<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Andi.Aura</id>
	<title>WikiPangan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://wikipangan.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Andi.Aura"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Andi.Aura"/>
	<updated>2026-04-27T00:54:36Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.40.1</generator>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Gandos_Gimbal&amp;diff=4449</id>
		<title>Gandos Gimbal</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Gandos_Gimbal&amp;diff=4449"/>
		<updated>2026-04-17T09:28:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andi.Aura: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;Gandos Gimbal “Gandos Gimbal” (sering juga ditulis “Gandhos Gimbal”) merupakan salah satu kue basah tradisional khas dari Boyolali, Jawa Tengah. Makanan ini bukanlah produk modern seperti merek elektronik, melainkan jajanan tradisional yang telah dikenal luas oleh masyarakat setempat. Gandos Gimbal berbentuk bulat kecil, sekilas menyerupai puding atau roti kukus, dan dibuat dari perpaduan bahan-bahan sederhana seperti te...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Gandhos gimbal.jpg|jmpl|Gandos Gimbal]]&lt;br /&gt;
“Gandos Gimbal” (sering juga ditulis “Gandhos Gimbal”) merupakan salah satu kue basah tradisional khas dari Boyolali, Jawa Tengah. Makanan ini bukanlah produk modern seperti merek elektronik, melainkan jajanan tradisional yang telah dikenal luas oleh masyarakat setempat. Gandos Gimbal berbentuk bulat kecil, sekilas menyerupai puding atau roti kukus, dan dibuat dari perpaduan bahan-bahan sederhana seperti tepung terigu, telur, gula, parutan [[kelapa]], serta margarin. Kue ini memiliki tekstur yang lembut dengan cita rasa gurih dan manis yang khas, serta sensasi legit yang berasal dari kandungan kelapa parut yang cukup banyak. Di Boyolali, Gandos Gimbal sangat populer dan sering dijadikan oleh-oleh khas daerah. Bahkan, kue ini telah menjadi salah satu identitas kuliner yang melekat, sehingga sering dianggap sebagai simbol khas Boyolali.&amp;lt;ref&amp;gt;https://www.merdeka.com/jateng/mencicipi-gandhos-gimbal-kuliner-legendaris-khas-boyolali-yang-disajikan-pada-hari-spesial-195599-mvk.html&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Gandos atau Gandhos Gimbal berasal dari daerah Boyolali, Jawa Tengah, dan mulai dikenal luas sebagai oleh-oleh khas sejak sekitar tahun 1980-an. Perkembangannya tidak terlepas dari peran usaha rumahan, khususnya toko roti legendaris seperti “Gandos Gimbal Mbah Lomo” yang turut mempopulerkan kue ini. Meskipun tampilannya mengalami penyesuaian yang lebih modern, resep dasarnya tetap mempertahankan ciri khas kue tradisional Jawa, yakni menggunakan bahan utama berupa parutan kelapa, tepung, telur, dan gula yang diwariskan secara turun-temurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Popularitas Gandos Gimbal saat ini juga erat kaitannya dengan keluarga pengusaha roti di Boyolali yang mengangkat kue ini menjadi ikon oleh-oleh daerah. Penamaan “Gimbal” sendiri merujuk pada tampilan permukaan kue yang tampak berumbai halus menyerupai rambut gimbal. Tekstur tersebut terbentuk dari serabut kelapa yang ikut dipanggang bersama adonan, sehingga menghasilkan bentuk unik sekaligus menjadi ciri khas utama kue ini.&amp;lt;ref&amp;gt;https://solo.tribunnews.com/solo/332401/sejarah-gandos-jajanan-legendaris-solo-yang-kini-mulai-langka-kuliner-warisan-leluhur-sejak-abad-18&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Membuat ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bahan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* 100 gram kelapa muda atau setengah tua, diparut memanjang&lt;br /&gt;
* 100 gram tepung [[beras]] putih&lt;br /&gt;
* 300 ml santan kelapa (bisa santan instan)&lt;br /&gt;
* 1/2 sendok teh garam halus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Langkah-langkah:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kelapa parut dapat dikukus terlebih dahulu sebagai langkah opsional. Proses ini bertujuan agar kelapa tidak cepat basi dan dapat disimpan lebih lama, misalnya di dalam lemari pendingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, semua bahan yang telah disiapkan dicampurkan dalam satu wadah, kemudian diaduk hingga tercampur rata dan membentuk adonan yang konsisten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panaskan cetakan khusus gandos yang sebelumnya telah diolesi sedikit minyak atau margarin agar adonan tidak lengket. Setelah cetakan cukup panas, tuangkan adonan hingga hampir memenuhi cetakan, lalu tutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masak adonan hingga bagian bawahnya berubah warna menjadi kecokelatan sebagai tanda bahwa kue sudah matang. Setelah itu, angkat dan sajikan dalam keadaan hangat agar cita rasanya lebih nikmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila menginginkan rasa yang lebih manis, kue gandos gimbal dapat disajikan dengan tambahan taburan gula halus di atasnya.&amp;lt;ref&amp;gt;https://allresepmasakan.blogspot.com/2014/11/cara-membuat-kue-gandos-kue-gandos.html&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* https://www.merdeka.com/jateng/mencicipi-gandhos-gimbal-kuliner-legendaris-khas-boyolali-yang-disajikan-pada-hari-spesial-195599-mvk.html&lt;br /&gt;
* https://solo.tribunnews.com/solo/332401/sejarah-gandos-jajanan-legendaris-solo-yang-kini-mulai-langka-kuliner-warisan-leluhur-sejak-abad-18&lt;br /&gt;
* https://allresepmasakan.blogspot.com/2014/11/cara-membuat-kue-gandos-kue-gandos.html&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andi.Aura</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Gandhos_gimbal.jpg&amp;diff=4447</id>
		<title>Berkas:Gandhos gimbal.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Gandhos_gimbal.jpg&amp;diff=4447"/>
		<updated>2026-04-17T09:27:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andi.Aura: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Gandos Gimbal&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andi.Aura</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Pinang&amp;diff=4423</id>
		<title>Pinang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Pinang&amp;diff=4423"/>
		<updated>2026-04-17T08:49:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andi.Aura: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;Buah Pinang Masyarakat Papua mengenal buah pinang sebagai “permen khas Papua” yang memiliki nilai lebih dari sekadar camilan biasa. Berbeda dengan beberapa daerah lain di Indonesia, di mana kebiasaan mengunyah pinang umumnya hanya dilakukan oleh kalangan orang tua dan terbatas di wilayah pedesaan, di Papua tradisi ini dijalankan secara luas oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak hingga orang dewa...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Buah Pinang.jpg|jmpl|369x369px|Buah Pinang]]&lt;br /&gt;
Masyarakat Papua mengenal buah pinang sebagai “permen khas Papua” yang memiliki nilai lebih dari sekadar camilan biasa. Berbeda dengan beberapa daerah lain di Indonesia, di mana kebiasaan mengunyah pinang umumnya hanya dilakukan oleh kalangan orang tua dan terbatas di wilayah pedesaan, di Papua tradisi ini dijalankan secara luas oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, kebiasaan mengunyah pinang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di ruang-ruang publik. Aktivitas ini dikenal dengan istilah “makan pinang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain sebagai kebiasaan, buah pinang juga kerap dimanfaatkan sebagai makanan penutup atau pengganti buah-buahan, terutama ketika jenis buah lain seperti jeruk dan [[apel]] tidak tersedia. Dalam praktiknya, pinang biasanya dikonsumsi bersama tepung kapur yang diolah dari cangkang kerang, yang menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut.&amp;lt;ref&amp;gt;https://budaya-indonesia.org/Tradisi-Mengunyah-buah-Pinang-orang-Papua&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Berdasarkan kajian dalam buku &#039;&#039;Prasejarah Papua&#039;&#039; karya Hari Suroto (2010), bukti arkeologis menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi buah pinang telah berlangsung sejak sekitar 3.000 tahun yang lalu, khususnya di wilayah pesisir Papua. Pada masa itu, hanya masyarakat pesisir yang dikenal mengonsumsi pinang. Buah ini diperkenalkan oleh kelompok manusia penutur bahasa Austronesia yang datang dan menetap di wilayah pesisir serta pulau-pulau kecil di sekitar Papua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tradisi mengunyah pinang tidak lagi terbatas di wilayah pesisir, melainkan juga menyebar ke daerah pegunungan seperti Wamena, Enarotali, Moanemani, dan wilayah lainnya. Hal ini cukup menarik mengingat pohon pinang pada dasarnya jarang tumbuh di daerah dataran tinggi. Penyebaran tradisi ini diperkirakan terjadi pada masa modern, sekitar tahun 1960-an, ketika akses transportasi udara mulai terbuka ke wilayah pegunungan Papua. Pada masa tersebut, aparat pemerintah, guru, polisi, dan tentara yang berasal dari wilayah pesisir membawa buah pinang ke daerah pegunungan saat kembali ke tempat tugas mereka. Dari sinilah kebiasaan mengunyah pinang mulai dikenal dan kemudian diadopsi oleh masyarakat pegunungan.&amp;lt;ref&amp;gt;https://mongabay.co.id/2022/06/09/sering-dikunyah-seperti-permen-oleh-masyarakat-papua-ini-manfaat-buah-pinang/&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Mengonsumsi ==&lt;br /&gt;
Cara mengonsumsi pinang di Papua memiliki ciri khas yang membedakannya dari daerah lain di Indonesia. Prosesnya dimulai dengan mengupas buah pinang menggunakan gigi, kemudian isi buah tersebut dikunyah hingga hancur. Pinang yang berkualitas baik biasanya akan menghasilkan cairan yang kental saat dikunyah. Selanjutnya, batang sirih dicelupkan ke dalam bubuk kapur yang berasal dari cangkang kerang, lalu dikunyah bersama dengan pinang. Kombinasi antara pinang, sirih, dan kapur ini menghasilkan cairan berwarna merah yang khas, yang kemudian diludahkan oleh pengunyahnya. Penggunaan kapur dalam proses ini memiliki fungsi penting, yaitu untuk mengurangi rasa asam dan pahit dari getah pinang, sehingga rasa yang dihasilkan menjadi lebih seimbang. Selain itu, proses mengunyah pinang juga sering kali disertai dengan kebiasaan atau ritual kecil yang telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Papua.&amp;lt;ref&amp;gt;https://budaya-indonesia.org/Tradisi-Mengunyah-buah-Pinang-orang-Papua&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Manfaat ==&lt;br /&gt;
Dari segi kesehatan, buah pinang diketahui memiliki berbagai kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh. Di antaranya adalah protein, lemak, karbohidrat kompleks, zat besi, vitamin B kompleks, kalsium, fosfor, kalium, serta senyawa antioksidan seperti flavonoid dan polifenol. Kandungan nutrisi tersebut menjadikan pinang dipercaya memiliki beragam manfaat kesehatan. Beberapa manfaat yang sering dikaitkan dengan konsumsi pinang antara lain menjaga kesehatan dan kebersihan mulut, memperkuat gigi dan gusi, meningkatkan stamina, membantu melancarkan sistem pencernaan, menurunkan tekanan darah, serta mencegah dan mengatasi anemia.&amp;lt;ref&amp;gt;https://www.alodokter.com/5-manfaat-buah-pinang-untuk-kesehatan-yang-jarang-diketahui&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, pinang juga dipercaya memiliki manfaat khusus bagi kesehatan reproduksi perempuan, meskipun hal ini lebih banyak didasarkan pada kepercayaan tradisional masyarakat setempat. Kebiasaan mengunyah pinang yang telah dilakukan sejak usia dini dan berlangsung secara terus-menerus hingga usia lanjut diyakini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi gigi masyarakat Papua yang tetap kuat dan sehat di usia tua.&amp;lt;ref&amp;gt;https://budaya-indonesia.org/Tradisi-Mengunyah-buah-Pinang-orang-Papua&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Makna Budaya ==&lt;br /&gt;
Tradisi mengunyah pinang tidak hanya memiliki nilai praktis, tetapi juga mengandung makna budaya yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Papua. Pertama, pinang memiliki fungsi sosial yang kuat. Dalam kehidupan masyarakat, pinang sering disajikan kepada tamu sebagai bentuk penghormatan, penerimaan, dan upaya membangun keakraban. Kehadiran pinang dalam interaksi sosial mencerminkan sikap terbuka dan rasa persaudaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, pinang juga berfungsi sebagai simbol perdamaian. Dalam berbagai situasi konflik, baik antarindividu maupun antarkelompok, penyelesaian masalah sering dilakukan dengan cara duduk bersama sambil mengunyah pinang. Aktivitas ini menjadi simbol rekonsiliasi dan upaya meredakan ketegangan, sehingga hubungan yang sempat terganggu dapat kembali harmonis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, pinang memiliki makna sebagai sumber energi dan penyemangat. Bagi masyarakat Papua yang banyak melakukan aktivitas fisik berat, seperti berjalan jauh, mendayung, atau bekerja di alam terbuka, mengunyah pinang dianggap dapat memberikan tambahan tenaga dan menjaga daya tahan tubuh. Oleh karena itu, pinang tidak hanya dipandang sebagai makanan ringan, tetapi juga sebagai bagian penting dari pola hidup dan budaya masyarakat Papua yang telah diwariskan secara turun-temurun.&amp;lt;ref&amp;gt;https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx2epekpz0ko&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* https://budaya-indonesia.org/Tradisi-Mengunyah-buah-Pinang-orang-Papua&lt;br /&gt;
* https://mongabay.co.id/2022/06/09/sering-dikunyah-seperti-permen-oleh-masyarakat-papua-ini-manfaat-buah-pinang/&lt;br /&gt;
* https://www.alodokter.com/5-manfaat-buah-pinang-untuk-kesehatan-yang-jarang-diketahui&lt;br /&gt;
* https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx2epekpz0ko&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andi.Aura</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Buah_Pinang.jpg&amp;diff=4422</id>
		<title>Berkas:Buah Pinang.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Buah_Pinang.jpg&amp;diff=4422"/>
		<updated>2026-04-17T08:48:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andi.Aura: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Buah Pinang&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andi.Aura</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Sate_Ulat_Sagu&amp;diff=4400</id>
		<title>Sate Ulat Sagu</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Sate_Ulat_Sagu&amp;diff=4400"/>
		<updated>2026-04-17T08:21:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andi.Aura: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;Sate Ulat Sagu Sate ulat sagu merupakan makanan khas Papua yang unik, lezat, dan gurih. Suku Kamoro mempercayai hidangan ini memiliki kandungan protein dan vitamin yang tinggi sehingga dapat berdampak pada kesehatan individu. Hidangan ini berasal dari larva kumbang yang hidup di batang pohon sagu yang membusuk. Ulat sagu Papua juga biasanya disajikan dalam bentuk sate. Masyarakat setempat juga kerap menyebut hidangan ini dengan...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Sate Ulat Sagu.jpg|jmpl|Sate Ulat Sagu]]&lt;br /&gt;
Sate ulat [[sagu]] merupakan makanan khas Papua yang unik, lezat, dan gurih. Suku Kamoro mempercayai hidangan ini memiliki kandungan protein dan vitamin yang tinggi sehingga dapat berdampak pada kesehatan individu. Hidangan ini berasal dari larva kumbang yang hidup di batang pohon sagu yang membusuk. Ulat sagu Papua juga biasanya disajikan dalam bentuk sate. Masyarakat setempat juga kerap menyebut hidangan ini dengan istilah “manggia.”&amp;lt;ref&amp;gt;https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/ulat-sagu/&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam budaya Papua, khususnya Suku Asmat dan Kamoro, ulat sagu juga memiliki peran penting dalam ritual perayaan dan pemberian nama anak laki-laki.&amp;lt;ref&amp;gt;https://wiki.ambisius.com/makanan-khas/sate-ulat-sagu/bahan-dan-cara-pembuatan&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah ==&lt;br /&gt;
Ulat sagu telah lama menjadi salah satu kuliner favorit masyarakat Papua bahkan sejak masa prasejarah. Hal ini dibuktikan melalui temuan arkeologis berupa pecahan gerabah di sejumlah situs di kawasan Danau Sentani, tepatnya di Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Temuan tersebut menunjukkan bahwa manusia pada masa itu sudah mengolah bahan pangan berbasis sagu, termasuk ulat sagu. Situs-situs hunian prasejarah di sekitar Danau Sentani umumnya berada di dekat hutan sagu. Pada masa tersebut, sagu merupakan sumber makanan utama. Dari pohon sagu, masyarakat dapat memperoleh berbagai bahan pangan seperti tepung sagu, jamur sagu, hingga ulat sagu. Ulat ini biasanya ditemukan pada batang pohon sagu yang sudah tua dan tumbang. Bagian dalam batang yang kaya pati menjadi sumber makanan bagi ulat-ulat tersebut. Ulat sagu sendiri berwarna putih dengan panjang sekitar tiga hingga empat sentimeter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penemuan gerabah di sekitar hutan sagu di Jayapura semakin menguatkan bahwa ulat sagu telah lama dikonsumsi sebagai sumber protein tambahan. Selain berfungsi sebagai makanan pokok, sagu juga secara alami menghasilkan ulat dari batangnya yang membusuk, yang kemudian dimanfaatkan dan dikonsumsi secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.&amp;lt;ref&amp;gt;https://www.tempo.co/sains/ulat-sagu-jadi-kuliner-favorit-sejak-masa-prasejarah-di-papua-671587&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kandungan Nutrisi ==&lt;br /&gt;
Berdasarkan hasil penelitian menggunakan pendekatan analisis kimia yang dilakukan di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua menunjukkan bahwa ulat sagu memiliki kandungan protein dengan kualitas yang cukup baik. Dalam kondisi segar (basah), ulat sagu mengandung air sebesar 67,35%, abu 2,45%, protein 11,47%, dan lemak 18,25%. Temuan ini mengindikasikan bahwa baik dalam keadaan basah maupun setelah dikeringkan pada suhu 70°C, kandungan nutrisi utama yang dominan pada ulat sagu adalah lemak dan protein. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa tingginya kadar lemak pada ulat sagu berkaitan dengan fungsinya sebagai cadangan energi, yang akan digunakan saat ulat memasuki fase pupa (kepompong).&amp;lt;ref&amp;gt;https://mongabay.co.id/2023/12/23/ulat-sagu-kaya-protein-dan-sering-disajikan-dalam-ritual-adat-di-papua/&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut komposisi kandungan nutrisi ulat sagu:&amp;lt;ref&amp;gt;https://wiki.ambisius.com/makanan-khas/sate-ulat-sagu/bahan-dan-cara-pembuatan&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
!Nutrisi&lt;br /&gt;
!Kandungan per 100 gram (Mentah)&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Energi&lt;br /&gt;
|241 Kal&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Protein&lt;br /&gt;
|5,8 gram (25,8 gram berat kering)&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Lemak&lt;br /&gt;
|21,6 gram (17,3 gram lemak sehat)&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Karbohidrat&lt;br /&gt;
|5,8 gram (33,2 gram berat kering)&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Serat&lt;br /&gt;
|2,8 gram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Abu&lt;br /&gt;
|0,9 gram (2,1 gram berat kering)&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Kalsium&lt;br /&gt;
|20 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Fosfor&lt;br /&gt;
|70 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Besi&lt;br /&gt;
|0,5 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Natrium&lt;br /&gt;
|210 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Kalium&lt;br /&gt;
|210,0 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Tembaga&lt;br /&gt;
|1,00 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|&#039;&#039;Zinc&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|7,7 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Thiamin (Vit. B1)&lt;br /&gt;
|0,17 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Riboflavin (Vit. B2)&lt;br /&gt;
|1,45 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Niasin&lt;br /&gt;
|0,1 miligram&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Vitamin E&lt;br /&gt;
|Sejumlah kecil, sebagian besar berbentuk tokoferol&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Asam Amino Esensial&lt;br /&gt;
|Asam aspartat, lisin, tirosin, metionin, dan asam glutamat&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Cara Membuat ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Bahan Sate Ulat Sagu:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Ulat sagu secukupnya&lt;br /&gt;
* Tusuk sate secukupnya&lt;br /&gt;
* Sambal kecap (opsional)&lt;br /&gt;
* Sambal kacang (opsional)&lt;br /&gt;
* [[Acar]] (opsional)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cara Membuat Sate Ulat Sagu:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Siapkan terlebih dahulu tusuk sate atau lidi serta bahan utama, yaitu ulat sagu,     seperti halnya membuat sate pada umumnya.&lt;br /&gt;
# Tusukkan beberapa ulat sagu ke dalam tusuk sate, beri jarak agar tidak terlalu     rapat sehingga dapat matang merata saat dibakar. Setelah itu, panggang di atas bara api hingga matang.&lt;br /&gt;
# Siapkan bumbu pelengkap, seperti sambal kacang atau sambal kecap, serta acar timun sebagai pendamping.&lt;br /&gt;
# Sate ulat sagu siap disajikan dan dinikmati&amp;lt;ref&amp;gt;https://wiki.ambisius.com/makanan-khas/sate-ulat-sagu/bahan-dan-cara-pembuatan&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Referensi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/ulat-sagu/&lt;br /&gt;
* https://www.tempo.co/sains/ulat-sagu-jadi-kuliner-favorit-sejak-masa-prasejarah-di-papua-671587&lt;br /&gt;
* https://mongabay.co.id/2023/12/23/ulat-sagu-kaya-protein-dan-sering-disajikan-dalam-ritual-adat-di-papua/&lt;br /&gt;
* https://wiki.ambisius.com/makanan-khas/sate-ulat-sagu/bahan-dan-cara-pembuatan&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andi.Aura</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sate_Ulat_Sagu.jpg&amp;diff=4390</id>
		<title>Berkas:Sate Ulat Sagu.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://wikipangan.id/index.php?title=Berkas:Sate_Ulat_Sagu.jpg&amp;diff=4390"/>
		<updated>2026-04-17T08:12:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Andi.Aura: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Sate Ulat Sagu&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Andi.Aura</name></author>
	</entry>
</feed>