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Andre.Maulana</id>
	<title>WikiPangan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Andre.Maulana"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Andre.Maulana"/>
	<updated>2026-04-27T00:54:38Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.1</generator>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sokko_tumbu&amp;diff=4462</id>
		<title>Sokko tumbu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sokko_tumbu&amp;diff=4462"/>
		<updated>2026-04-17T09:47:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andre.Maulana: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;nirbing Sokko tumbu merupakan makanan tradisional khas Bugis-Makassar yang terbuat dari beras ketan yang dimasak hingga pulen, kemudian disajikan dengan pelengkap seperti kelapa parut dan gula merah. Kata &amp;#039;&amp;#039;“tumbu”&amp;#039;&amp;#039; merujuk pada wadah atau cetakan tradisional (biasanya dari anyaman daun atau bambu) yang digunakan dalam penyajiannya, sehingga memberikan bentuk khas pada makanan ini. Sokko tumbu umumnya dihidangkan dalam acara ad...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sokko tumbu.jpg|pus|nirbing]]&lt;br /&gt;
[[Sokko]] [[tumbu]] merupakan makanan tradisional khas Bugis-Makassar yang terbuat dari [[beras]] ketan yang dimasak hingga pulen, kemudian disajikan dengan pelengkap seperti [[kelapa]] parut dan gula merah. Kata &#039;&#039;“tumbu”&#039;&#039; merujuk pada wadah atau cetakan tradisional (biasanya dari anyaman daun atau bambu) yang digunakan dalam penyajiannya, sehingga memberikan bentuk khas pada makanan ini. Sokko tumbu umumnya dihidangkan dalam acara adat, syukuran, dan kegiatan keagamaan sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, dan keberkahan dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Sokko tumbu merupakan bagian dari tradisi kuliner masyarakat Bugis-Makassar yang telah berkembang sejak lama dalam konteks kehidupan agraris. Beras ketan sebagai bahan utama mencerminkan hasil pertanian lokal yang memiliki nilai penting dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ritual adat. Pengolahan sokko yang dikukus hingga pulen, kemudian disajikan dalam &#039;&#039;tumbu&#039;&#039; (wadah tradisional dari anyaman), menunjukkan kearifan lokal dalam teknik memasak dan penyajian makanan. Secara historis, sokko tumbu sering dihadirkan dalam berbagai upacara adat, seperti syukuran panen, pernikahan, dan kegiatan keagamaan, sebagai simbol kemakmuran, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Tuhan. Keberlangsungannya hingga kini menandakan bahwa sokko tumbu bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filososfi ==&lt;br /&gt;
Sokko tumbu melambangkan kebersamaan, rasa syukur, dan keberkahan dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Beras ketan yang lengket mencerminkan eratnya hubungan sosial dan persatuan antarindividu, sementara penyajiannya dalam &#039;&#039;tumbu&#039;&#039; menunjukkan nilai kesederhanaan serta kearifan lokal. Kehadirannya dalam berbagai acara adat dan keagamaan juga menegaskan makna spiritual sebagai ungkapan syukur atas rezeki dan harapan akan kehidupan yang harmonis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara mengolah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Bersihkan beras ketan hingga kotoran hilang.&lt;br /&gt;
* Rendam beras ketan selama ±3–5 jam agar teksturnya lebih lunak.&lt;br /&gt;
* Tiriskan beras ketan hingga airnya berkurang.&lt;br /&gt;
* Kukus beras ketan dalam dandang selama ±20–30 menit hingga setengah matang.&lt;br /&gt;
* Angkat, lalu perciki atau campurkan sedikit air (atau santan agar lebih gurih), kemudian aduk rata.&lt;br /&gt;
* Kukus kembali hingga beras ketan matang sempurna dan teksturnya pulen.&lt;br /&gt;
* Siapkan &#039;&#039;tumbu&#039;&#039; (wadah dari anyaman daun atau bambu), lalu masukkan ketan yang sudah matang sambil dipadatkan.&lt;br /&gt;
* Sajikan sokko tumbu dengan taburan kelapa parut dan gula merah cair sesuai selera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Gizi ==&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
!Komponen Gizi&lt;br /&gt;
!Jumlah (±)&lt;br /&gt;
!Keterangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Energi&lt;br /&gt;
|350–420 kkal&lt;br /&gt;
|Sumber energi utama&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Karbohidrat&lt;br /&gt;
|75–85 gram&lt;br /&gt;
|Dominan dari beras ketan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Protein&lt;br /&gt;
|5–7 gram&lt;br /&gt;
|Relatif rendah&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Lemak&lt;br /&gt;
|2–10 gram&lt;br /&gt;
|Bertambah jika pakai kelapa&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Serat&lt;br /&gt;
|1–3 gram&lt;br /&gt;
|Membantu pencernaan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Kalsium&lt;br /&gt;
|10–30 mg&lt;br /&gt;
|Mineral tulang&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Fosfor&lt;br /&gt;
|80–150 mg&lt;br /&gt;
|Mendukung metabolisme&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Zat Besi&lt;br /&gt;
|1–2 mg&lt;br /&gt;
|Pembentukan sel darah&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== rujukan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Winarno, F.G. (2004). &#039;&#039;Kimia Pangan dan Gizi&#039;&#039;. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;
# Kementerian Kesehatan RI. (2019). &#039;&#039;Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI)&#039;&#039;. &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://www.panganku.org&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Rahman, F. (2016). &#039;&#039;Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870–1942&#039;&#039;. Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;
# [https://mc.tanahbumbukab.go.id/sokko-tumbu-makanan-khas-bugis-untuk-lebaran/ Sokko Tumbu Makanan Khas Bugis Untuk LebaranPEMERINTAH KABUPATEN TANAH BUMBUhttps://mc.tanahbumbukab.go.id › sokko-tumbu-makan...]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andre.Maulana</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sokko_tumbu.jpg&amp;diff=4443</id>
		<title>Berkas:Sokko tumbu.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sokko_tumbu.jpg&amp;diff=4443"/>
		<updated>2026-04-17T09:17:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andre.Maulana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sokko Tumbu (juga dikenal sebagai Tumbu atau Legesse) adalah hidangan tradisional khas suku Bugis yang terbuat dari beras ketan dan santan kental.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andre.Maulana</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_rakko&amp;diff=4419</id>
		<title>Bale rakko</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Bale_rakko&amp;diff=4419"/>
		<updated>2026-04-17T08:38:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andre.Maulana: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;nirbing &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Bale Rakko&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; merupakan salah satu makanan tradisional khas Bugis, Sulawesi Selatan, yang berbahan dasar beras ketan yang disangrai (disebut &amp;#039;&amp;#039;rakko&amp;#039;&amp;#039;) kemudian ditumbuk hingga halus atau setengah halus. Makanan ini biasanya disajikan dengan tambahan kelapa parut, gula merah cair, atau ikan kering sebagai pelengkap, sehingga memiliki perpaduan rasa gurih dan manis. Bale rakko umumnya disajikan dalam acara adat, syukuran,...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Ikan kering.jpg|pus|nirbing]]&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bale Rakko&#039;&#039;&#039; merupakan salah satu makanan tradisional khas Bugis, Sulawesi Selatan, yang berbahan dasar [[beras]] ketan yang disangrai (disebut &#039;&#039;rakko&#039;&#039;) kemudian ditumbuk hingga halus atau setengah halus. Makanan ini biasanya disajikan dengan tambahan [[kelapa]] parut, gula merah cair, atau ikan kering sebagai pelengkap, sehingga memiliki perpaduan rasa gurih dan manis. Bale rakko umumnya disajikan dalam acara adat, syukuran, maupun kegiatan kebersamaan, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga memiliki nilai simbolis sebagai wujud rasa syukur dan kebersamaan dalam budaya masyarakat Bugis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Bale rakko merupakan makanan tradisional masyarakat Bugis yang telah ada sejak lama dan berkaitan erat dengan pola hidup agraris. Istilah &#039;&#039;“rakko”&#039;&#039; merujuk pada beras ketan yang disangrai, kemudian ditumbuk sebagai bentuk pengolahan sederhana yang telah dikenal secara turun-temurun. Pada masa lalu, bale rakko dibuat sebagai makanan praktis yang tahan lama dan mudah disajikan, terutama oleh masyarakat pedesaan setelah masa panen padi. Selain sebagai sumber energi, makanan ini juga memiliki makna simbolis dalam budaya Bugis, yaitu sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen serta sebagai bagian dari tradisi kebersamaan dalam berbagai acara adat dan kekeluargaan. Seiring waktu, bale rakko tetap dipertahankan sebagai warisan kuliner lokal yang mencerminkan kearifan tradisional dalam memanfaatkan hasil pertanian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Filososfi ==&lt;br /&gt;
Bale rakko mencerminkan filosofi kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur dalam kehidupan masyarakat Bugis. Proses pembuatannya yang sederhana dari beras ketan yang disangrai dan ditumbuk melambangkan kearifan lokal dalam memanfaatkan hasil alam secara optimal. Selain itu, penyajiannya dalam berbagai acara adat dan kebersamaan menggambarkan nilai solidaritas serta penghormatan terhadap hasil panen sebagai anugerah. Dengan demikian, bale rakko tidak sekadar makanan, tetapi juga simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan tradisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara mengolah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Bersihkan beras ketan hingga bebas dari kotoran.&lt;br /&gt;
* Rendam beras ketan selama beberapa jam agar teksturnya lebih lunak.&lt;br /&gt;
* Tiriskan beras ketan hingga airnya benar-benar berkurang.&lt;br /&gt;
* Sangrai beras ketan di wajan tanpa minyak dengan api sedang sambil terus diaduk hingga kering dan sedikit kecokelatan (&#039;&#039;proses rakko&#039;&#039;).&lt;br /&gt;
* Angkat dan dinginkan beras ketan yang telah disangrai.&lt;br /&gt;
* Tumbuk beras ketan menggunakan lesung hingga halus atau setengah halus sesuai selera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sajikan dengan tambahan kelapa parut, gula merah cair, atau lauk seperti ikan kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Gizi ==&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
!Komponen Gizi&lt;br /&gt;
!Jumlah (±)&lt;br /&gt;
!Keterangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Energi&lt;br /&gt;
|350–420 kkal&lt;br /&gt;
|Sumber energi utama dari karbohidrat&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Karbohidrat&lt;br /&gt;
|75–85 gram&lt;br /&gt;
|Berasal dari beras ketan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Protein&lt;br /&gt;
|5–7 gram&lt;br /&gt;
|Kandungan protein rendah–sedang&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Lemak&lt;br /&gt;
|3–10 gram&lt;br /&gt;
|Bertambah jika menggunakan kelapa&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Serat&lt;br /&gt;
|1–3 gram&lt;br /&gt;
|Membantu pencernaan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Kalsium&lt;br /&gt;
|±10–30 mg&lt;br /&gt;
|Mineral untuk tulang&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Fosfor&lt;br /&gt;
|±80–150 mg&lt;br /&gt;
|Mendukung metabolisme energi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Zat Besi&lt;br /&gt;
|±1–2 mg&lt;br /&gt;
|Penting untuk pembentukan darah&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
1. Rahman, F. (2016). &#039;&#039;Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870–1942&#039;&#039;. Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. (1998). &#039;&#039;Makanan Tradisional Sulawesi Selatan&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Pelras, C. (1996). &#039;&#039;The Bugis&#039;&#039;. Oxford: Blackwell Publishers.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andre.Maulana</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Ikan_kering.jpg&amp;diff=4399</id>
		<title>Berkas:Ikan kering.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Ikan_kering.jpg&amp;diff=4399"/>
		<updated>2026-04-17T08:20:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andre.Maulana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Bale Rakko adalah kuliner khas Bugis/Luwu berupa ikan asin/kering yang dikeringkan hingga teksturnya keras seperti kayu. Ikan ini sering diolah dengan cara ditumbuk (gammi/jujju lepe) dan dicampur cabai serta minyak panas.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andre.Maulana</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Kacang_telur&amp;diff=4389</id>
		<title>Kacang telur</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Kacang_telur&amp;diff=4389"/>
		<updated>2026-04-17T08:11:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andre.Maulana: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;jmpl Kacang telur merupakan salah satu camilan tradisional yang cukup populer di Indonesia, termasuk di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Meskipun tidak sepenuhnya berasal dari Makassar, kacang telur telah menjadi bagian dari ragam kue kering yang sering dijumpai dalam berbagai acara masyarakat setempat, seperti hari raya, hajatan, maupun sebagai suguhan bagi tamu. Keberadaannya yang mudah ditemui di pasar tradisional hingga to...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Foto kacang telur.jpg|pus|jmpl]]&lt;br /&gt;
Kacang telur merupakan salah satu camilan tradisional yang cukup populer di Indonesia, termasuk di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Meskipun tidak sepenuhnya berasal dari Makassar, kacang telur telah menjadi bagian dari ragam kue kering yang sering dijumpai dalam berbagai acara masyarakat setempat, seperti hari raya, hajatan, maupun sebagai suguhan bagi tamu. Keberadaannya yang mudah ditemui di pasar tradisional hingga toko oleh-oleh menunjukkan bahwa kacang telur telah beradaptasi dan diterima sebagai bagian dari kekayaan kuliner lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Kacang telur berkembang dari tradisi pengolahan [[Kacang Tanah|kacang tanah]] yang telah lama dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Kacang tanah sendiri mulai banyak dibudidayakan sejak masa kolonial dan menjadi bahan pangan yang mudah diakses oleh masyarakat. Dari kondisi tersebut, muncul berbagai inovasi olahan sederhana, salah satunya adalah teknik melapisi kacang dengan adonan tepung dan telur untuk menghasilkan tekstur yang lebih renyah serta cita rasa yang lebih kaya. Di berbagai kota, termasuk Makassar, kacang telur mulai dikenal luas sebagai camilan yang umum disajikan dalam kegiatan sosial, seperti perayaan hari besar keagamaan, acara keluarga, dan sebagai suguhan bagi tamu. Perkembangannya semakin pesat seiring dengan meningkatnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memproduksi kacang telur dalam skala komersial. Produk ini kemudian tidak hanya berfungsi sebagai makanan ringan, tetapi juga sebagai komoditas ekonomi yang memiliki nilai jual dan daya saing di pasar lokal hingga nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Nilai Budaya ==&lt;br /&gt;
Kacang telur memiliki nilai budaya yang mencerminkan kebersamaan, keterbukaan, dan kreativitas masyarakat. Camilan ini sering hadir dalam berbagai acara seperti hari raya dan pertemuan keluarga, sehingga menjadi simbol keramahan dalam menjamu tamu. Meskipun bukan makanan asli Makassar, kacang telur mampu beradaptasi dan diterima sebagai bagian dari tradisi kuliner lokal, menunjukkan sifat budaya yang dinamis. Selain itu, produksinya yang banyak dilakukan oleh usaha kecil juga mencerminkan kemandirian ekonomi serta kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan sederhana menjadi produk bernilai jual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Mengolah ==&lt;br /&gt;
Pembuatan kacang telur dimulai dengan menyiapkan bahan utama seperti kacang tanah (yang sudah dikupas dan dikeringkan), telur, gula, bawang putih halus, garam, dan tepung terigu. Pertama, kocok telur bersama gula, bawang putih, dan garam hingga tercampur rata. Setelah itu, masukkan kacang tanah ke dalam adonan telur, lalu aduk hingga semua kacang terlapisi. Selanjutnya, taburkan tepung terigu sedikit demi sedikit sambil terus diaduk agar terbentuk lapisan tipis yang merata pada setiap butir kacang dan tidak menggumpal. Setelah pelapisan selesai, panaskan minyak dalam jumlah cukup, kemudian goreng kacang dengan api sedang sambil diaduk perlahan hingga berwarna kuning keemasan dan matang merata. Terakhir, angkat dan tiriskan kacang telur hingga dingin agar teksturnya menjadi renyah, lalu simpan dalam wadah kedap udara agar tetap tahan lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Gizi ==&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
!Komponen Gizi&lt;br /&gt;
!Jumlah (± per 100 g)&lt;br /&gt;
!Keterangan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Energi&lt;br /&gt;
|450–550 kkal&lt;br /&gt;
|Sumber energi tinggi dari lemak dan karbohidrat&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Protein&lt;br /&gt;
|12–18 gram&lt;br /&gt;
|Berasal dari kacang tanah dan telur&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Lemak&lt;br /&gt;
|25–35 gram&lt;br /&gt;
|Didominasi lemak tak jenuh dari kacang, namun meningkat karena proses goreng&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Karbohidrat&lt;br /&gt;
|30–40 gram&lt;br /&gt;
|Bersumber dari tepung dan lapisan adonan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Serat&lt;br /&gt;
|3–5 gram&lt;br /&gt;
|Membantu pencernaan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Vitamin E&lt;br /&gt;
|±5–8 mg&lt;br /&gt;
|Antioksidan dari kacang tanah&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Vitamin B kompleks&lt;br /&gt;
|±0,3–0,6 mg&lt;br /&gt;
|Mendukung metabolisme tubuh&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Kalsium&lt;br /&gt;
|±40–70 mg&lt;br /&gt;
|Baik untuk kesehatan tulang&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Fosfor&lt;br /&gt;
|±150–250 mg&lt;br /&gt;
|Berperan dalam pembentukan energi&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Magnesium&lt;br /&gt;
|±120–180 mg&lt;br /&gt;
|Mendukung fungsi otot dan saraf&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Rujukan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Rahman, F. (2016). &#039;&#039;Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870–1942&#039;&#039;. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;
# Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2020). &#039;&#039;Peran Industri Kecil Menengah dalam Pengembangan Produk Pangan Olahan&#039;&#039;. &amp;lt;nowiki&amp;gt;https://kemenperin.go.id&amp;lt;/nowiki&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Suryana, A. (2018). “Perkembangan Industri [[Pangan Lokal]] di Indonesia.” &#039;&#039;Jurnal Pangan&#039;&#039;, 27(2), 123–134.&lt;br /&gt;
# Astawan, M. (2019). &#039;&#039;Teknologi Pengolahan Pangan Nabati&#039;&#039;. Jakarta: UI Press.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andre.Maulana</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Foto_kacang_telur.jpg&amp;diff=4363</id>
		<title>Berkas:Foto kacang telur.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Foto_kacang_telur.jpg&amp;diff=4363"/>
		<updated>2026-04-17T07:35:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andre.Maulana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Kacang telur merupakan salah satu camilan tradisional yang cukup populer di Indonesia, termasuk di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Meskipun tidak sepenuhnya berasal dari Makassar, kacang telur telah menjadi bagian dari ragam kue kering yang sering dijumpai dalam berbagai acara masyarakat setempat, seperti hari raya, hajatan, maupun sebagai suguhan bagi tamu. Keberadaannya yang mudah ditemui di pasar tradisional hingga toko oleh-oleh menunjukkan bahwa kacang telur telah beradaptasi dan diterima sebagai bagian dari kekayaan kuliner lokal.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andre.Maulana</name></author>
	</entry>
</feed>